
Disampaikan Oleh : M Rizal Fadillah
Terkutuk itu maknanya dibenci, dimaki, dan tidak disukai akibat perilaku yang tidak baik. Durhaka, dusta, khianat, rampok, zalim, korup adalah perilaku yang tertkutuk. Dikutuk oleh manusia dan juga oleh Tuhan. Durhaka kepada orang tua itu terkutuk dan durhaka kepada rakyat atau masyarakat lebih terkutuk lagi. Bagi orang yang bergaul di dunia mistik akan meyakini kutukan siluman dan sejenisnya. Perbuatan jahat berakibat balas kejahatan.
Di masa Nabi Musa, karena perilaku zalim dan otoriter mengakibatkan Fir’aun menjadi manusia terkutuk Begitu juga dengan Namrud, Abu Jahal, Abu Lahab serta banyak figur yang berperilaku buruk, hina, atau menindas menyebabkan masyarakakat mengutuknya. Caligula, Nero, Hitler, Vlad Drakula, hingga Kemal Attaturk.
DN Aidit karena penculikan, pembunuhan, dan pengkhianatan juga masuk dalam tokoh kutukan bangsa.
Di masa kini Trump dan Netanyahu tampil sebagai penjahat kelas dunia. Kontroversi dan obyek maki-maki mendera keduanya. Perilaku tidak adil atau zalim membuat Trump dan Netanyahu banyak dikutuk. Omongannya bagai ular berbisa, tidak bisa dipercaya dan berbahaya. Divide et impera dijalankan demi kekuasaan yang mengacak-acak dunia. Trump adalah Netanyahu besar, Netanyahu itu Trump kecil. Dua-duanya terkutuk.
Sebagai pelanjut kutukan kepada Aidit, Jokowi muncul dan melejit. Walikota, Gubernur, dan Presiden telah dijabatnya. Pembohong, penipu, pembununuh, pembantai, pemalsu dan perampok disandangnya. Wajah memelas dan tampilan sederhana manipulasi citra untuk menarik simpati. Kekuasaan ingin dipegang abadi meski telah dibatasi oleh konstitusi. Ia bangun politik dinasti di negeri demokrasi. Akhirnya ia pun dimaki dan menjadi tokoh yang terkutuk.
Gibran digendong Jokowi untuk ditempatkan di atas singgasana kedua menuju puncak nanti. Jokowi mengendarai partai calon dinasti lanjutan Kaesang. Ia mengawal dan terus mencari celah. Raja badut ini sangat berharap pada Gibran yang terdekat. Gibran ternyata sejak duduk hingga kini menjadi makian publik. Terus bereskalasi akibat kekacauan ijazahnya diputus oleh hukum. Terkutuklah Gibran.
Dua nama kini disebut dalam satu hembusan nafas Jokowi dan Gibran. Rakyat mengutuk keduanya agar segera enyah dari panggung kepempimpinan bangsa. Minta agar dosanya dibalas dengan sanksi penjara. Tidak ada tempat bagi dinasti di negara demokrasi. Besok tidak boleh ada Jokowi Jokowi dan Gibran Gibran lagi.
Dua manusia itu menjadi catatan buruk dalam sejarah bangsa dan negara.
Indonesia harus konsisten menjadi negara bermoral. Ideologi adalah pilar moral luhur kehidupan seluruh warga negara. Tidak terkecuali para penyelenggara negara. Basmi kebohongan, kemunafikan, korupsi, kezaliman, kebodohan, dan keserakahan.
Ganyang Jokowi dan Gibran.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.