Oktober 9, 2026
Ilustrasi foto Pantai Klayar – Pacitan Jawa Timur

Dik.., Ketika kali pertama aku berjumpa denganmu, aku rasa bagaikan berjumpa dengan sebuah Saktah. Aku terpana akan pesonamu, jantungku sejenak berhenti berdetak, sungguh kau mahluk Allah yang paling cantik. Masyaa Allah. Aku sungguh terpana hingga aku menahan nafas sebentar. Dalam hati aku bertanya, Apakah ini yang dinamakan dengan cinta?

Sama halnya dengan Mad ‘Aridh dimana tiap Mad bertemu Lis Sukun Aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku berhenti di kamu. Aku tidak bisa melupakanmu walau sejenak, bagai huruf Tafkhim, namamu tercetak tebal di benakku.

Seiring waktu berlalu, diam-diam aku selalu memperhatikanmu, namun aku tak kuasa menyampaikan langsung kepadamu, aku menyimpan cintaku padamu jauh tersembunyi di kedalaman hati seperti Lam Syamsiah. Seringkali aku mencuri padang wajahmu yang bercahaya seperti Alif Lam Qomariah, yang jelas bercahaya.

Aku sadar, mungkin keberadaanku di matamu bagaikan Nun Mati di antara Idgham Billaghunnah. Aku ada, kau bisa melihatku, namun keberadaan ku tak di anggap. Usah risau, aku bisa memahami itu semua. Status sosialku yang membuat adaku di anggap tak ada.

Dik, hari ini dengan terpaksa aku ungkapkan rasaku ini melalui goresan pena, tak kuasa aku bila harus langsung berbicara denganmu, mendadak aku bisa kehilangan kata-kata. Dik, kusampaikan rasaku padamu dengan gamblang, tidak ada yang aku sembunyikan lagi bagaikan Idzhar yaitu sangat jelas dan terang.

Aku berkeyakinan bahwa kita memang di takdirkan Allah untuk saling mengenal dalam perjumpaan itu, seperti Idghom Mutajanisain. Perjumpaan dua huruf yang sama tempat datangnya tapi berlainan sifatnya.

Dik, Aku mencintaimu. Terpaksa aku harus jujur mengatakan ini padamu, aku ndak sanggup membohongi diriku sendiri. Sungguh aku sudah lama sekali menyimpan perasaan cintaku ini bak Mad Lazim. Sungguh panjang.

Aku akan setia menantimu Dik, meskipun dalam penantian ini aku selalu di hantui rasa cemas, gelisah dan was-was. Jantungku berdetak kencang bagai Qalqalah Kubro. Terpantul-pantul dengan kuat sekali.

Aku berharap suatu saat nanti kita akan bersatu mengarungi bahtera kehidupan ini dengan ridho Illahi, kita lebur menyatu dalam ikatan cinta bagai Idgham Mutamaatsilain yang saling melebur jadi satu.

Kita akan saling setia dalam cinta, tiada orang ketiga diantara kita, seperti Idgham Bilaghunnah, hanya ada aku dan kamu tidak ada yang lainnya. Hanyalah Lam dan Ro. Dan jika ada orang ketiga diantara kita maka kau harus memilih seperti Waqaf Mu’annaqah, hanya boleh berhenti di salah satunya, aku atau dia?

Akhir kata, hanya kepada Allah jua aku berharap, semoga Dia menciptakanmu di takdirkan untukku bagai Imalah yang tercipta hanya untuk Ro saja, pun begitu juga aku hanya untukmu.

Aku, yang mencintamu, Semut Ibrahim


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

3 thoughts on “Mentajwidkan Cintaku Padamu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca