
Sisampaikan Oleh : Sutoyo Abadi
Ada rasa senyap yang kian menyesakkan di ruang-ruang publik hari ini. Bukan senyap karena kedamaian, melainkan senyapnya ketidakberdayaan. Di tengah himpitan hidup yang kian berat, rakyat kecil seolah berjalan sendirian di lorong gelap tanpa ujung. Harga-harga kebutuhan pokok melambung, lapangan pekerjaan kian menyempit, sementara jaring pengaman sosial terasa begitu rapuh.
Namun, yang lebih melukai perasaan bukan sekadar kesulitan ekonomi itu sendiri, melainkan dinding tebal ketulian yang ditunjukkan oleh mereka yang memegang kendali kekuasan. Jangankan bisa merasuki denyut nadi penderitaan rakyat, para penguasa justru kerap tampak asyik masyuk di menara gading kekuasaan.
Kebijakan-kebijakan lahir bukan dari rahim kebutuhan rakyat, melainkan dari meja kompromi elite yang sibuk mengamankan singgasana dan kepentingan kelompoknya sendiri. Kursi jabatan diperlakukan sebagai piala untuk dirayakan, sementara mandat rakyat dikerdilkan menjadi sekadar alat pencitraan musiman.
Ketika rakyat berdarah-darah mempertahankan asa hidup harian, penguasa sibuk mempercantik citra diri dan memperkaya relasi kuasa. Kita menyaksikan bagaimana mereka yang termarjinalkan kian tersingkir ke pinggiran kota, sementara hak-hak dasar mereka direnggut oleh kebijakan yang dingin dan tanpa empati.
Kemarahan yang terpendam hari ini bukanlah bentuk kebencian tanpa alasan, melainkan akumulasi dari rasa muak melihat ketimpangan yang mencolok, mata yang ditutup rapat-rapat dari tangis kesusahan, dan telinga yang disumbat dari jeritan di akar rumput.
Kekuasaan sejati bukanlah tentang seberapa tinggi posisi yang diduduki, melainkan seberapa dalam dampak nyata yang dihadirkan untuk memeluk mereka yang terluka. Negeri ini tidak butuh pemimpin yang mahir bersilat lidah, piawai beretorika di balik panggung megah, namun buta dan tuli pada nasib orang kecil.
Sudah saatnya orientasi kepemimpinan dikembalikan ke akarnya yang murni. Jangan menjadi pemimpin yang hanya mengejar kepentingan pribadi dan melanggengkan dinasti kekuasaan.
Seorang pemimpin yang sejati diuji bukan dari seberapa besar kekayaan atau sanjungan yang ia kumpulkan, melainkan dari keberaniannya untuk turun ke bawah, menatap mata mereka yang tertindas, dan berkata: “Aku ada di sini untuk mendengar kalian.”
Empati saja tidak pernah cukup. Rasa iba tanpa tindakan nyata adalah bentuk pengkhianatan yang dibungkus manis. Suara rakyat yang tertindas menuntut lebih dari sekadar janji-janji kosong saat kampanye tiba.
Rakyat membutuhkan pemimpin yang membuktikan komitmennya melalui tindakan nyata dan kebijakan yang berpihak. Kebijakan yang tidak memiskinkan rakyat demi kepentingan oligarki, tetapi kebijakan yang membuka ruang hidup bagi pedagang kecil, buruh, petani, nelayan, serta setiap warga negara yang merasa terpinggirkan di rumahnya sendiri.
Apabila kekuasaan gagal menjadi pelindung bagi yang lemah, maka kekuasaan itu telah kehilangan legitimasi moralnya. Sudah saatnya penguasa tersadar, kursi yang diduduki hari ini adalah amanah titipan rakyat. Dan sejarah selalu mencatat dengan adil, siapa pemimpin yang membela rakyatnya, dan siapa yang menginjak-injak mereka demi kepentingan diri sendiri.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.