Oktober 9, 2026

PERTANYAAN TENDENSIUS “MENGAPA SOEHARTO TIDAK DICULIK PKI, PADA SAAT ITU BELIAU BERPANGKAT JENDERAL JUGA??”

Sebelum meneliti siapa Soeharto saat itu, you musti lihat literatur dan kenali dulu siapa-siapa Jenderal yang menjadi korban PKI, literatur yang akurat berdasarkan fakta bisa dilihat di ANRI. Semua yang diculik PKI adalah satu gerbong dengan Nasution dan Yani. Kesemuanya Deputy dan Assisten Menpangad plus satu orang Brigjen pimpinan Oditur Militer (Mayjen Anm Sutoyo). Rombongan inilah yang sering berhadapan dengan PKI, saat pertemuan satu meja di kabinet ataupun pada pertemuan/rapat kenegaraan lainnya. Bisa dibayangkan betapa benci dan dendamnya PKI kepada para petinggi militer ini. Bersama Pak Nas dan Pak Yani para Deputy dan Assiten ini secara kompak sering bersitegang dan menentang hal-hal yang diusulkan PKI. Hingga kadang PKI tidak berkutik dibuatnya.

PKI yang akrab dengan Bung Karno dalam Nasakom, PKI yang mengklaim memiliki pengikut hingga 10 juta massa, memiliki puluhan Underbow binaan, mulai dari CGMI, SOBSI, PR, BTI, Fadjar Harapan, Pemuda sosialis Indonesia, Lekra, hingga Gerwani, namun saat itu ABRI tidak gentar menghadapi segala manuver-manuver PKI. mereka dengan tegas selalu melawan usulan-usulan PKI yang dinilai membahayakan Pancasila. Negara Indonesia saat itu mempunyai lebih dari 10 Menteri yang mendukung PKI, dan juga punya banyak anggota PKI di Parlemen karena PKI adalah peringkat ke-4 di Parlemen sebagai Legislator alias Anggota DPR RI. PKI tinggal berhadapan dengan ABRI saja agar bisa memuluskan rencananya menguasai Pemerintahan Negara Indonesia bila Bung Karno Wafat. Namun berulang kali usaha-usaha mereka patah, saat berhadapan dengan orang-orang yang mereka sebut dalam fitnahannya sebagai Dewan Jenderal.

Dewan Jenderal merupakan sebutan untuk sebuah kumpulan khayalan PKI, dengan maksud agar dipropagandakan sebagai grup Jenderal penentang Bung Karno. Sebenarnya tidak ada istilah Dewan Jenderal dalam negara kita saat itu. Isu Dewan Jenderal sengaja dihembuskan PKI, namun fakta nyata saat itu menunjukkan bahwa para Jenderal yang dituduh PKI tersebut rupanya semuanya adalah Jenderal yang menentang PKI, mereka Jenderal yang sangat Pancasilais dan mencintai Bangsa serta patuh pada pemerintah yang syah. Sejatinya mereka bukan seperti yang dituduhkan PKI, yaitu diam-diam menentang Soekarno. Agar Bung Karno dan rakyat membenci mereka, maka PKI mengkondisikan agar fakta sesungguhnya bisa dibalik menjadi fitnahan untuk Dewan Jenderal, hingga ada alasan menyudutkan Pak Nas, Yani dan rekan-rekannya. Bahkan membunuh mereka.

Soeharto yang berada di luar gerbong tidak dianggap anggota Dewan Jenderal, Soeharto memang berpangkat Mayjen, namun bertugas menjadi Panglima Kostrad. Beliau berada di tengah pasukan, bukan berada di dalam pemerintahan. Otomatis PKI tidak memandang beliau sebagai sosok militer yang berbahaya.

Sekarang renungkan dan baca baik-baik dengan logika yang sehat. Berikut ini contoh nyata sepak terjang Para Jenderal yang membuat PKI gondok marah ; Pada awal 60-an, untuk melawan (baca: membendung) agitasi PKI maka ABRI membentuk Partai Politik bernama Golongan Karya, saat itu PKI dengan menggunakan Bung Karno berhasil memfitnah Masyumi dan Murba bahkan kemudian Bung Karno membubarkan dua Partai yang menjadi saingan PKI tersebut. Terbentuknya Golkar membuat PKI kesal, sebab sangatlah sulit untuk dihancurkan karena pendirinya para Jenderal aktif. Selanjutnya ketika kampanye Dwikora yang mengeluarkan resolusi perang Ganyang Malaysia, inilah momen bagi PKI membentuk sukwan sukwani alias sukarelawan perang, dengan harapan kelak bisa mereka manfaatkan seperti Tentara Rakyat Komunis di China saat melakukan revolusi.

Namun apa hendak di kata, sial bagi PKI, kekuatan dan kecerdasan intelejen MT. Haryono, Suprapto, S. Parman, dan Panjaitan membuat ABRI tidak terlalu mendukung perang itu. Kita faham bahwa Perang Ganyang Malaysia itu akibat provokasi PKI terhadap Bung Karno, agar mendapat bantuan senjata dan dana dari RRC, apalagi Jenderal intelejen ABRI saat itu begitu ketat memperhatikan segala gerak-gerik PKI. Hingga provokasi dan segala giat PKI mampu terbaca oleh ABRI, dan akhirnya konfrontasi dengan Malaysia tidak terlalu serius dijalani dan didukung oleh ABRI.

Pertentangan terhadap PKI bersambung, Nasution dan Yani dan rekan-rekan kembali kompak dan keras menolak usulan angkatan kelima Buruh Tani. Ini adalah sebuah usulan gila karena PKI meminta pada Bung Karno agar buruh tani dipersenjatai oleh Negara. Petinggi ABRI sontak menolak, karena ABRI mencium adanya gerakan persiapan pemberontakan dibalik usulan ini jika Negara menyetujuinya. ABRI juga melihat ada gelagat atau niat PKI untuk membentuk pasukan bersenjata yang ilegal untuk memperkuat posisi mereka, gerakan ini tercium, serta merta ABRI menolak keras, meski usulan itu dibalut alasan untuk perang menghadapi Malaysia. Belum lagi saat Brigjen Panjaitan menyita 50 ribu pucuk senjata mencurigakan selundupan dari RRC di Tanjung Priuk, senjata itu yang merupakan pesanan PKI, betapa hancurnya hati petualang-petualang Aidit, Syam, Nyoto, Sakirman, Lukman, Nyono, Sudisman, Latief.

Bahkan karena sangat bencinya seorang Sakirman memasukkan nama adiknya S. Parman sebagai target agar turut dihabisi juga, karena S. Parman adalah Assisten Jendral Yani.

Contoh lain adalah ketika begitu kerasnya statemen Yani perihal pembunuhan Pelda Sujono, anggota TNI di Bandar Betsi, Sumatera Utara oleh segerombolan Komunis, Yani dalam pidatonya memerintahkan kepada semua Prajurit angkatan darat untuk “Asah Sangkurmu dan bersiap menghadapi Komunis dengan segala kemungkinan yang akan terjadi”. Artinya Yani menyatakan perang terhadap PKI. Puncaknya, PKI yang merasa sudah sangat dekat dengan Bung Karno terkejut plus sakit hati ketika Bung Karno mengatakan bahwa penggantinya kelak adalah Yani.

Aidit dan Syam panik luar biasa, apalagi Tim Dokter RRC mengatakan bahwa umur Bung Karno tidaklah lama lagi, antara mati atau lumpuh total. Aidit berkehendak menjadi Presiden. Namun Bung Karno berkehendak lain. Di luar dugaan Bung Karno berniat menyerahkan Negara Kepada Yani, bukan kepada Aidit. Artinya jika Yani jadi Presiden maka kecil harapan PKI untuk menguasai atau berkiprah di negara ini. Sangat susah mereka meloloskan niat untuk mengubah Pancasila dan menjadikan Komunis sebagai ideologi Negara. Dan pasti barisan S. Parman cs sebagai Deputy dan Assisten akan semakin solid menentang PKI.

Soeharto walaupun seorang Mayor Jenderal saat itu, namun beliau tidak selalu bersama Nasution dan Yani karena lebih banyak bersama Pasukannya di Kostrad. Suharto merasa tidak ada urusan untuk berdebat dan menentang secara nyablak seperti Pak Nas dan Yani karena Soeharto tidak memegang jabatan yang mengharuskannya untuk selalu mendampingi Pak Nas atau Yani.

Soeharto tidak termasuk barisan ABRI yang bisa menganulir tiap usulan sesat PKI di pemerintahan, begitupun Brigjen Oemar Wirahadikusuma dan Kol Sarwo Edhie dan juga para Pangdam teritorial lainnya. Semua rata-rata berpangkat bintang Jenderal. Belum lagi ditambah dengan para Kepala Staf tiga Angkatan lain (AD, AL dan AU), kecuali Oemar Dhani yang terlibat PKI. Para Kepala Staf tersebut adalah Laksamana, Komodor dan Jenderal juga. Namun para Kepala Staf tersebut bukan Deputy dan Assisten dari Nasution dan Yani.

PKI bergerak dengan Tolol dan Goblok, mereka beranggapan bahwa apabila barisan Nasution dan Yani mereka hancurkan maka ABRI akan mampu mereka kuasai.

Gerakan mereka tidak diridhoi Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa maka rencana gagal total. Rakyatpun tidak mendukung gerakan kudeta tersebut. Mereka teramat tolol menganggap kalau kepala sudah ditundukkan maka badan dan ekor akan takluk.

PKI lupa bahwa ketika menghantam kepala kalajengking maka seketika buntut ekornya membalas ganas, menyerang dengan sengatan beracun yang mematikan. Terbukti ketika Pasukan gabungan dikerahkan Soeharto merangsek masuk ke wilayah Lubang Buaya, para dedengkot PKI panik. “Kita sudah kalah” ujar Brigjen Suparjo pada sore hari tanggal 1 Oktober 1965. “Jawa tengah akan berbicara teman-teman” balas Sjam Komaruzaman. Sedang Letkol Untung sepanjang hari hanya diam termenung dan sorenya kabur ke Tegal. Perhitungan PKI sangat buruk. Semakin parah kelakuan mereka dengan alih-alih percaya diri menangkap Jenderal tertinggi ABRI, di rumah Nasution Tjakrabirawa hanya mampu menembak Balita kecil (Ade Irma gugur 6 Oktober 1965 setelah dirawat intensif), Prajurit Tjakra Kopral Hagiono memuntahkan 5 peluru menembus Balita Kecil itu, di halaman depan, pasukan menembak mati Polisi muda Satsuit Tubun, dia yang hanya piket pengawal di rumah Waperdam J. Leimena, kebetulan bersebelahan dengan rumah Pak Nas.

Kegoblokan PKI berlanjut. Saking gobloknya mereka tidak mampu membedakan antara Panglima ABRI dengan Ajudannya. Pierre Tendean-pun mereka bawa dan aniaya hingga gugur di Lubang Buaya. Setelah lolos dari maut, selanjutnya Nasution bergabung dengan Soeharto untuk menyusun strategi melawan PKI. Andai Soeharto terlibat PKI maka tidaklah mungkin Pak Nas mau bergabung ke beliau dan bermarkas di Kostrad, serta bahu membahu menghantam PKI. Jika memang Soeharto mendukung atau terlibat dengan PKI, adakah saksi hidup saat itu yang melihat Soeharto bersama PKI, setidaknya adakah photo/dokumen yang menunjukkan Soeharto bersama dan atau berkumpul bersama Aidit atau dengan pimpinan PKI lainnya?

Dari sini saja bisa pelajari lagi. Jika memang Soeharto tidak dibunuh karena terlibat PKI, maka tidak masuk akal kenapa sepanjang perjalanan gemilang PKI sejak 1948 hingga 1965 tidak ada satu photo-pun atau dokumen tentang kebersamaan petinggi-petinggi PKI bersama Soeharto. Hanya fakta yang bisa memastikan fitnahan terhadap Soeharto ini benar atau tidak.

Namun hingga hari ini tidak ada fakta yang bisa menunjukkan keterlibatan Soeharto meski hanya selembar photo atau secarik dokumen. Pun dalam persidangan Subandrio dan Oemar Dhani serta lainnya, adakah kesaksian mereka yang jelas menyebut Soeharto bagian dari mereka. Karena untuk mengakui hal itu sangatlah dimungkinkan mengingat para terdakwa semuanya tipis harapan untuk lolos dari hukuman mati. Bagi mereka eksekusi mati sudah pasti, lantas mau ngapain lagi kalau nggak mau jujur.

Faktanya tidak ada kesaksian dari mereka tentang keterlibatan Soeharto.

Kesimpulannya: Posisi Soeharto dianggap tidak penting, begitupun Pangdam DKI Umar Wirahadikusumah dan Kasal RE Martadinata meski mereka adalah Jendral dan Laksamana setingkat Jenderal.

PKI bertindak dan langsung mengumumkan bahwa kekuasaan ABRI sementara diambil alih oleh Letkol Untung. Hal ini disampaikan pada pagi hari 1 Oktober 1965 melalui corong RRI. PKI memperhitungkan bahwa semua Jenderal lain akan mematuhi pengumuman itu. Tapi perhitungan mereka salah besar. Justru Soeharto dan rekan-rekan yang menghancurkan mereka.

Maka tuduhan para pegiat PKI Baru dan para penggaduh bangsa; bahwa Soeharto tidak diculik karena terlibat PKI adalah omong kosong belaka, tuduhan yang memutar balikkan fakta, ini adalah ciri khas komunis, pun lagi keturunan dan simpatisan PKI dendam terhadap sikap heroik Soeharto dalam membumi hanguskan semua unsur-unsur yang mengandung Komunis, Marxis dan Leninsme.

Asumsi sederhananya begini ; Kasus Soeharto tidak bisa disamakan pada kejadian pada Marsekal Oemar Dhani dan Brigjen Suparjo. Kedua Jenderal ini terlibat G30S/PKI, jadi memang tidak mungkin diculik dan dibunuh. sangat berbeda dengan Mayjen Soeharto, Brigjen Umar Wirahadikusuma dan Laksamana RE. Martadinata yang tidak terlibat PKI, mereka tidak dibunuh karena dianggap remeh oleh PKI, dalam teori mereka cukup hanya dengan membunuh semua pimpinan mereka di Mabes ABRI dan otomatis yang lain langsung tabik tunduk. Antara Soeharto dan mereka memang sama-sama berpangkat Jenderal dan sama-sama tidak diculik, namun yang membedakan mereka adalah status ideologi yang dianut. Soeharto tidak berhaluan Komunis. Soeharto Pancasilais dan militer sejati, tidak ke kanan maupun ke kiri.

Setelah kekalahan telak PKI. Hanya simpatisan dan keturunan PKI atau saya menyebutnya dengan Komunis Gaya Baru (KGB) yang selalu melontarkan isyu dan asumsi negatif mengapa Soeharto tidak diculik, mereka juga menghembuskan isu bahwa Soeharto menjadi bagian dari pelaku G30S/PKI. Menekan Negara agar minta maaf pada PKI sekaligus mendogma anak negeri agar menerima faham ini dengan mengubah fakta pada buku pelajaran sejarah sekolah, dengan menghapus sejarah kelam G30S/PKI.

Jika memang Soeharto berhaluan Komunis dan terlibat G30S/PKI, maka mengapa sepanjang 32 tahun berkuasa, secara luar biasa Pancasila sangat dijunjung tinggi. Entah berapa kali kami dulu diharuskan ikut Penataran P4. Pelajaran PMP masuk dalam kurikulum wajib di Ebtanas, mata kuliah Kewiraan di Universitas juga harus lulus. Resimen Mahasiswa dan ABRI Masuk Desa digalakkan demi keamanan Negeri dari bahaya Laten komunis. Apabila seseorang ikutan test Tentara, Polisi atau PNS, dipastikan harus lulus test Mental Ideologi dan sedikitpun tidak mentolerir jika peserta terindikasi PKI walaupun keluarga jauh yang pernah terlibat, meski hanya simpatisan PKI. Jika merujuk dari cerita bahwa Soeharto tahu akan ada penculikan, saya fikir Jenderal lain juga sudah tahu, Jenderal Yani pun sudah tahu namun Pak Nas menolak agar pengamanan di rumah mereka ditambah. Adalah sangat bodoh, sangat tidak logis jikalau hanya karena mengetahui langsung dituduh terlibat, mengingat kondisi Soeharto pada hari-hari kelam tersebut disibukkan oleh kejadian putranya Tommy yang masuk RS karena tersiram kuah sup panas sehingga badannya mengalami luka bajar.

Secara militer-pun Soeharto tidak terlalu khawatir karena Soeharto tahu bahwa PKI tidak memiliki pasukan bersenjata. Soeharto baru mengetahui bahwa PKI memdoktrin Pasukan Tjakrabirawa untuk menculik rekan-rekannya adalah dari pernyataan Letkol Untung di RRI.

Sebagai Bangsa yang besar sudah sepantasnya melindungi dan menjaga nama baik para Pahlawan. Sebagai Bangsa, Indonesia menghargai jasa Soeharto yang menyelamatkan Indonesia dari Komunis. Andai PKI berhasil maka Negara ini dipastikan mirip dengan Korea Utara. Semoga negeri ini cerdas dalam melawan sebuah propaganda fitnah. Bismillah..

“Bangsa yang besar dalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya”

#TetapWaspadaKomunis


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

1 thought on “Soeharto, Mengapa Tidak Diculik PKI”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca