Oktober 10, 2026

semutibrahim.com – Pemilihan umum, disingkat pemilu. Seringkali juga di sebut pesta rakyat atau pesta demokrasi. Melalui mekanisme pemilihan langsung kita memilih anggota DPR, baik pusat maupun daerah, kepala pemerintahan pusat (presiden) dan daerah. Rumusnya, rakyat yang menentukan siapa yang jadi pemimpin dan wakil mereka. Itu sesuai dengan teori demokrasi.

Foto meja rekadsi Semut Ibrahim, dari sini suara semut-semut di publish

Rakyat bebas memilih yang telah di pilihkan

Kenyataannya, rakyat digiring untuk memilih orang-orang tertentu. Setelah terpilih, orang-orang ini sibuk menikmati jabatan, membagi jabatan kepada kroni-kroni mereka. Ada sebagian dari mereka yang terang-terangan menggarong uang rakyat untuk memperkaya diri. Yang tidak menggarong pun lebih banyak diam terhadap penggarongan di depan mata.

Misalnya Papua, Daerah ini sebenarnya kaya raya. Tapi menjadi provinsi termiskin di Indonesia. Pemerintah pusat mengalokasikan dana khusus untuk Papua, jumlahnya sampai 7 triliun. Tapi banyak sekali pemimpinnya, baik di tingat provinsi maupun kabupaten/kota yang korup.

Sebenarnya bukan hanya Papua. Di daerah-daerah yang tidak terpencil seperti di Jawa pun banyak pemimpin korup. Ada yang sampai sanak keluarga menjadi kepala daerah bergantian. Padahal tidak ada prestasinya.

Berdasarkan data BPS, saat ini Papua menduduki peringkat pertama provinsi termiskin. Angka kemiskinan di Bumi Cendrawasih mencapai 26,80%. Lalu, di juara kedua adalah provinsi Papua Barat dengan total kemiskinan mencapai 21,43%. Kemudian menyusul posisi ketiga Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan tingkat kemiskinan 20,23%.

Posisi keempat dihuni oleh provinsi Maluku, yang mana tingkat kemiskinannya 16,23%. Kemudian urutan kelima ada Gorontalo, yang juga tercatat sebagai provinsi termiskin di pulau Sulawesi, dengan angka kemiskinan 15,51%.

Di posisi keenam dan ketujuh diduduki oleh Nanggroe Aceh Darussalam dan Bengkulu. Dua provinsi di Sumatera ini memiliki tingkat kemiskinan cukup tinggi, di Aceh sebesar 14,75% dan di Bengkulu menyentuh 14,34%.

PEMILU, bukan memilih yang terbaik

Masalahnya di mana? Pemilihan umum (PEMILU) tidak benar-benar menjadi ajang kompetisi untuk memilih yang terbaik. Yang terpillih adalah yang banyak uangnya. Atau sekadar yang populer saja. Populer bukan karena punya kemampuan atau rekam jejak kerja. Yang terpilih adalah yang bisa dijejalkan kepada pemilih untuk dipilih.

Rakyat pada umumnya tidak paham apa konsekuensi memilih. Mereka memilih karena alasan-alasan sederhana seperti diberi uang, dapat lemparan kaos, atau digiring dengan dalil-dalil primordial seperti agama dan suku. Atau oleh jargon-jargon tanpa isi, misalnya “PARTAI SACHETAN INDONESIA MENANG BPJS GRATIS”. Jangankan masyarakat desa, orang-orang terdidik di kota saja pun banyak yang begitu.

Yang disodorkan pun memang sangat sedikit yang berkualitas. Akhirnya, siapa pun yang dipilih rakyat, hasilnya sama saja. Maka telitilah yang sangat sedikit itu, jangan terpesona oleh banyaknya karena program pem-banyak-kan oleh lembaga survei.

Apa yang harus kita lakukan? Kritislah terhadap politikus. Jangan mudah puas. Tagih mereka sampai ke akar-akarnya. Jangan ada ruang untuk berkata “setidaknya dia sudah begini dan begitu”. Terlebih, jangan pakai dalil “setidaknya” untuk memaafkan pemimpin yang nyata-nyata lalai dalam suatu hal, apalagi dalam beberapa hal.

Jangan enggan mengkritik pemimpin yang lemah dalam penegakan hukum. Misalnya, hanya karena dia sudah membangun infrastruktur. Jangan beri dalih pembelaan. Biarlah dia yang membela diri. Pembelaan diri itu pun tetap harus kita kritik. Lha, ngapain kamu membela, padahal yang menikmati uang, privilege, dan lain-lainnya adalah dia. Sementara kamu, masih berkutat dengan gaji kecil, pelayanan ala kadarnya, masih harus berkeluh kesah karena hak-hakmu tidak mereka penuhi.

Jangan bangga melihat pilihanmu jadi pejabat. Persis seperti tidak perlu bangga melihat Messi memegang Piala Dunia, dia dengan kejayaan dan kekayaannya, sementara kamu tetap terpuruk.

Berhenti mendukung politikus seperti penonton sepak bola. Jadilah tuan bagi politikus. Ya, kamu adalah tuan mereka. Kalau tidak begitu sikapmu, pemilihan umum benar-benar akan jadi “pemilu”, pejabat yang berpesta dan rakyat yang pilu. Ingatlah ketika mereka mengemis termehek-mehek meminta suara kita.

Sadarlah wahai sudaraku, bahwa RAKYATLAH TUAN ITU.

Salam Santun Semut Ibrahim


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca