Oktober 9, 2026
Foto ilustrasi di pantai Brebes “Gumpalan Pasir”

Hidup adalah rangkaian gerbong waktu yang terus berjalan,
Ada yang setia menunggui akhir dari sebuah perjalanan.
Ada pula yang bergegas, agar segera usai agar bisa melintasi rel berikutnya.
Pun ada yang menikmati gerbong-gerbong waktu berjalan melintasi kodratnya,
Menangkap bising sebagai nada, lalu mensyukurinya.

Gerbong waktu terus berjalan meski sarat beban.

Bersabarlah,
Akan tiba gerbong waktuku di ujung lintasan.
Berhenti pada derit akhir nada kehidupan.
Lalu diam, menua berkarat, dipinggirkan,
Dan meringkuk di Balai Yasa kenangan,
Atau hilang.

Hidupku adalah gerbong kusam yang berjalan.
Acapkali meninggalkan jejak hitam;
Derit kebisingan,
Polusi sekresi,
Kepul debu mengotori.

Maaf,… laluku memang tak sesuai morfologi keelokan,
Apalagi kesucian.

(Tarumanegara Dalam, 26-08-2023) – Puisi SangLangit


Baca juga cerpen original di sini

Baca juga tulisan kolumnis yang kritis di sini


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca