November 8, 2026

Disampaikan Oleh : Bambang Oeban

Di depan makam
Perintis Kemerdekan,
di TPU Tanah Kusir,
di lokasi spesifik Unit Islam,
Blok AA I, Blad 40,
Petak 450,
aku membayangkan
wajah pejuang di masa lalu,
membisu, menunduk,
air mata seribu pilu
membasahi wajahnya
lesu di sudut peradaban
dibiarkan tenggelam
di antara zaman
kemajuan!

Jasadnya
hanyalah tanah,
tapi jasanya tetap hidup
tak pernah terkubur.
Pejuang itu menyaksikan
sejarah bergulir hari ini,
dibalik peringatan akbar
hanya mengelus dada
sambil berightifar.

SERATUS TAHUN!
Seratus tahun
Bulan Bahasa
dan Sastra,
1926—2026,
seratus tahun
sebuah gagasan
kebanggaan
bangsa dan
negara!

Bahasa Indonesia
Bermartabat,
Indonesia Berdaulat!

Sebuah tema
yang dianggap agung,
momentum gemilang,
perayaan yang layak
dikenang!

Kepada
segenap bangsa,
izinkan aku bertanya,
dalam suara santun,
meski hati bergetar,
nurani tak ingin
ingkar:

Di tengah
gegap gempita
perayaan bahasa,
di manakah nama
M. Tabrani?

Siapa penggagas
Bahasa Indonesia?
Siapa sang pemberani
menyalakan api ambisi
ketika bangsa ini masih
terbelenggu, tertidas
penjajahan?

Bukankah
Muhammad Tabrani
salah satu tokoh penting
yang memperjuangkan
Bahasa Indonesia
dalam Kongres Pemuda
Pertama, tahun 1926?

Ketika gagasan
belum terwujud nyata,
ketika cita-cita besar
belum jadi kebanggaan,
Tabrani telah meletakkan
batu pertama atas nama
BAHASA PERSATUAN!

Lalu,
aku melihat hari ini,
ketika kita merayakan
seratus tahun perjalanan
sejarah bahasa Indonesia,
mengapa nama penggagas
malah seakan tenggelam
di balik panggung
perayaan?

Sungguh, aku …
tak menolak perayaan,
tak mengecilkan karya sastra,
tak ragu kemuliaan usaha
membangun martabat
bahasa bangsa.

Namun,
bukankah penghormatan
terhadap bahasa semestinya
berjalan seirama bersama
siapa perjuangnya?

Bukankah kebesaran
sebuah bangsa tidak hanya
diukur dari meriahnya acara,
melainkan dari kesediaan
merawat ingatan terhadap
jasa para pendahulu?

Bahasa Indonesia
boleh kita agungkan,
sastra boleh digemakan,
tetapi jangan biarkan
sejarah kehilangan
nama yang patut
dikenang!

Sepuluh Oktober,
Seribu Sembilan Ratus Empat,
Muhammad Tabrani dilahirkan.

Sepuluh Oktober 2026,
genap seratus dua puluh dua
tahun usianya jika dihitung
dari tanggal kelahiran.

Namun, di TPU Tanah Kusir,
di antara nisan dan kesunyian,
di mana suara penghormatan?
Di manakah karangan bunga
dari mereka yang mengusung
nama Bahasa Indonesia?
Di manakah doa, ziarah,
penghormatan bagi
pejuang bahasa?

Mungkin kalender
telah mencatat tanggal,
pidato menyebut martabat.
panggung telah menyala
cahaya gemilang.

Tetapi
sejarah bertanya:
Sudahkah kita memberi
tempat kepada pejuang
yang berjasa dalam
perjalanan sejarah
bahasa bangsa?

Wahai para
pemangku kebijakan,
insan pendidikan,
sastrawan, budayawan,
yang merasa sebagai
sahabat Bahasa
Indonesia!

Mari kita
luruskan ingatan,
tanpa amarah,
prasangka, melainkan
dengan keberanian untuk
menghadirkan sejarah
secara utuh.

Utamakan
Bahasa Indonesia!
Lestarikan bahasa daerah!
Kuasai bahasa asing!
Trigatra Bangun Bahasa,
sebuah jalan menuju
bangsa bermartabat.
Namun, ada satu tugas
pantang diabaikan:

Lestarikan pula ingatan
kepada pejuang bahasa!

Lantaran,
bahasa tanpa sejarah
kehilangan jiwa.
Perayaan tanpa disertai
penghormatan adalah
kehilangan makna,
kesia-siaan.

Dan bangsa
yang melupakan jasa
pendahulunya sedang
membiarkan cermin
dirinya berdebu.

Muhammad Tabrani,
namamu bukan sekadar
catatan masa lalu.
Namamu pengingat
bahwa kemerdekaan bahasa
lahir dari keberanian berpikir,
keteguhan memperjuangkan
gagasan, dan keyakinan
bahwa bangsa ini berhak
memiliki jati diri sendiri.

Seratus tahun
Bulan Bahasa dan
Sastra!

Mari kita rayakan
dengan bangga, tetapi
jangan hanya sekadar
merayakan kata.

Mari kita muliakan
Bahasa Indonesia,
seraya memuliakan
manusia yang turut
memperjuangkan
kelahirannya.

Jangan biarkan
Muhammad Tabrani
hanya dikenal oleh
batu nisannya!

Hadirkan namanya
dalam buku pelajaran,
dalam ruang pendidikan,
dalam forum kebudayaan,
dalam peringatan nasional
yang bermartabat dan
berkesinambungan.

Sebab bangsa yang besar
bukan yang tak pernah lupa,
melainkan bangsa yang
berani mengakui,
menghormati,
dan merawat jasa
para pendahulunya.

Bahasa Indonesia
bermartabat! Indonesia
berdaulat!

Dan penghormatan
kepada Muhammad Tabrani
adalah bagian dari ikhtiar
agar bahasa, sejarah,
dan satuvkebangsaan
tetap berpijak pada
kebenaran.

MERDEKA BAHASANYA!
BERDAULAT BANGSANYA!
JANGAN PERNAH LUPA
SIAPA PERINTISNYA!

TPU Tanah Kusir
Sabtu, 10 Oktober 2026
10.00

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca