
Sepenggal Cerita Pilpres 2019
Anies Baswedan : “Matahari yang terang itu, kini mulai meredup terbenam. Teduh, semilir dan tenang untuk membaca dan bersiap. Sebelum esok menyambut hari yang baru dan lebih baik.” (IG Anies Bswedan)
2019 Prabowo Keok, Cara Tuhan Menyelamatkan Indonesia
Jokowi nampaknya terlena betul dengan “keberhasilan” Pilpres 2019, dikiranya suasana psikologis tahun 2019 yang lalu akan sama dengan Pilpres tahun 2024 mendatang, padahal kondisinya berbeda jauh bagai bumi dengan langit.
Tahun 2019, kondisi “ekspresi wajah muram” para ketua umum dan elite partai koalisi Jokowi ketika menyaksikan hasil perhitungan suara bisa di sulap sedemikian rupa dengan mudahnya hingga menjadi “sumringah”, bahkan tanpa protes dan perlawanan sama sekali dari kubu pendukung Prabowo.
Mengapa bisa terjadi demikian?, maaf, dalam analogi sederhana, barangkali bobot kecewa pihak pendukung Prabowo yang menjadi lawan Jokowi ketika itu macam angpao isi seribu perak di ambil Copet.
Kecewa mungkin ada, tapi tak gitu-gitu kali rupanya, “ngapain pulak berantem dengan Copet untuk seribu perak, nggak layak bah..!”, begitulah kira-kira benak pendukung Prabowo di Pilpres 2019 kala itu.
Bisa jadi sikap pendukung Prabowo yang merasa “nothing to lose” saat itu didasari keterkejutan mereka atas sikap emosional Prabowo dalam insiden yang terjadi sepekan sebelum Ijtima’ Ulama tanggal 16 September 2018, ketika Dewan Penasihat Alumni 212 menggelar forum di Hotel Sultan.
Dimana waktu itu para peserta Ijtima Ulama syok menyaksikan Prabowo berbicara kencang, dengan nada suara tinggi. Prabowo memprotes pihak yang meragukan kualitas keislamannya, termasuk ibadah dan kemampuannya mengaji serta menjadi imam salat.
5 Kali Prabowo Meninju Meja
Para tokoh ulama yang hadir terperangah ketika Prabowo berbicara sambil meninju keras meja rapat di depannya sebanyak 5 kali hingga suasana pun menjadi tegang.
Sejak saat itu, spontan kelompok Islam yang 87% seharusnya menjadi penyumbang suara bagi Prabowo, 99%-nya berbalik arah, menyadari bahwa mereka telah keliru dan salah mendukung Prabowo.
Maka, begitu moment peristiwa “ekspresi wajah muram” koalisi Jokowi didepan layar hasil perhitungan suara terjadi, para pendukung Prabowo tak ada yang peduli dan bahkan mungkin bersyukur karena justru merasa Tuhan telah memberi petunjuk dan jalan keluar yang tak disangka-sangka.
Tapi Pilpres 2024 ini situasinya berbeda 180 derajat, lawan “Jokowi Under Cover” yang diperankan Prabowo adalah Anies Baswedan.
Jadi jangan pernah coba-coba membawa skenario “ekspresi wajah muram” 2019 dalam perhitungan hasil suara di Pilpres 2024 esok jika tak ingin rakyat seluruh propinsi serentak melupakan tidur malamnya karena puncak erupsi kemurkaan mereka meledak hebat.
Percayalah, dulu semua lawan Jokowi melengos lantaran yang dibela adalah Prabowo, figur yang sebenarnya tak diinginkan, tokoh yang hanya digemari segelintir pendukung oportunisnya. Tapi sekarang figurnya adalah Anies Baswedan, dimana tak sejengkal pun pendukungnya akan mundur jika hasil perhitungan suara “diatur-atur”.
Harus diingat, Anies Baswedan ini belum pernah menjadi musuh aktifis, tak seujung kuku pun punya riwayat melanggar HAM, tak punya histori melukai hati rakyat Boyolali meski sebatas lewat narasi, bahkan pada mereka yang membenci.
Mencurangi Pemilu adalah Mencurangi Rakyat
Anies sosok yang bukan lawan bagi siapapun, melainkan keinginan dari siapapun yang menghendaki negeri ini pulih dari keterpurukan, bangkit dari kejatuhan, serta sembuh dari tata kelola pemerintahan yang teramat menyakitkan rakyat.
Pesan kuatnya adalah :
Sekarang ini ‘sumbu rakyat’ sudah terlalu pendek, penyelenggara pemilu cukup menjadi wasit yang jujur saja dalam pemilu nanti kalau mau selamat dunia akhirat.
Karena dengan Pemilu jujur saja sudah cukup bagi rakyat untuk memenangkan apa yang menjadi haknya.
Karena Mencurangi Pemilu adalah Mencurangi Rakyat.
Penulis : Kak Naz
Editor : Bam’s
Baca juga :
- Ibu Kota Negara Baru, Ruang Sesak Oligarki dan Pemutihan Dosa
- Kampung Susun Bayam Untuk Siapa?
- MENGGUGAT NEPOTISME KLAN JOKOWI
- Kartu Truf Jokowi di Tangan Mahfud, Betulkah?
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
4 thoughts on “Mencurangi Pemilu adalah Mencurangi Rakyat”