
Disampaikan Oleh : M Rizal Fadillah
Masalah bangsa saat ini menuntut para pemimpin segera turun, saat ini juga. Jangan hanya tunggu perubahan politik reguler pemilu 2029. Andaipun hendak memetik nanti, maka menanamlah kini. Rakyat sedang gelisah, resah, dan didera banyak masalah. Para purnawirawan sudah banyak yang turun menyampaikan suara kebenaran dan keadilan. Risiko tentu sudah dihitung dan siap ditanggung. Akademisi mulai bergerak meski masih belum maju terlalu jauh.
Politisi adalah harapan untuk berada di depan, karena situasi politik kini memang sangat mengkhawatirkan. Bacaan tiga polar kompetisi Pilpres yang lalu menggambarkan peta kemapanan, pasrah, dan melawan. polarisasi ini dikarenakan pihak pemenang sesungguhnya adalah pecundang. Prabowo Gibran menang curang. Ganjar belum muncul sebagai oposan, demikian juga dengan Anies Baswedan. Keduanya sebenarnya figur yang diharapkan.
Prabowo Gibran meski membangun nuansa serba gemuk tapi realitanya kerempeng dan lapar. MBG, Kopdes, minyak, nikel, dimakan habis dengan rakus. Apalagi sampai tega menbakar hutan demi bisnis sawit. Korupsi, kolusi, dan nepotisme merajalela kembali. Produk kecurangan adalah keserakahan. Gibran digugat, sementara Prabowo disimpang jalan. Prabowo bukan sosialis tetapi borjuis antek kapitalis. Jauh dari agamis dekat dengan sekularis.
Potensi pemenang Pilpres adalah pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar. Pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD meski kalah tetapi tidak jomplang. Yang pasti adalah Jokowi licik merekayasa Prabowo-Gibran untuk menang. Semua tahu hal itu tetapi tidak berdaya. Kekuasaan terbukti mampu melakukan tipu daya.
Lucunya Prabowo-Gibran merasa kemenangannya murni didukung oleh rakyat. Perasaan itu jelas tidak tahu diri, tahunya duduk.
Benar saja, setelah dua tahun menjabat keduanya memang tidak becus. Prabowo gede omong, Gibran tak bisa ngomong. Prabowo merasa gede, Gibran memang budak kecil. Sejuta masalah melekat sehingga hampir semua unsur untuk pemakzulan menurut konstitusi dapat terpenuhi baik pengkhianatan negara, korupsi, suap, perbuatan tercela maupun tidak lagi menenuhi syarat sebagai Presiden/Wakil Presiden.
Mahasiswa berbagai Perguruan Tinggi dalam Aksi 28 Oktober 2026 di Bunderan HI membentangkan spanduk “Prabowo Gibran Gagal Total, Kami Muak 2 Tahun Cukup 5 Tahun Mematikan”.
Para pemimpin kritis berteriak, begitu juga dengan aktivis dan mahasiswa. Sayang suara Anies Baswedan, juga Ganjar belum nyaring terdengar. Tidak ada maklumat, resolusi, opsi-opsi, apalagi aksi yang berspirit perlawanan muncul dari para mantan Capres ini. Dulu rakyat merasa ditinggalkan oleh Prabowo yang mengekor Jokowi, kini pendukung Anies maupun Ganjar merasa kehilangan pemimpin harapannya.
Rakyat tidak merasa digerakkan apalagi dikomando. Zona aman nampaknya menjadi pilihan. Mungkin menunggu saja di ujung jalan dua ribu dua puluh sembilan.
Ayo Pak Anies dan Mas Ganjar segera muncul, bangun, dan bergerak bersama rakyat yang kini semakin terdesak. Berjuang keras bahu membahu menegakkan keadilan dan melawan kezaliman. Satukan nafas dengan nafas penderitaan rakyat.
Pak Anies dan Mas Ganjar meniliki modal sosial dan politik untuk mampu memimpin bangsa saat ini dan ke depan. Jangan sia-siakan kepercayaan.
Saatnya untuk berbuat, bukan menunggu.Takdir esok pasti datang, takdir kini jangan lari kemana-mana. Kita hanya berupaya, Tuhan Yang Maha Kuasa adalah penentu segala. Berupayalah sekarang, Tuhan akan memberi esok. Apakah kebahagiaan, kemenangan, kekayaan, kekuasaan, maupun kejayaan. Semua dalam ridlo, keberkahan, dan perlindungan-Nya. Insya Allah.
–Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.