Oktober 9, 2026
Ilustrasi SELTIK (Sel Tikus)

Kisah Pendek Sahabat DW Menjalani Hukuman Penjaranya

Semut Ibrahim | Jakarta -Mungkin diantara sahabat Semut Ibrahim, ada yang belum tahu, mengapa sahabat kami DW ditangkap? Karena kericuhan aksi omnibus law serta penangkapan beberapa aktivis KAMI ditangkap karena diduga dibalik terjadinya keonaran pada aksi menolak omnibus law.

DW (Dedy Wahyudi) didakwa dengan pasal kumulatif yaitu UU nomor 1 tahun 1946 terkait berita bohong kenaikan tarif dasar listrik awal pandemi dan UU ITE terkait vaksin sinovac, serta pasal 207 yaitu penghinaan terhadap kepolisian, DW dituntut 5 tahun penjara, divonis PN 3 tahun 6 bulan subsider 3 bulan, hingga akhirnya kasasi 2 tahun subsider 2 bulan

Perjalanan dimulai dari penahanan di rutan bareskrim sejak 11 Oktober 2020 hingga diterbangkan (dipindahkan) kesebuah lapas pada awal September 2021. Perpindahan DW ke sebuah lapas, sama seperti prjalanan para napi yang lain, masuk ke PB atau “penampungan baru”.

Setelah masuk PB, biasanya langsung PL tapi bagi DW berbeda, Beliau langsung masuk one man one sel. Sebuah sel khusus untuk tahanan yang sudah “goyang” atau tahanan bermasalah. Sel berukuran 2×3 meter, dengan kondisi sulit air dan lainnya dan itu bukan sehari atau seminggu, tetapi 7 bulan beliau jalani disana. Sel tersebut biasa disebut dengan Sel Tikus atau SELTIK.

Selama 7 bulan dengan kiri-kanan, napi-napi kondisi stress, tendang sana tendang sini. Awalnya beliau bEpikir, ini bisa bikin ikutan gila, kuat kuatan psikis. Jangan pernah berpikir soal mandi, tetapi untuk siram kotoran BAB saja sangat sulit. Dihari hari awal, tekanan mental bukan hanya dari kondisi kamar saja, namun dari “penghuni penghuni” lainnya. 7 bulan Psikis mental diri dibuat kacau, DW jalani hari per hari dengan kondisi dan situasi diluar batas normal. Kuat atau sakit lalu tinggal mati diklinik lapas.

Waras atau jadi ikutan gila dengan kondisi tanpa ada komunikasi antar manusia karena sebelahnya rata rata stres semua. Sampai detik beliau bercerita, DW tak pernah tahu mengapa dirinya harus masuk sel tikus tersebut. Petugas lapas ditanya, semua saling melempar balik. Sampai beliau bertanya, apakah ini instruksi atau perintah dari “sana”

Semua menjawab tidak tahu. Mereka menyebutnya one man one sel, sel khusus untuk napi letter F (bermasalah), juga untuk napi vonis mati serta napi kondisi “goyang” atau stres. Sulit air, nasi cadong atau tempat nasipun di lempar dibawah, sel dikunci 24 jam dalam sehari. Mengumpulkan tetes demi tetes air dalam botol atau digigit kelabang seukuran jari telunjuk hingga meriang, atau kegiatan ngumpulkan lintah yang keluar dari pembuangan hingga mengajak bicara semut semut didinding. Itu jadi hal biasa yang dilakukan DW diselnya.

Menurut DW, apakah napi kasus politik ada yang pernah menjalani hukuman seperti dirinya? Diseltik selama 7 bulan tanpa tahu alasannya apa dan siapa yang memerintahkan. Tapi yang pasti 7 bulan dibuat dibungkam, dipaksa gila, ditekan untuk sakit, dicari cara untuk mati. Dijalani, dilawan karena pejuang itu bukan lahir dari situasi kondisi menyenangkan. Semua sudah dibikin sakit, dipenjara adalah sebuah kesakitan. Beliau DW menyebutkan 7 bulan dalam seltik itu, Al Qur’an dan sholat menjadi kawan yang mnemani, itu yang bikin DW tetap waras ketika disekelilingnya memaksa dirinya untuk menjadi gila.

Surah Al Waqiah setelah Zuhur, surah Yasin setelah Ashar dan surah Arrahman setelah Maghrib, itu tmn komunikasi bagi dirinya Beradaptasi dgn situasi yg ada, berselancar dengan penderitaan yg makin melekat adalah sebuah konsekuensi yg harus dijalani. Termasuk belajar lebih mdekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Tujuh bulan itupun DW tak pernah lepas dari puasa daudnya, mengikuti guru perjalanannya yaitu IBHRS. Ukuran sel yang hampir sama dengan ukuran kuburan. Sepi tanpa ada komunikasi, diam makin membuat menghanyutkan. Bagaimana kalau mati? Itu pertanyaan yang selalu ditanya oleh DW dalam hati.

Yang pasti 7 bulan dalam seltik, telah juga banyak melahirkan karya-karya puisi yang dibuatnya sendiri, DW dipindahakn kekamar sel umum akhirnya pada awal April menjelang idul Fitri 2022. Setelah sejak September 2021 dipaksa masuk dalam seltik tanpa tahu mengapa itu harus terjadi.

Beliau bebas murni tanpa remisi tgl 26 Maret 2023.

Editor : Bam’s


Baca juga “Pasca Gencatan Senjata, Penjajah Israel Kembali Menyerang Pemukiman Sipil”

Baca juga kisah nyata seorang wwartawan foto di Gaza dalam tajuk “KISAH TENTANG GAZA”


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca