Oktober 9, 2026
Hutang Keadilan

Atas Apa Aku Dibunuh⁉️

Andaikan satu saat gue di jalan tol JAPEK sekitaran KM 50, lalu ada pengendara lain yang mengganggu jalan gue di tol. Gue amati ia berpakaian biasa, kendaraannya pun biasa, sama-sama pengguna tol kek gue, Gue pun terganggu, gue klakson, melindungi jalur jalan yang memang hak gue. Ternyata kendaraan tadi polisi yang menyamar, trus gue dianggap menghalangi tugas polisi.

Lalu apakah itu jadi alasan untuk memberondong gue dengan peluru tajam? Apakah itu membolehkan polisi untuk membunuh dan membantai gue dengan sadis?

Gue jadi ingat, pernah terjadi, ada yang ditilang, lalu mencoba ber-argumen dengan polisi, itupun dianggap melawan, menyerang polisi. Yang punya kuasa mah bebas, seterah gue, sukak-sukak gue.

Kembali lagi ke jalan tol. Anggap aja gue memang temperamen, senggol-bacok. Tapi pembantaian 6 orang itu kan nggak mudah, artinya senjata dan penyerbuan memang sudah disiapkan.

Menilik lagi masa lalu, sejak ada konferensi pers dari tentara dan polisi, kehebohan sudah dipertunjukkan, menurunkan spanduk dengan pasukan khusus dan senjata serbu lengkap. Seolah negara ada pada level ancaman paling tinggi, melebihi ukuran apapun yang pernah ada. Melebihi ancaman daerah-daerah yang mau memerdekakan dirinya sendiri, gue memang membawa senjata, katakanlah gue memang sebodoh dan segoblok itu. Lalu apakah itu jadi alasan untuk menumpahkan darah gue? Haruskah gue dibunuh?

Jujur saja readers, kejadian ini sangat mengusik, karena siapapun yang sudah dilabeli musuh negara, maka langsung diputuskan nasibnya. Tak ada lagi pengadilan, pembuktian. Hukum tiada. Sejarah sudah menunjukkan, power tends to corrupt, absolute power absolute corrupt.

Kekuasaan yang mutlak itu pasti akan disalahgunakan. Dan sepertinya polisi sekarang mutlak kuasanya. Apapun bisa diatur, semuanya sudah dimiliki. Jangankan yang ada, yang tidak ada juga bisa direkayasa. Dan ini bukan pertamakalinya, itu semua sudah dilakukan dan itu semua biasa. Bagi orang biasa kek gue, menilai ini semua menjadi mudah. Satu pihak inginkan kebaikan dengan Islam, pihak lain ingin melindungi kekuasaan dan pendapatannya.

Atas apa aku di bunuh?

Oleh: Ust. Felix Siauw

Editor : Bam’s


Baca juga : “Anies Menerima Buku TRILOGI MENGETUK PINTU LANGIT”

Baca juga : “Melihat Kegelapan, Mendengar Kesunyian”


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

1 thought on “Mengenang Tragedi KM 50”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca