
Disampaikan Oleh : Sutoyo Abadi, 15/06/2026
Korupsi di Indonesia sangat parah, macam – macam bentuk dan korporasi, pelakunya makin beragam, saling menopang dan melindungi dalam formasi geng besar bersekutu dengan penegak hukum, hebatnya terkesan preside sudah tidak berdaya.
Masalah utamanya bukan hanya koruptor merajalela, tetapi lemahnya sistem yang mencegah, mendeteksi, dan menghukum korupsi secara konsisten. Bahkan antar para pelaku saling mengunci, membenam kasusnya dengan melibatkan penegak hukum sebagai tamengnya.Korupsi terasa “sangat parah” bukan cuma karena jumlah kasusnya, tetapi karena skalanya besar, pelakunya lintas sektor, dan mengatasinya tanpa efek jera.
Kasus korupsi di Indonesia bukan lagi sekadar isu administratif, tetapi sudah berubah menjadi krisis legitimasi politik, itu artinya sudah bergerak mendekat dan mengancam kekuasaan.
Banyak kasus pemerintah runtuh karena korupsi yang merajalela, terjadi di beberapa negara. Pemerintah Bulgaria runtuh setelah diterjang gelombang demonstrasi antikorupsi besar pada Desember 2025. Di beberapa negara lainnya pemerintah digulingkan karena korupsi yang sangat parah adalah Georgia, Peru, Kongo/Zaire, semua pemerintah jatuh karena korupsi yang merajalela, lalu kekuasaannya berakhir dengan demo rakyat bahkan dengan kudeta.
Pada Kamis (07/05), pengadilan militer China menjatuhkan hukuman mati kepada Wei Fenghe dan Li Shangfu dengan masa penangguhan dua tahun.Penyelidikan menemukan ia “tidak memenuhi tanggung jawab politik” dan “mencari keuntungan pribadi bagi dirinya sendiri dan orang lain”.
Di Indonesia korupsi meluas akan menjadi amunisi kemarahan rakyat karena korupsi yang dianggap mengakar, kolusi elite, dan lemahnya penegakan hukum. Presiden terkesan tidak berdaya mengatasi korupsi yang sudah menggurita. Dampaknya rakyat akan diminta presiden mundur atau dipaksa mundur setelah demonstrasi memuncak di berbagai kota.
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
Saya biasa mengirim tulisan ke redaksi Semut Ibrahim ,tapi akhir-akhir ini terputus, bagaimana caranya agar saya bisa mengirim tulisan saya lagi ?
terima kasih
wassalam wr wb
Suherman