Oktober 9, 2026

Oleh : Atma

Tak penting
Apa agamamu,
Kitab sucimu,
Nabimu,
Atau nama Tuhan yang kau panggil

Ketika alam bergerak
Untuk menyeimbangkan dirinya
Ia tidak memilih
Ia tidak memilah
Ia tidak menunggu izin

Gempa datang
Tsunami menyapu
Banjir menenggelamkan
Angin menghancurkan
Tanah longsor menelan

Semua terjadi
Di tempat ibadah,
Di tanah suci,
Di pusat ajaran,
Di rumah-rumah yang katanya dijaga

Tapi tetap saja,
Musibah tak bisa dihentikan
Oleh doa,
Oleh ritual,
Oleh seruan ke langit.

Karena alam
Tidak tunduk pada simbol
Ia tunduk pada hukum :
Sebab dan akibat
Tabur dan tuai
Kerusakan dan balasan

Kita menebang hutan
Kita mencemari sungai
Kita meracuni udara
Kita mengeruk bumi

Lalu kita bertanya,
Kenapa bencana datang?

Padahal jawabannya jelas :
Karena kita sendiri yang memanggilnya

Alam tidak marah
Ia hanya menyeimbangkan
Ia hanya membersihkan
Ia hanya menormalkan tubuhnya
Yang sudah terlalu lama disakiti

Surga dan neraka
Bukan tempat jauh
Ia ada di sini
Di bumi yang kita rusak
Atau kita rawat

Allah bukan sosok di langit
Allah adalah semesta itu sendiri
Ia tidak bisa dibujuk
Ia tidak bisa dilobi
Ia hanya bisa dijaga

Jadi,
Jangan tanya kenapa Allah diam
Tanyakan kenapa kita tuli
Terhadap bisikan alam
Yang sudah lama memperingatkan

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca