November 8, 2026
Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain dengan gagah berani berderap terdepan memimpin pasukan – ilustrasi oleh Gemini

Kepada Yth.
Habib Salim Segaf Al-Jufri
Habib Aboe Bakar Al-Habsyi

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Dengan segala hormat, kecintaan, dan harapan akan tegaknya kebenaran karena Allah SWT.

Wahai para Habaib yang kami hormati,

Izinkan saya menyampaikan sepucuk surat pribadi, bukan untuk menggurui, apalagi merendahkan kemuliaan nasab dan kedudukan yang Habib sekalian miliki. Surat ini lahir dari kegelisahan seorang Muslim yang berharap agar amanah, ilmu, kedudukan, dan pengaruh politik senantiasa berada di bawah tuntunan iman, keadilan, serta keberanian membela kebenaran.

Habib Salim dan Habib Aboe Bakar yang saya hormati,

Di dalam sejarah Islam, kita mengenal keberanian Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain, cucunda tercinta Rasulullah SAW, yang berasal dari keluarga Sayyidah Fatimah az-Zahra. Sejarah mereka mengajarkan bahwa kedekatan dengan Rasulullah bukan sekadar kehormatan nasab, melainkan juga pengingat akan beratnya tanggungjawab moral dalam menghadapi penyimpangan kekuasaan.

Tragedi Karbala menjadi salah satu pengingat paling menyayat hati bahwa kekuasaan dapat berubah menjadi ujian besar ketika kesetiaan kepada penguasa ditempatkan di atas kebenaran, dan ketika kepentingan politik mengalahkan keadilan serta nilai-nilai agama.

Karena itu, izinkan saya mengajukan sebuah pertanyaan yang kiranya patut kita renungkan bersama:

Apakah kita telah sungguh-sungguh mewarisi semangat perjuangan keluarga Rasulullah, ataukah kita hanya bangga menyebut kemuliaan mereka tanpa keberanian meneladani keteguhan prinsipnya?

Wahai para Habib,

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 135:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu.”

Ayat ini tidak memberi ruang bagi kita untuk memilih keadilan hanya ketika menguntungkan kelompok sendiri. Keadilan harus ditegakkan sekalipun berhadapan dengan sahabat, sekutu politik, pemimpin yang pernah berjasa, ataupun pihak yang memiliki kekuatan besar.

Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 8:

“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

Maka, apabila terdapat persoalan kenegaraan yang menyangkut kebenaran, integritas jabatan, dan pertanggungjawaban seorang pemimpin, bukankah menjadi kewajiban moral bagi setiap pemegang amanah untuk memastikan bahwa persoalan itu diperiksa secara jujur, terbuka, dan berdasarkan hukum?

Saya berharap Habib berdua tidak membiarkan pertimbangan koalisi, kalkulasi elektoral, kenyamanan jabatan, atau kekhawatiran kehilangan pengaruh mengaburkan kewajiban menegakkan keadilan. Kekuasaan politik bukanlah tujuan akhir perjuangan. Ia hanyalah sarana yang sewaktu-waktu dapat dicabut, sedangkan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT tidak dapat dihindari.

Tentang jihad dan kewajiban membela kebenaran

Jihad tidak boleh dipersempit menjadi perjuangan fisik semata. Ada perjuangan dengan ilmu, lisan, tulisan, kesaksian yang jujur, keberanian mengoreksi kekuasaan, serta ikhtiar konstitusional untuk menghentikan ketidakadilan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dengan sejumlah riwayat dan penilaian hadis.)

Hadis ini semestinya menjadi pengingat bagi setiap orang yang memiliki ilmu, kedudukan, dan akses kepada pusat kekuasaan. Ketika kebenaran membutuhkan suara, diam bukan selalu kebijaksanaan. Terkadang, diam justru dapat berubah menjadi pembiaran.

Memang, tidak setiap persoalan politik otomatis menjadi kewajiban fardu ain dalam pengertian fikih. Namun, ketika seseorang menghadapi kemungkaran yang menjadi tanggung jawabnya, dan tidak ada pihak lain yang mampu menunaikan kewajiban tersebut secara memadai, tanggung jawab pribadi untuk bertindak dapat menjadi semakin nyata sesuai keadaan dan ketentuan syariat.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ’Imran ayat 104 agar ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.

Menegakkan yang haq harus dilakukan dengan keberanian dan keteguhan. Menghentikan kebatilan harus ditempuh melalui cara yang dibenarkan agama dan hukum, bukan dengan kezaliman baru, fitnah, atau tindakan melampaui batas.

Karena itu, janganlah setiap keraguan disebut kehati-hatian, setiap penghindaran disebut strategi, dan setiap kompromi disebut kebijaksanaan. Periksalah dengan jujur apakah semua pertimbangan itu benar-benar lahir dari kemaslahatan umat, atau justru dari ketakutan kehilangan kedudukan dan kepentingan pribadi.

Tentang amanah kepemimpinan dan kefanaan kekuasaan

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim.)

Kedudukan sebagai pimpinan partai, anggota parlemen, ataupun tokoh yang didengar umat bukanlah sekadar kehormatan. Semuanya adalah amanah yang kelak dipertanyakan: apakah digunakan untuk melindungi kepentingan rakyat, atau justru untuk menjaga kenyamanan kekuasaan?

Allah SWT mengingatkan dalam QS. Al-Hadid ayat 20 bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, serta ajang bermegah-megahan dan berlomba dalam kekayaan serta keturunan.

Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Pengaruh politik akan berpindah tangan. Bahkan orang-orang yang hari ini mengelilingi kita demi kepentingan akan mempunyai jalan hidupnya masing-masing ketika kekuasaan telah lenyap.

Yang tersisa adalah amal, kejujuran, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Maka, apakah layak mempertaruhkan kehormatan dan ketenangan hati demi mempertahankan suatu posisi yang hanya dipinjamkan untuk sementara?

Tentang keberanian menghadapi penyimpangan kekuasaan

Habib berdua tentu memahami bahwa sejarah tidak selalu mencatat mereka yang paling lama bertahan dalam kekuasaan sebagai pihak yang paling benar. Sejarah justru kerap mengenang mereka yang tetap teguh ketika kebenaran menuntut pengorbanan.

Dalam konteks politik Indonesia hari ini, termasuk berbagai kontroversi dan tuntutan publik yang berkaitan dengan pemerintahan Jokowi serta posisi Gibran, saya berharap Habib berdua berkenan menilai setiap persoalan secara objektif, berdasarkan bukti, konstitusi, dan prinsip keadilan.

Bila ada dugaan penyimpangan, hendaknya diperiksa. Bila ada fakta yang menuntut pertanggungjawaban, hendaknya ditindaklanjuti melalui mekanisme yang sah. Bila ada keputusan atau proses konstitusional yang menuntut respons lembaga negara, hendaknya respons itu diberikan dengan sungguh-sungguh, bukan dihindari demi kenyamanan politik.

Saya tidak bermaksud menyamakan begitu saja keadaan politik Indonesia dengan tragedi Karbala. Namun, pelajaran moralnya tetap relevan: jangan sampai loyalitas kepada kekuasaan mengalahkan loyalitas kepada kebenaran.

Dan bila pada akhirnya Habib berdua harus memilih antara mempertahankan kenyamanan politik dan memperjuangkan prinsip yang diyakini benar, semoga Allah memberikan keberanian untuk memilih jalan yang paling dekat dengan keadilan.

Saya juga berharap Habib berdua tidak berlindung di balik dalih-dalih yang disusun untuk membenarkan sikap yang sesungguhnya lahir dari ketakutan. Kebijaksanaan memang membutuhkan pertimbangan, tetapi pertimbangan tidak boleh menjadi selimut bagi pengingkaran amanah.

Keberanian tidak berarti bertindak gegabah. Keberanian berarti tetap menunaikan kewajiban meskipun ada risiko pribadi, selama tindakan itu benar, proporsional, dan sesuai syariat serta hukum.

Wahai para Habaib yang saya hormati,

Di dalam diri Habib berdua terdapat kedudukan, ilmu, dan pengaruh yang dapat digunakan untuk memberi teladan kepada umat.

Sementara itu, nama Sayyidina Hasan, Sayyidina Husain, dan Sayyidah Fatimah az-Zahra mengingatkan kita akan warisan moral keluarga Rasulullah: kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya harus tercermin dalam akhlak, kejujuran, serta keteguhan membela kebenaran.

Jangan biarkan kemuliaan nasab hanya menjadi kebanggaan yang diwariskan melalui nama. Jadikanlah ia dorongan untuk memperberat tanggung jawab terhadap diri sendiri, umat, dan bangsa.

Saya tidak meminta Habib berdua membenci seseorang, memusuhi kelompok tertentu, atau menjatuhkan siapa pun tanpa dasar. Saya hanya berharap agar tidak ada seorang pun yang ditempatkan di atas hukum, tidak ada kepentingan politik yang mengalahkan keadilan, dan tidak ada amanah yang ditinggalkan hanya karena perjuangannya terasa berisiko.

Semoga Habib berdua berani berdiri di pihak yang benar sekalipun harus berjalan tanpa banyak teman, dan tetap rendah hati ketika berada di pihak yang memperoleh dukungan banyak orang.

Sebab, pada akhirnya, bukan berapa lama seseorang duduk dalam kekuasaan yang menentukan kemuliaannya, melainkan bagaimana ia menggunakan kekuasaan itu ketika kesempatan masih berada di tangannya.

Semoga Allah SWT memberikan kepada Habib Salim Segaf Al-Jufri dan Habib Aboe Bakar Al-Habsyi kejernihan hati, keteguhan iman, keberanian moral, serta petunjuk untuk menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya.

Semoga Allah menjauhkan kita semua dari sifat pengecut dalam menghadapi ketidakadilan, dari kesombongan ketika memperoleh kekuasaan, dan dari penyesalan ketika kesempatan membela kebenaran telah berlalu.

Kebenaran tidak menjadi salah hanya karena diperjuangkan oleh sedikit orang. Dan kebatilan tidak menjadi benar hanya karena dilindungi oleh kekuasaan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dengan hormat dan harapan akan tegaknya keadilan,

Seorang Muslim yang merindukan keberanian membela kebenaran dan amanah kepemimpinan yang diridhai Allah SWT.

Beijing, 14 Oktober 2026.
Alfakir, Syarifah Nazlirah binti Farouk bin Faisol bin Husin bin Abdullah AlHabsyi.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca