
Disampaikan Oleh : M Rizal Fadillah
Hanya orang yang tidak faham aspek politis, sosiologis, dan historis yang meyakini bahwa dalam situasi seperti ini Gibran akan dapat bertahan, bahkan dianggap masih kuat. Pengikut buta berhalusinasi bahwa Gibran tidak akan goyah.
Gibran itu bukan manusia berintegritas, hebat, atau karismatik. Ia anak kecil yang lemah dan belum matang. Anak papih mamih yang belum waktunya disapih.
Secara politis Putusan MK yang memastikan ketiadaan ijazah adalah pukulan hukum yang berimbas pada gerakan politik. Partai politik maupun fraksi di DPR tidak mungkin berdiam diri atau menutup mata atas eskalasi atau guncangan politik ini. Secara sosiogis semakin menggumpal aspirasi masyarakat yang menghendaki Gibran mundur atau dimundurkan. Aksi kelompok masyarakat meningkat. Baru-baru ini 150 an Guru Besar mendesak agar Gibran segera mundur.
Secara historis sudah banyak pengalaman bahwa cacat fundamental seorang pemimpin akan menyebabkan kejatuhan. Apalagi hal itu berbasis pada penipuan dan kepalsuan. Pemimpin bodoh hanya mampu menghitung hari-hari dari masa jabatannya. Di manapun dan kapanpun kedunguan tidak bisa diterima oleh rakyat kebanyakan apalagi oleh kaum berpendidikan. Gibran adalah figur jadi-jadian yang ahistoris.
Seperti Trump di Amerika, Gibran di Indonesia habis diolok-olok. Gambar atau poster Gibran di jalan dicaci maki pejalan kaki. Aksi di bunderan patung pemuda beragam poster bertuliskan negatif mengenai Gibran. “Kami Malu Punya Wapres Suket”, “Gibran Out”, “Gibran Merusak Integritas Pendidikan”, “DPR Makzulkan Gibran”, “Pelajaran Moral Dirusak Gibran”, dan banyak lagi. AI pun dimanfaatkan untuk menggambarkan Gibran dikemplang belakang kepalanya, dipukul wajahnya, sambil dimaki dan dilecehkan.
Presiden Prabowo dan Joko Widodo diingatkan, Fraksi Fraksi DPR disurati, DPP Partai didatangi, Diaspora ikut berteriak, aksi jalanan dilakukan oleh emak-emak dan aktivis. Advokat menggeruduk penegak hukum, pengadilan banjir gugatan, dan media sosial padat kecaman. Gibran dihajar habis-habisan. Desakan rakyat berupa opsi mundur atau dimundurkan. Sangat jelas, sederhana dan menohok. Tonjokan yang membuat Gibran grogi, mencium kanvas, dan tidak akan bisa berdiri lagi.
Gibran meringis
Jokowi mengemis-ngemis
Pemuja menangis
Perjuangan akal waras berbuah manis
Rakyat gembira habis
Sejarah berkisah tentang peristiwa tragis
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.