November 8, 2026
Gambar ilustrasi

Disampaikan Oleh : Saiful Huda Ems

Gelombang demonstrasi dan kerusuhan besar-besaran yang terjadi di Prancis, ternyata juga terjadi secara bersamaan dengan di negara-negara Eropa lainnya, seperti di Italia, Belgia, dan Portugal. Sejumlah gerakan di negara tersebut memiliki tuntutan yang serupa, terutama mengenai mahalnya biaya hidup, pendidikan, upah, dan perumahan.

Demonstrasi dan kerusuhan disertai bentrokan dengan Polisi, penjarahan toko dan pembakaran gedung pemerintahan meluas di berbagai kota di Prancis, terutama di Kota Paris. Pemicu utamanya adalah biaya hidup dan memburuknya layanan publik.

Di Italia, di Kota Milan dan Bologna, demonstrasi mengenai biaya hidup dan isu sosial disertai bentrokan, penggunaan gas air mata, serta penangkapan demonstran.

Di Belgia, di Kota Brussel dan Liège, protes mahasiswa dan kelompok masyarakat berujung pada bentrokan dengan polisi. Isu yang menonjol meliputi biaya pendidikan dan kebijakan anggaran pemerintah.

Di Portugal, di Kota Lisboa, ribuan orang memprotes mahalnya perumahan, kenaikan biaya hidup, dan rendahnya upah. Bentuk aksinya lebih banyak berupa demonstrasi dan pendirian tenda protes.

Di Albania, pemerintah disana menghadapi protes rakyat, terkait kondisi pendidikan, lapangan kerja, dan tuntutan pengunduran diri perdana menteri. Sementara itu di Spanyol mengalami mobilisasi masyarakat mengenai krisis perumahan dan ketimpangan sosial.

Gelombang protes dahsyat yang terjadi di negara-negara Eropa ini patut diwaspadai, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Eropa sedang memasuki revolusi sosial berskala kontinental.

Ada tiga hal yang perlu dicermati:

Pertama, krisis ekonomi dan legitimasi politik. Jika masyarakat merasa pemerintah tidak mampu mengatasi mahalnya kebutuhan hidup, pengangguran, dan ketimpangan, protes ekonomi bisa berkembang menjadi perlawanan politik.

Kedua, perluasan basis gerakan. Ketika mahasiswa, buruh, serikat pekerja, dan kelompok masyarakat lain bergerak bersama, tekanan terhadap pemerintah dapat meningkat.

Ketiga, perubahan tuntutan. Demonstrasi akan menjadi lebih serius secara politik, apabila tuntutan yang awalnya bersifat ekonomi, berubah menjadi tuntutan pengunduran diri pemerintah atau perubahan sistem kekuasaan.

Beberapa media internasional telah memberitakan, bahwa protes di sejumlah negara tersebut berlangsung secara terpisah dan tidak terkoordinasi sebagai satu gerakan tunggal, meskipun memiliki keluhan yang serupa. Beberapa pemberitaan di media-media internasional itu juga menyebut, kemungkinan munculnya titik-titik protes baru di negara Eropa lainnya.

Perlu dimengerti, bahwa gelombang keresahan lintas negara yang terjadi di Eropa memang bermula di Prancis, meski demikian sampai hari ini masih belum bisa dikatakan, bahwa kerusuhan yang terjadi di Prancis secara langsung telah menyebar dan menyatukan seluruh Eropa dalam satu gerakan revolusioner.

Apakah gelombang ini akan berhenti sebagai protes atas biaya hidup, atau berkembang menjadi krisis kepercayaan terhadap pemerintahan dan tatanan politik Eropa? Kita lihat saja perkembangan politik berikutnya yang terjadi disana.

Kita berharap, semoga Eropa tidak mengalami peristiwa seperti Arab Spring yang dimulai dari Tunisia pada 17 Desember 2010 lalu, yang merembet ke negara-negara Timur Tengah lainnya hingga ke Afrika Utara, dan berakhir dengan luluh lantaknya negara-negara disana.

Kitapun juga berharap dan berdoa, semoga demonstrasi dan huru hara dahsyat di Eropa ini tidak merembet ke Indonesia, dimana situasi sosialnya nyaris sama; tekanan ekonomi berupa mahalnya biaya hidup, pendidikan, kesehatan, transportasi, rendahnya upah buruh, dan buruknya layanan publik.

Oleh karena itu sudah sepatutnya kita mengingatkan Pemerintah kita, agar mulai lebih serius bekerja dengan baik dan peka pada penderitaan rakyatnya, jika tidak ingin “diPariskan !”, terlebih “diNepalkan !”. Betul tidak…?

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca