Oktober 9, 2026
Ilustrasi ruang bawah tanah yang temaram

Suatu sore, saya terbangun di ruangan dingin yang lembab. Baju saya hilang, tinggal celana panjang kotor yang melekat di tubuh saya. Tidak ada lampu, hanya ada garis-garis cahaya yang menyelinap masuk. Saya membetulkan posisi kacamata lalu bergumam, “Di mana ini?”

Mata saya menyapu sekeliling ruangan, sampai saya melihat sesosok laki-laki kurus dan lusuh sedang duduk bersila.

Saya perlahan menyapa, “Mas, maaf, ini dimana?”

Mas berpakaian kusam itu melihat saya dengan dahi bekernyit, lalu balik bertanya “Apa maksudmu nanya ini dimana?”

“Harusnya saya yang tanya, sejak kapan kamu masuk kesini? dan gara-gara apa?”

Berganti dahi saya mengerut, ‘Ya Tuhan, tadi saya pencet tahun berapa sih?’

Suara beratnya berlanjut, “Saya Dipa Negara, dan kalau kamu lupa ingatan, ini penjara bawah tanah Belanda di Batavia.”

“Dipa?? Negara?” tiba-tiba wajah guru sejarah saya saat SMA terbayang di depan mata. “Pangeran. . .”

“Ya, saya anak sulung Raja Hamengkubuwono, yang baru saja dikhianati Belanda keparat.”

“Entah kemana saya akan dibuang oleh mereka setelah ini, lima tahun saya buat mereka pontang-panting di tanah Jawa”. matanya masih jelas menyala.

Saya menghela nafas, ‘Ya Tuhan, saya berarti menekan tahun 1830, bukan 2830.’

“Setelah ini Mas akan dibuang ke Sulawesi, tapi Mas akan jadi pahlawan nasional sebuah negara yang baru lahir 115 tahun yang akan datang.” Jelas saya tanpa keraguan.

Matanya menyipit, “Siapa sebenarnya kamu, Dik?”

“Saya dari masa depan. Tepatnya 2040.”

“Kamu jangan bercanda”

“Saya tidak sedang bercanda, saya tau Mas akan meninggal usia 69 tahun, saya sudah lihat patung Mas ada dimana-mana di Batavia ini. Saya harus kembali ke masa depan Mas, saya tidak boleh terperangkap di tahun ini.” Tatap saya meyakinkan.

“Tapi penjara ini terkunci rapat.”

“Kita gali saja tanahnya berdua, kita buat terowongan.” Pinta saya.

“Sebentar, ceritakan dulu tentang masa depan, ceritakan ceritamu.”

Saya terdiam sesaat, “Masa depan baik-baik saja, Mas, sampai tahun 2020 datang.”

“Ada apa tahun 2020?”

“Wabah dunia mas, 2 tahun melanda, tapi yang paling kena dampak jangka panjang bertahun-tahun setelahnya justru keuangan dunia, banyak negara jatuh bangkrut, saya jatuh bangkrut, ditinggal istri dan tertimpa hutang sangat besar.”

Pangeran Dipa mengangguk-angguk.

“Berlanjut Perang Dunia ketiga selama beberapa tahun.”

“Ketiga? Kapan Pertama dan Keduanya?” Tanyanya penuh keingintahuan.

“Abad depan, mas, 2 perang dunia hanya dalam rentang separuh abad. Di perang dunia ke2 lah Belanda yang sekarang menangkap mas, hengkang terusir oleh Jepang.”

Dia menunduk haru, “Kita bisa merdeka dari penjajah.”

Saya melanjutkan, “Tahun 2035 saya menemukan kapal karam berbendera Belanda di Laut Jawa, penuh dengan emas. Saya lunasi hutang saya, lalu dalam 5 tahun saya membangun sendiri mesin waktu.”

“Emas dalam kapal Belanda? Bila bentuknya koin-koin, itu emas kerajaan saya.”

“Aah betul, bentuknya semua koin, mungkin saya salah tekan tahun karena memang harus berterimakasih padamu, Pangeran.”

“Ssst…, ada suara derap langkah.”

Kami berdua berdiri.

“Belanda?”

“Ya siapa lagi.”

Dari sela-sela pintu kami melihat sesosok wanita, jelas bukan Belanda, tidak tinggi, rambutnya hitam, matanya hitam, dan anehnya memakai jubah putih.

Kami berdua saling pandang, “dokter pribumi?” Tanya Pangeran.

Pintu ruangan gelap itu tiba-tiba terbuka lebar, 5 orang jubah putih berdiri di pintu.

“Aduh paaak, kami cari bapak-bapak dari siang ternyata pada duduk di gudang, padahal kan enakan di luar pak, di sini gelap, Ayo keluar.”

Saya melihat tulisan di jubah mereka, Rumah Sakit Jiwa Jakarta.

Ditulis oleh. Dr Gia Pratama


Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca