Oktober 10, 2026
Sendratari yang dibangun berdasarkan plot politik, yang didalamnya dibumbui drama antar tokoh dengan pernik-pernik politik yang penuh tipu muslihat
Ilustrasi Sendratari Jokowiyana

semutibrahim.com | Mihrabku – Sendratari itu, merujuk pada drama tari, yang diperagakan satu orang atau beberapa orang. Sendratari tak ada dialog yang terucap, hanya gerak gerik yang menyemai di area pertunjukan dengan bersandar pada satu alur cerita.

Lelakon Politik

Sendratari memadukan unsur pewayangan, pegambuhan, pelegongan dan kekebyaran. Dalam lelakon politik Indonesia, menjelang Pilpres 2024, kita disodorkan satu sendratari yang melibatkan para tokoh elit politik negeri ini.

Satu sendratari yang dibangun berdasarkan plot politik, yang didalamnya dibumbui drama antar tokoh dengan pernik-pernik politik yang penuh tipu muslihat. Tawa, tangis, tarian, gamelan tanpa bunyi, hanyalah ornamen pelengkap tipu muslihat para tokoh.

Politik, yang dalam lajur sejarahnya, berinduk pada budi pekerti yang dimuliakan, diagungkan, luluh lantah dalam skema percaturan politik Indonesia. Politik telah kehilangan magma budi pekerti, kehilangan ruh. Kehilangan empati dan simpati antar sesama. Demi merengkuh jejaring kekuasaan, para elit politik negeri ini, mengubur budi pekerti.

Senjakala Jokowi

Padahal manusia tanpa budi pekerti, itu ibarat mayat-mayat hidup, berjalan tanpa kepala, tanpa akal, tanpa hati. Dan semua karut marut politik tanpa budi pekerti itu, berinduk pada sosok Jokowi.

Di akhir senjakala Jokowi, dia menghimpun banyak kisah. Kisah yang dia ramu atas kegelisahan di ujung kekuasaannya. Dipungutlah para tokoh elit politik agar mampu menjaga jaring-jaring kekuasaannya yang hendak berakhir.

Jokowi ingin meneruskan estafeta kepemimpinannya dengan memberi tongkat kekuasaan ke para tokoh elit politik, dengan menyodorkan putra mahkotanya menjadi ban serep kekuasaan.

Kenapa Jokowi membutuhkan ban serep kekuasaannya? Karena Jokowi sadar, selama dua periode kekuasaannya, Indonesia di bawah kepemimpinannya, menjadi Indonesia yang muram, semuram wajahnya, wajah Jokowi.

Al-Hayawan Al-Nathiq

Inilah sendratari Jokowiyana, satu sendratari yang merayakan kekuasaan tanpa kalbu, tanpa jiwa, tanpa ruh.

Sendratari Jokowiyana, sendratari yang mengubur hidup-hidup budi pekerti, menempatkan akal di bawah nafsu syahwat kekuasaannya. Padahal dalam terminologi Imam Al-Ghazali, akal menempati posisi sebagai panglima, mengendalikan seluruh organ tubuh yang di dalamnya ada kalbu, nafsu, jiwa dan ruh.

Pantas saja gerombolan Setan Merah murka dengan panggung lelakon “Sendratari Jokowiyana” ini. Kenapa murka? Karena Jokowi telah kehilangan akal budi pekertinya sebagai manusia.

Jokowi tak ubahnya Al-Hayawan Al-Nathiq. (Hewan yang berbicara – red)


Baca juga tentang kerinduan kepada Pancasila dalam tajuk “MEMANGGIL PULANG RUH PANCASILA”

Atau pembaca juga tertarik tentang Pabrik Issue? Silahkan baca dalam tajuk “SIHIR MEDIA DAN NGERINYA SEBUAH FABRIKASI ISSUE”


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

4 thoughts on “SENDRATARI JOKOWIYANA”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca