Oktober 9, 2026

Senja yang mencekam

Senja itu, adalah waktu menjelang magrib terasa mencekam dan menegangkan. Orang-orang dengan wajah-wajah penuh amarah bergerak menuju ke sebuah rumah kosong, lebih tepatnya di sebut gubuk tua, setelah pencuri kotak amal lari ke dalam bangunan angker untuk bersembunyi dibalik gerumbul semak dan pepohonan yang menjulang tinggi.

Tidak ada azan magrib sore itu, karena seluruh jama’ah masjid di pimpin Pak Haji pergi mengejar pencuri laknat yang lancang mencuri kotak amal dan mencemari rumah suci dengan perbuatannya, Rombongan massa itu  sahut menyahut menumpahkan sumpah serapah, sesekali diantara mereka meneriakkan takbir.

Mereka semakin dekat dengan gubuk tua itu, samar-samar tercium semerbak aroma melati dibawa angin dari arah rimbun pohon angker. Semakin dekat dengan gubuk tua itu aroma melati semakin kuat menusuk hidung.

Gubuk tua yang menebarkan aroma melati

Konon disekitar gubuk tua itu sering ada penampakan perempuan pucat dengan rambut panjang riap-riapan melayang-layang mengitari gubuk tua itu sambil cekikikan. Aroma melati kian terasa menusuk hidung.

Wangi aroma melati yang mendatangkan ketenangan namun mengerikan sekaligus mencekam. Orang-orang tersebut telah tiba dihalaman gubug tua tersebut.

“Allahu Akbar”. Pak Haji memekikkan takbir. Pandangannya menatap tajam ke awang-awang, sementara matahari sebentar lagi akan tenggelam, haripun semakin meremang.

Tiba-tiba perempuan pucat dengan rambut panjang riap-riapan itu muncul melambung, melayang diantara pepohonan, tertawa cekikikan lalu menghardik. ”Mengapa kalian tidak ke masjid? Mengapa tidak mengumandangkan adzan? Bangsaku sudah mulai menutup telinga dan bersembunyi di ruangan yang kedap dan bau”. Wanita berambut panjang itu berteriak di ikuti suara tawa melengking panjang.

“Kami mau menangkap pencuri kotak amal“. Jawab Pak Haji dengan suara bergetar.

“Tidak bisa! Dia mencari perlindungan di tempat kami, wajib bagi kami melindunginya”. Berkata perempuan berambut panjang riap-riapan sambil melayang turun, namun kakinya tidak menyentuh tanah. Hanya gaun panjangnya yang terjuntai berkibar ditiup angin senja yang dingin.

“Setan!, sundel bolong, kuntilanak terkutuk!!, sukanya membela bandit yang kelakuannya terkutuk.” Hardik Pak Haji dengan sengit.

“Kamu bajingan tolol. Kamu lebih terkutuk, kalian semua terkutuk!!!” Diiringi suara tertawa cekikikan perempuan berambut panjang riap-riapan balas menghardik.

Pak haji diam, memusatkan konsetrasi dan mulai membaca ayat kursi di iringi oleh warga berzikir bersama-sama, suaranya seperti dengungan jutaan lebah memenuhi senja yang semakin turun dan berangsur gelap. Tak lekas terbakar, perempuan itu malah menirukan suara-suara bacaan dengan fasihnya.

“Bagaimana bisa bacaan ayat suci menghiasai lisanmu dan tiap hari membaca berjuz-juz Al-Qur’an, tapi tak satupun terselip dihatimu?!” Ucap perempuan berambut panjang riap-riapan tersebut dengan nada yang dalam.

“Apa maksudmu, setan busuk!?” Pak Haji menyahut dengan nada penuh amarah.

Peempuan berambut panjang riap-riapan itu menjawab tangkas “Aku tahu siapa pencuri kotak amal itu, Ia hanya anak-anak, anak yatim kini bertambah jadi piatu, ibunya baru saja meninggal beberapa hari yang lalu. Bagaimana bisa penderitaan anak ini luput dari jangkauan kalian?!”

Semua terdiam. Pak Haji makin jengkel. Hatinya tergetar juga, namun ia tak bergeming, apalagi dihadapan jama’ahnya tentu ia harus menjaga performa dan wibawanya.

“Kau mengumumkan kas masjid yang puluhan juta itu melalui pengeras suara, sementara anak ini kelaparan. Hidupnya kini sebatang kara! Lalu mana kas yang puluhan juta itu? Mengapa yang kalian pentingkan hanya pembangunan masjid?” Berondongan pertanyaan perempuan berambut panjang riap-riapan itu membuat suasana semakin menyeramkan.

“Kalau masjidnya bagus dan nyaman, ibadah jadi tenang.” Jawab Pak Haji membela diri.

“Masjid kalian makin megah, makin nyaman, tapi Allah yang kalian sembah itu kelaparan, kehausan sedangkan kalian tidak mau menggubrisnya.” Perempuan berambut panjang riap-riapan itu membalas dengan mencibir.

“Kurang ajar! Beraninya kamu merendahkan Allah! mana mungkin Allah kelaparan dan kehausan.” Pak Haji semakin menaikan suaranya. Telunjuknya mengacung ke langit dengan tasbih melilit diantara jari dan pergelangan tangannya.

“Dalam jiwa yang kelaparan dan kehausan Allah begitu dekat, Apa kalian tidak pernah mengasah hati nurani kalian, atau kalian mahluk-mahluk bodoh, kalian bajingan-bajingan tolol?!” Perempuan berambut panjang riap-riapan itu menimpali sambil cekikikan. Suara tertawanya bergema menusuk dada.

Perkataan perempuan itu membuat pak haji sedikit melunak. “Aku kerap mendengar Hadits Qudsi tersebut. mengapa kini aku melupakannya?” Gumamnya dalam hati.

Penyesalan Pak Haji

Tertunduk, Pak Haji menyesal. Sementara aroma wangi melati semakin tajam dan tak wajar, membuat kepala menjadi pusing, dada terasa sesak dan perut mendadak mual, beberapa orang ada yang pingsan dan pak haji pingsan paling terakhir.

“Pak bangun! Sudah magrib, ayo ke masjid.” Bu Haji membangunkan, rupanya ia bermimpi.

Segera Pak Haji kemasjid dan memeriksa kotak amal.

Dari hasil infak dan shodqoh di kotak amal tersebut sebagian dilokasikan untuk pembangunan dan kesejahteraan umat.

Esok harinya Pak Haji terburu-buru membeli sembako dengan uang kotak amal dan di tambah uang pribadinya, ia mendatangi gubuk tua, rumah anak yatim dalam mimpinya.

Terseok-seok langkah pak haji karena berat beban di pundaknya, dia memanggul sekarung beras dan menenteng bingkisan. Beberapa orang menawarkan bantuan untuk ikut mengangkatnya tapi dia menolak. ”Ini adalah kelalaianku! Aku membiarkan anak yatim itu kelaparan, aku sendiri yang harus memikulnya”. Demikian Pak Haji menjawab.

Sesampai di gubuk tua dan reyot itu. Pak haji di ikuti warga dengan bangga membuka pintu gubuk tua tersebut. Dan apa yang mereka saksikan?

Anak yatim piatu itu telah terbujur dingin kaku diatas sajadah lusuh smbil memegangi perutnya. Dihadapanya tergeletak Al Qur’an kecil yang lembarannya masih terbuka pada surat Al-Maa’uun.

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ –  

فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ –

وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ –

 فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ –

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ –

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ –  

وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ –

***********************


Kisah ini di tuturkan oleh Novita Widya N. dengan beberapa tambahan oleh Semut Ibrahim. Petiklah hikmah dari kisah/cerita pendek ini. Semoga Allah SWT menjaga kita semua, menjaga Indonesia Raya. Aamiin.

Salam Ukhuwah; Semut Ibrahim. CMIIW.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

2 thoughts on “Aroma Melati di Gubug Tua”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca