November 8, 2026


Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi

​Wacana pemakzulan Gibran Rakabuming Raka dari kursi wakil presiden kembali menegaskan pola klasik dinamika politik nasional, riuh sesaat di media sosial, meledak menjadi perdebatan hangat, lalu menguap begitu saja tanpa ada muara penyelesaian.

Tuntutan publik yang semula tampak bergelombang kerap berakhir sebagai artikulasi emosi yang melelahkan—sebuah pergerakan yang cepat memuncak, namun rapuh dan tak bertahan lama.

​Dinamika ini mencerminkan fenomena politik reaktif yang sarat masalah intuitif. Gerakan rakyat yang mudah melesat naik, justru sama cepatnya tumbang dan lenyap ketika perhatian publik perlahan teralihkan oleh isu baru.

​Dampak terbesarnya sangat fatal. Ketika riak perhatian publik mereda, tak ada mekanisme evaluasi mendasar yang terbangun, tak ada tuntutan akuntabilitas yang terukur, dan tak ada tekanan politik yang konsisten untuk memaksa lembaga berwenang bertindak.

​Di titik inilah pemegang kekuasaan berada di atas angin. Mereka tak perlu repot merancang pertahanan politik yang rumit. Strategi yang dibutuhkan amat sederhana dan teruji: cukup mengulur waktu hingga isu mereda, menguap, tenggelam dan terlupakan dengan sendirinya.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca