
“Kecintaan kepada tanah air tanpa kepedulian kepada rakyat yang menderita hanyalah omong kosong kaum elitis” Sutan Syahrir (Renungan Indonesia tahun 1945).
Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi
“Orang-orang yang merasa dirinya selalu benar, adalah orang bodoh” (Edward Young)
Nasionalisme sejati bukan hanya simbol, seremoni, atau seruan patriotik dan pidato yang menggebu gebu, dengan teriakan “Saya nasionalisme sejati – Saya ingin mati bersama rakyat”.
Segalanya akan tampak dan menampakkan dengan sendirinya dengan nyata ketika tercermin dalam konsistensi sikap, tindakan dan kontribusi rill untuk rakyatnya
Hanya pada pemimpin yang tidak percaya diri, terus berteriak “Saya Negarawan nasionalisme sejati dan NKRI harga mati”.
Nasionalisme yang sempit sering berubah menjadi chauvinisme, merasa paling benar, menolak kritik, atau memandang rendah yang lain.
Nasionalisme sejati bersifat terbuka dan kritis—mencintai negara justru dengan berusaha memperbaiki kelemahannya.
Ukurannya akan terlihat dari bagaimana kita memperlakukan rakyat kecil yang masih hidup dalam kemiskinan dan ketidakadilan.
Sebab, mencintai Indonesia seharusnya berarti peduli pada kehidupan rakyatnya.
Nasionalisme bukan sekadar mengibarkan bendera atau meneriakkan cinta tanah air.
Bukan sekadar bangga pada simbol-simbolnya.
Kalau masih suka bertiak diatas mimbar, mengakuan nasionalisme dari pengakuan dirinya, tanda nasionalisme sejati kayaknya bukan Anda.
Presiden Prabowo berhentilah berpidato omon – omon lakukan langkah riil untuk kehidupan rakyat. Rakyat sudah muak mendengarnya.
“Kecintaan kepada tanah air tanpa kepedulian kepada rakyat yang menderita hanyalah omong kosong kaum elitis” Sutan Syahrir (Renungan Indonesia tahun 1945).
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.