
“Tulis namamu!” Perintahnya.
“Lha itu…..” dengan polos Dermo menunjuk ke lukisan lima lingkaran tersebut.
“Apa? Memang itu tulisan namamu?” Tanya petugas PBH.
“Lha iya, itu nama saya,” jawab Dermo.
“Siapa memangnya namamu?” Kejar petugas.
“Dermo.” Sergahnya
“Mengapa kamu cuma bikin lingkaran begitu?” Desak petugas.
“Lha Dermo itu kan artinya bunder-bunder limo (lima bulatan).” Jawab Dermo dengan percaya diri.
Oleh : Wildan Sule Man
Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan buku lama karya Mohamad Sobary, yang berjudul “Fenomena Dukun Dalam Budaya Kita“, buku setebal dua ratus enam puluh halaman itu berisi enam buah hasil penelitian sosial beliau kisaran tahun 1985 hingga tahun 1995. Tulisan pertama berjudul “Tiga keluarga tukang ojek“, Tanjung Pinang 1986, Tulisan kedua berjudul “Islam dan pedagang Betawi” Ciater 1989, Tulisan ketiga berjudul “Penjual jamu dan Sopir Bemo“, Klender 1986, Tulisan keempat berjudul, “Dukun Jawa, Dukun Tiban dan Dukun Modern“, Pekanbaru 1986, tulisan ke kelima berjudul, “Muhammadiyah di Selondono“, Yogyakarta 1995. Dan yang terakhir tulisan keenam berjudul “NU dan Politik“, Ujungpandang 1994.
Denyut disudut-sudut Indonesia pada tahun-tahun itu beliau paparkan dengan gamblang dan menarik, diantaranya gambaran tentang semangat para transmigran dalam mengolah tanah-tanahnya, tentang kaum urban yang teguh dalam menghadapi perkembangan jaman, tentang ketegaran para perantau ditengah “kemiskinannya”, dan tentang lika-liku beberapa orang tokoh kampung yang berjuang mendirikan lembaga pendidikan disebuah desa.
Satu hal yang menawan perhatian saya dari riset pak Sobary adalah penelitian “Muhammadiyah di Selondono”, sebuah upaya untuk mencerdaskan warga kampung oleh para pemuda “progresif” dengan membuka program PBH (pemberantasan buta huruf) yang kelak menjadi sekolah Muhammadiyah dan sebagai cikal gerakan Muhammadiyah di Selondono. Menurut sejarahnya Program itu berlangsung malam hari, dimulai sekitar tahun 1946, dan disebut sekolah malam. Sebuah usaha mengentaskan tuna aksara diawal awal kemerdekaan sebagai modal kemajuan bangsa yang merdeka.
Mereka yang mengikuti kegiatan sekolah malam adalah semua kalangan baik remaja, pemuda bahkan yang tuapun tak ketinggalan. Para peserta PBH itu dulu disanjung sebagai “wong-wong sing sadar” (orang-orang yang sadar), yang bergabung didalamnya berarti mereka haus akan kemajuan dan tak mau ditinggalkan oleh zaman. Semangat melaksanakan program PBH itu meluas, dan terkadang ada semacam operasi yang dilakukan di mana-mana. Operasi itu dimaksudkan untuk mengecek secara “random” di suatu tempat tertentu yang ramai dilalui banyak orang. Tanpa memilih atau menggunakan pertimbangan ini dan itu, salah seorang disetop. Kepadanya diberikan sebatang kapur, dan disuruh menuliskan namanya di papan tulis yang telah tersedia di tepi jalan raya, di tempat teduh. Hingga muncul sebuah lelucon, yang mungkin juga dimaksudkan guna menertawakan diri sendiri dan kegetiran hidupnya diawal kemerdekaan.
Sahdan, seorang bernama Dermo kebetulan lewat bersama teman-teman lainnya di tempat “cegatan” maksudnya tempat di mana operasi PBH terjadi. Dan Dermo yang “diuji” agar menuliskan namanya. Perlu dicatat, dalam operasi itu bila seseorang kedapatan tak bisa menuliskan namanya dimarahi, dan dipermalukan. Mereka yang bisa menulis cukup disanjung sebagai orang yang tidak ketinggalan zaman. Orang bernama Dermo tadi sebetulnya tidak bisa menulis karena memang tak pernah ikut program PBH. Tetapi ketika menerima kapur dari petugas di tepi jalan tersebut, ia tampak penuh rasa percaya diri. Kemudian di depan papan tulis, ia bukannya menuliskan namanya, tapi hal yang dia lakukan adalah membuat lima buah huruf 0 (lingkaran kecil). Bukan cuma para petugas yang terheran-heran. Kawan-kawan Dermo sendiri bingung melihat apa yang dilakukan temannya itu. Maka, petugas pun sekali lagi memerintahkan.
“Tulis namamu!” Perintahnya.
“Lha itu…..” dengan polos Dermo menunjuk ke lukisan lima lingkaran tersebut.”Tulis namamu!” Perintahnya.
“Lha itu…..” dengan polos Dermo menunjuk ke lukisan lima lingkaran tersebut.
“Apa? Memang itu tulisan namamu?” Tanya petugas PBH.
“Lha iya, itu nama saya,” jawab Dermo.
“Siapa memangnya namamu?” Kejar petugas.
“Dermo.” Sergahnya
“Mengapa kamu cuma bikin lingkaran begitu?” Desak petugas.
“Lha Dermo itu kan artinya bunder-bunder limo (lima bulatan).” Jawab Dermo dengan percaya diri.
Para petugas terpingkal-pingkal, dan Dermo pun tak dimarahi. Kawan-kawannya yang merasa mendengarkan dagelan segar, menyebarluaskan kejadian itu di desa. Dan berkat pola komunikasi desa yang bersifat dari kuping ke mulut, berita cepat tersiar dan lelucon pun menjadi milik kolektif desa itu. Mungkin bahkan sampai pula di desa-desa lain.
Jaman kian maju, informasi dan komunikasi, menjadi buku yang luas dan canggih, aksara dari bentuk huruf bertransformasi menjadi aksara digital, sesiapa yang tak mampu mengolah dan memanfaatkan digit-digit itu, mereka bisa disebut sebagai tuna aksara digital. Gawai dan komputer dilantik menjadi semacam alat alat penting jaman ini, warta apa saja bisa kita serap dan juga bisa kita edarkan. Tak ada yang melakukan tindak “operasi” tentang lihainya kita mengutak-utik alat alat itu layaknya operasi “bisa baca” jaman kang Dermo ditahun 1946, sebab semua bisa dilakuan secara privat dan bebas. Yang bisa mengoperasi hanya diri kita sendiri, apakah sebuah media yang sarat kecanggihan dan aksara digital itu kita gunakan untuk kebaikan ataukah sebaliknya. Semua tergantung pada diri kita. Wallahu a’lam Bishowab.
Wildan Sulaiman atau Wildan Sule Man adalah Penulis Amatir yang juga aktifis Muhammadiyah Jawa Tengah, Wildan adalah kader dan ketua Majelis Tabligh di PCM Grabag
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.