Oktober 9, 2026

Muhammad Said Didu:

“Saya saksi hidup saat Dokter Tifa berada di ruang tahanan Polda Metro Jaya dan mau dibawa ke Rumah sakit Polri Kramat Jati, hampir semua yang hadir menyarankan untuk tidak memakai banyu oranye tersebut, tapi beliau tegas menyatakan saya akan pake untuk menunjukkan ke dunia “kebiadaban” yang terjadi. Saat itu saya terdiam dan sangat memaklumi dan mengagumi pilihan beliau dan saya menjadi merasa kecil di hadapan beliau.
Kami bangga padamu Bu Dokter.”

Melalui akun X pribadinya, dokter Tifa menuturkan baju orange sebagai baju zirah yang membungkus perjuangannya. Berikut penuturan Doktif:

Aku sudah pernah berbaju orange

Aku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini.

Memakai baju orange, berdiri di tengah kerumunan, dilihat banyak mata, seolah hidupku diringkas menjadi satu warna. Tapi kalau mereka mau tahu, ini bukan awal dari ceritaku. Ini hanya satu potongan kecil dari jalan panjang yang sudah kupilih, sadar atau tidak.

Baju orange ini,
Yang sering diteriakkan buzzer dan termul untuk menghinaku
Ketika dia ku sandang di tubuhku, justru
Seperti baju zirah yang membungkus perjuanganku.

Baju orange ini, di tubuhku adalah tanda perlawanan terhadap kebohongan, kepalsuan, kezaliman.
Tanda bahwa aku terus berdiri tegak dan senyuman karena aku tahu nilai apa yang terkepal di tanganku.

Aku hanya berjalan dengan apa yang kupercaya. Kadang langkahku pelan, kadang aku ragu, tapi aku tidak pernah benar-benar berhenti.

Aku tahu, apa yang kusuarakan tidak selalu nyaman untuk didengar. Bahkan mungkin membuat sebagian orang terusik. Tapi bagaimana aku bisa diam, kalau hatiku sendiri tidak bisa diajak kompromi⁉️

Di balik senyum ini, ada banyak hal yang tidak terlihat. Ada lelah, ada takut, ada pertanyaan yang tidak selalu punya jawaban. Tapi ada satu hal yang selalu kutahan kuat-kuat: aku tidak mau kehilangan diriku dan menggadaikannya demi kenyamananku.

Hari itu, melihat aku berbaju orange, mungkin banyak orang iba padaku, menangisiku.
Tapi di dalam diriku, muncul bara api membara seterang baju ini.
Yang membuatku tetap utuh dalam langkahku dan berkata:

“Kalau ini memang harus aku jalani, ya sudah… aku jalani.”

Bukan untuk membuktikan apa-apa ke dunia. Tapi supaya nanti, saat aku melihat ke belakang, aku tahu, aku tidak pernah mengkhianati kebenaran yang kuyakini.

Catatan Doktif


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca