November 8, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi

​Keraguan Presiden Prabowo Subianto dalam menyikapi dinamika parlemen terkait isu konstitusional—khususnya polemik seputar Gibran—bukan sekadar persoalan taktik politik, melainkan ujian berat bagi legitimasi kekuasaannya.

Jika publik mempersepsikan Istana menghambat proses legislatif di DPR demi menjaga koalisi, Prabowo tengah mempertaruhkan kredibilitasnya sendiri.

​Risiko terbesar dari sikap gamang ini adalah penguatan narasi bahwa ia masih berada di bawah bayang-bayang pengaruh politik keluarga Joko Widodo. Persepsi publik semacam ini secara langsung menggerus citra kemandirian kepemimpinan yang selama ini dibangun.

Di tengah tingkat kepercayaan publik yang fluktuatif, lambatnya respons pemerintah terhadap tuntutan akuntabilitas akan mempercepat erosi legitimasi.

​Secara kalkulasi jangka panjang, pilihan untuk memprioritaskan stabilitas koalisi di atas penegakan konstitusi adalah sebuah pertaruhan elektoral yang mahal hingga tahun 2029.

Dominasi partai pendukung pemerintah di parlemen memang memegang kendali atas jalan atau tidaknya mekanisme pemakzulan, namun kunci utamanya berada di tangan Istana.

​Pada akhirnya, peringatan bahwa keraguan Prabowo dapat menjadi “petaka” adalah sebuah keniscayaan politik. Konsistensi dalam menegakkan konstitusi dan melepaskan diri dari utang politik masa lalu adalah harga mati jika ia tidak ingin kepemimpinannya tersandera oleh kompromi semu.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca