
Hidup adalah rangkaian gerbong waktu yang terus berjalan,
Ada yang setia menunggui akhir dari sebuah perjalanan.
Ada pula yang bergegas, agar segera usai agar bisa melintasi rel berikutnya.
Pun ada yang menikmati gerbong-gerbong waktu berjalan melintasi kodratnya,
Menangkap bising sebagai nada, lalu mensyukurinya.
Gerbong waktu terus berjalan meski sarat beban.
Bersabarlah,
Akan tiba gerbong waktuku di ujung lintasan.
Berhenti pada derit akhir nada kehidupan.
Lalu diam, menua berkarat, dipinggirkan,
Dan meringkuk di Balai Yasa kenangan,
Atau hilang.
Hidupku adalah gerbong kusam yang berjalan.
Acapkali meninggalkan jejak hitam;
Derit kebisingan,
Polusi sekresi,
Kepul debu mengotori.
Maaf,… laluku memang tak sesuai morfologi keelokan,
Apalagi kesucian.
(Tarumanegara Dalam, 26-08-2023) – Puisi SangLangit
Baca juga cerpen original di sini
Baca juga tulisan kolumnis yang kritis di sini
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.