November 8, 2026

Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi

​Sikap abai Presiden terhadap dinamika pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bukan sekadar bentuk pengabaian politik, melainkan pertaruhan besar bagi legitimasi kekuasaan itu sendiri.

Jika Istana terus menutup mata dan telinga terhadap eskalasi tuntutan publik ini, bukan tidak mungkin kepemimpinan nasional justru terseret, terpental, dan roboh bersama pusaran krisis yang dibangunnya sendiri.

​Ironisnya, setiap kali peringatan ini disuarakan, benteng pertahanan Istana selalu berlindung di balik dalil formalitas konstitusional. Konstitusi dipahami secara sempit sebagai teks mati, sekadar instrumen legalistik untuk meredam kritik, sementara denyut nadi dan rasa keadilan di tengah masyarakat luas sengaja dimatikan dari ruang pertimbangan.

​Pendekatan legal-formal tanpa kepekaan sosial adalah resep klasik menuju delegitimasi. Konstitusi dirancang bukan untuk melindungi kekuasaan dari kritik rakyat, melainkan untuk menjaga keselamatan republik.

Ketika jurang antara hukum formal dan nurani publik semakin lebar, Istana sedang mempertaruhkan stabilitas nasional demi mempertahankan sekadar perisai prosedural.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca