
Syahdan…., Paijo memelihara seekor anjing, cuma anjing buduk yang selalu menyalak. Agaknya si anjing buduk merasa dirinya anjing herder yang gonggongannya menakutkan. Namun sejatinya gonggongan anjing piaraan Paijo itu hanya menimbulkan kegaduhan di lingkungan komplek tempat tinggal Paijo.
Selain punya hobby menyalak, belakangan anjing buduk Paijo juga gemar menggigit. Si anjing tersebut sudah pernah menggigit anak tetangga Paijo dan bikin gaduh, hiruk pikuk seantero komplek.
Warga komplek sudah menyarankan agar Paijo mengurung saja anjingnya di kandang, agar tak menimbulkan korban lagi. Tapi Paijo menolak.
Alhasil, kemarin anjing buduk itu kembali menggigit tetangga sebelahnya lagi. Korbannya seorang Ketua RT yang sangat dihormati warga. Setelah menggigit, si anjing masih terus saja menyalak. Berisik.
Sementara, warga sekitar yang mendengar anjing Paijo kembali memakan korban, mulai marah. Menjelang malam, kondisi semakin memanas, sebab anjing buduk Paijo ternyata mengidap rabies. Maklum selama ini Paijo membiarkan saja anjingnya berkeliaran tanpa divaksinasi, sehingga makin liar saja.
Kabar tetangga yang digigit anjing rabies Paijo dengan cepat menyebar luas. Anak-anak si tetangga tak terima, mereka siap berdatangan menjenguk bapaknya sekalian menyerbu anjing buduk Paijo
Spontan dan sat-set, tanpa perlu menunggu lama, jelang tengah malam itu juga Paijo menyambangi tetangga sebelah. Padahal biasanya Paijo cuek saja dengan keadaan tetangga, tak pernah silaturahmi. Tapi kali ini lain, dari pada anjing buduknya dibantai warga dan anak-anak tetangga, Paijo rela menyempatkan diri sowan ke rumah tetangga yang menjadi korban anjing peliharaannya. Tak lupa pula diajaknya serta 2 (dua) orang adiknya yang sehari-hari ditugasi menjaga anjingnya.
Warga sekomplek heran dengan reaksi Paijo yang sebegitu protektifnya pada anjingnya.
Warga (W) : “Hei, Paijo, kenapa sih lu bela-belain malam hari ke rumah tetangga”
Paijo (P) : “Ya, aku kan harus memintakan maaf atas kelakuan anjingku.”
W : “Lha yang gigit kan anjingmu, kok kamu yang kerepotan?”
P : “Ya iyalah…, mana mungkin aku suruh anjingku minta maaf sendiri. Salah-salah malah ntar dia menggonggong lagi di rumah tetangga dan bikin huru hara baru.”
W : “Ooh…, iya ya. Lalu kenapa gak kamu buang saja anjing buduk itu. Toh cuma bikin gaduh aja kerjanya.”
P : “dibuang?? Mana bisa!!! Itu kan anjing titipan bohir yang punya lumbung padi di kampung ini. Bisa runyam aku kalo anjing dibuang. Selama aku masih mau memelihara anjing itu, si bohir akan jamin semua keperluanku. Makanya, apapun akan kulakukan demi anjing peliharaan ini.”
Itulah sepenggal kisah Paijo dan anjing buduk yang dipeliharanya. Petiklah pelajaran daripadanya.
CMIIW
Baca juga :
- MENGGUGAT NEPOTISME KLAN JOKOWI
- Mencurangi Pemilu adalah Mencurangi Rakyat
- Transformasi Politik Anies dan Mar’i
- SIHIR MEDIA DAN NGERINYA SEBUAH FABRIKASI ISSUE
- Delapan Tahun Salim Kancil; Kekerasan Negara-Korporasi Semakin Masif
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
1 thought on “ANJING PAIJO”