Oktober 10, 2026

(Walkot Turun Ke Anak-Mantu, Gubernur Turun Ke Mantu, Wapres Turun Ke Anak, Wacana Ketua Partai Turun Ke Anak)

Disampaikan Oleh : Haremen

Gamabr ilustrasi

Seolah-olah ia masuk gorong-gorong got, saat keluar sudah jadi walkot Solo, sorak tepuk tangan rakyat hanyalah gema

Sementara di balik lumpur, ada jalan pintas yang tidak semua matabisa melihat

Seolah-olah ia masuk gorong-gorong got lagi,saat keluar sudah jadi gubernur DKI Jakarta

Jalanannya penuh air hitam

Tetapi di ujung lorong, lampu kamera menunggu, menyulap bau busuk menjadi wangi pencitraan

Seolah-olah ia masuk gorong-gorong got lagi,

Saat keluar sudah jadi presiden

Bukan karena peluh sawah dan ladang, melainkan karena gorong-gorong got itu

Sudah diatur arusnya menuju singgasana

Seolah-olah bukan dinasti politik, ini hanya mengkarbitkan anak-anak dan mantunya

Seolah-olah anaknya tumbuh sendiri jadi pewaris singgasana

Mantunya naik panggung sendiri dengan langkah oportunis berwajah antagonis dan keduanya begitu mudah disulap—dari bayang-bayang Istana, di bantu para sandera,langsung menjadi walkot dengan restu gelap gorong-gorong got

Seolah-olah ia masuk gorong-gorong got lagi, saat keluar sudah jadi presiden untuk kedua kalinya, kali ini gorong-gorong got itu lebih licin, terjal, tajam, lebih dalam

Setelah bargaining position alot dengan lawan lemah iman, berikan posisi strategis dan itu berhasil mengantarnya kembali ke kursi yang sama lima tahun lalu

Ia menikahkan adik perempuan dengan ketua MK, dan dari rahim pernikahan itu lahirlah MK90, sebuah pintu ajaib, tanpa sidang pembuktian perkara

Dari daftar langsung putusan, telah melahirkan legitimasi untuk melompatkan anaknya ke singgasana dengan cara yang tidak lazim

Hingga wajah anaknya muncul gagah di Bina Graha

Seolah-olah ia tidak menyuruh, namun anak lainnya baru dua hari masuk gorong-gorong got partai

Saat keluar sudah jadi ketua, seakan-akan etika, moral, hukum, waktu tidak berlaku bagi darah dagingnya karena gorong-gorong got itu menyulap usia jadi kuasa

Seolah-olah ia tidak menyuruh dua anak, satu mantunya,dan satu adik perempuannya masuk gorong-gorong got, saat keluar anaknya sudah jadi Wapres, mantunya sudah jadi Gubernur, anak lainnya sudah jadi ketua partai dan adik perempuannya sudah jadi permaisuri Ketua MK

Seandainya partai pengusung yang besarkan namanya setuju, tiga periode jadi restu,

Ia siapkan jalan penuh tipu daya, masuk gorong-gorong got lagi, dan kursi tidak akan pernah berganti rupa

Saat ia kembali muncul di istana, maka negeri hanya mengenal satu namanya, tidak akan pernah lahir presiden kedelapan

Sejarah berhenti di ujung gorong-gorong got, demokrasi tinggal bayangan diam

Kini ia berdiri di tepi gorong-gorong got yang sama, namun ia tidak berani lagi melangkah masuk, sebab ia tahu pasti—saat keluar

Bukan kursi yang menunggu, melainkan borgol dingin

Bukan istana yang menyambut, melainkan OTT

Rompi Orange dan jeruji besi KPK atau KEJAGUNG

Seolah-olah sejarah menutup lubang gorong-gorong got itu dan bau yang ia tinggalkan tidak lagi bisa dipoles dengan hilirisasi pencitraannya tinggal catatan busuk, tentang bagaimana kekuasaan pernah terlahir di lorong-lorong kegelapan

“Masuk Gorong-Gorong Got Muncul Di Istana”

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca