(Walkot Turun Ke Anak-Mantu, Gubernur Turun Ke Mantu, Wapres Turun Ke Anak, Wacana Ketua Partai Turun Ke Anak)
Disampaikan Oleh : Haremen

Seolah-olah ia masuk gorong-gorong got, saat keluar sudah jadi walkot Solo, sorak tepuk tangan rakyat hanyalah gema
Sementara di balik lumpur, ada jalan pintas yang tidak semua matabisa melihat
Seolah-olah ia masuk gorong-gorong got lagi,saat keluar sudah jadi gubernur DKI Jakarta
Jalanannya penuh air hitam
Tetapi di ujung lorong, lampu kamera menunggu, menyulap bau busuk menjadi wangi pencitraan
Seolah-olah ia masuk gorong-gorong got lagi,
Saat keluar sudah jadi presiden
Bukan karena peluh sawah dan ladang, melainkan karena gorong-gorong got itu
Sudah diatur arusnya menuju singgasana
Seolah-olah bukan dinasti politik, ini hanya mengkarbitkan anak-anak dan mantunya
Seolah-olah anaknya tumbuh sendiri jadi pewaris singgasana
Mantunya naik panggung sendiri dengan langkah oportunis berwajah antagonis dan keduanya begitu mudah disulap—dari bayang-bayang Istana, di bantu para sandera,langsung menjadi walkot dengan restu gelap gorong-gorong got
Seolah-olah ia masuk gorong-gorong got lagi, saat keluar sudah jadi presiden untuk kedua kalinya, kali ini gorong-gorong got itu lebih licin, terjal, tajam, lebih dalam
Setelah bargaining position alot dengan lawan lemah iman, berikan posisi strategis dan itu berhasil mengantarnya kembali ke kursi yang sama lima tahun lalu
Ia menikahkan adik perempuan dengan ketua MK, dan dari rahim pernikahan itu lahirlah MK90, sebuah pintu ajaib, tanpa sidang pembuktian perkara
Dari daftar langsung putusan, telah melahirkan legitimasi untuk melompatkan anaknya ke singgasana dengan cara yang tidak lazim
Hingga wajah anaknya muncul gagah di Bina Graha
Seolah-olah ia tidak menyuruh, namun anak lainnya baru dua hari masuk gorong-gorong got partai
Saat keluar sudah jadi ketua, seakan-akan etika, moral, hukum, waktu tidak berlaku bagi darah dagingnya karena gorong-gorong got itu menyulap usia jadi kuasa
Seolah-olah ia tidak menyuruh dua anak, satu mantunya,dan satu adik perempuannya masuk gorong-gorong got, saat keluar anaknya sudah jadi Wapres, mantunya sudah jadi Gubernur, anak lainnya sudah jadi ketua partai dan adik perempuannya sudah jadi permaisuri Ketua MK
Seandainya partai pengusung yang besarkan namanya setuju, tiga periode jadi restu,
Ia siapkan jalan penuh tipu daya, masuk gorong-gorong got lagi, dan kursi tidak akan pernah berganti rupa
Saat ia kembali muncul di istana, maka negeri hanya mengenal satu namanya, tidak akan pernah lahir presiden kedelapan
Sejarah berhenti di ujung gorong-gorong got, demokrasi tinggal bayangan diam
Kini ia berdiri di tepi gorong-gorong got yang sama, namun ia tidak berani lagi melangkah masuk, sebab ia tahu pasti—saat keluar
Bukan kursi yang menunggu, melainkan borgol dingin
Bukan istana yang menyambut, melainkan OTT
Rompi Orange dan jeruji besi KPK atau KEJAGUNG
Seolah-olah sejarah menutup lubang gorong-gorong got itu dan bau yang ia tinggalkan tidak lagi bisa dipoles dengan hilirisasi pencitraannya tinggal catatan busuk, tentang bagaimana kekuasaan pernah terlahir di lorong-lorong kegelapan
“Masuk Gorong-Gorong Got Muncul Di Istana”
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.