Oktober 9, 2026
Garuda Pancasila, lambang NKRI

Tahukah bahwa kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 100 juta penduduk Indonesia, kita terus berjalan ke arah jurang kesenjangan yang menganga, dan ini bisa memicu ledakan konflik sosial.

Menyakitkan memang, mengetahui bahwa di negara kita so few have so much, so many have so little. Saya yakin dan berterima kasih penuh hormat pada Jenderal Purn. Gatot Nurmantyo yang membacakan puisi “Tapi Bukan Kami Punya”, mengingatkan kita kembali akan janji kemerdekaan yang tertuang dalam sila ke 5, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

semutibrahim.com | Jakarta – Akhir-Akhir ini nampak etika kehidupan berbangsa dan bernegara, mendapat tantangan, serta cobaan seiring dengan semakin kompleksnya kehidupan politik negara. Pasca reformasi bangsa Indonesia menenggelamkan Pancasila sebagai dasar Filosofinya sendiri dalam bernegara dengan mendasarkan sistem ketatanegaraan pada sistem liberalisme. Konsekuensinya etika berbangsa semakin pudar, sehingga berbagai dinamika kenegaraan bahkan kegaduan dalam negara sering muncul ke permukaan, yang mewarnai panggung politik negara.

Gagalnya Pengelolaan Negara

Saat ini kegaduhan bangsa menyeruak dengan kelompok yang menyuarakan aspirasi  “Gagalnya Pengelolaan Berbangsa dan Bernegara” dengan adanya seruan-seruan yang tak henti-hentinya. Dalam hubungan inilah maka bangsa Indonesia harus memiliki kesadaran dalam hidup berbangsa dan bernegara yang diletakkan dalam suatu fondasi etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Para pendiri Republik ini telah menyadari bahwa seluruh elemen bangsa ini terdiri atas berbagai macam suku, ras, etnis, budaya, kelompok, bahasa maupun agama, dalam mewujudkan cita-cita bersama yang mulia yaitu Kesejahteraan bagi seluruh bangsa, sebagaimana terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai staatsfundamentalnorm. (landasan umum dari suatu tatanan hukum undang-undang dasar, baca Jazim Hamidi dalam buku “Revolusi Hukum Indonesia: Makna, Kedudukan dan Implikasi Hukum Naskah Proklamasi 17 Agustus 1945 dalam Sistem Ketatanegaraan RI” (hal. 68 – red))

Maka Founding  Fathers bangsa ini meletakkan fondasi etika kehidupan berbangsa dan bernegara dengan prinsip bahwa bangsa Indonesia dilahirkan dari laki-laki dan perempuan, bersuku-suku, beraneka ras, etnis, serta golongan, namun dengan prinsip suatu tujuan yaitu membangun suatu silaturahmi-kehidupan yang baik berlandaskan pada etika. Karena Pancasila secara objektif sebagai paradigma kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila, Sosio-Kultural-Religius

Pancasila sebagai paradigma kehidupan kenegaraan dan kebangsaan sebenarnya bukanlah hanya pada tingkat legitimasi yuridis dan politik saja, melainkan juga pada tingkatan sosio-kultural-religius. Bagaimanapun perubahan akan terjadi bangsa Indonesia akan senantiasa hidup dalam kehidupan keagamaannya. Dalam upaya untuk merealisasikan cita-citanya dalam negara, bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan secara kodrati dengan harkat dan martabat Kemanusiaan. Negara dan bangsa akan eksis dan berkembang dengan baik manakala dikembangkan etika berbangsa dan bernegara yaitu Rasa Persatuan, Kebersamaan, dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu sangatlah penting diketahui dan dipahami oleh segenap rakyat Indonesia, baik kelompok elit politik negara, kalangan intelektual, ekonom, budayawan, pelajar, tokoh agama, serta elemen bangsa yang lainnya.

Mudah-mudahan ini merupakan sekelumit nilai yang dapat membawa kesejukan dan semangat bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan cita-cita bersama dalam amanah para pendiri Bangsa Indonesia, yakni masyarakat yang adil dan makmur, ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia..!!


Koningh Der Bougies, seorang Pemerhati Lingkungan, Peneliti, Observer, Adventure menulis untuk Semut Ibrahim.


Baca juga tentang konflik Rempang di sini


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

7 thoughts on “MEMANGGIL PULANG RUH PANCASILA”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca