
Membedah Klaim Penanggalan Tua Lukisan Gua Liang Metanduno
Disampaikan Oleh : Mohammad Basyir Zubair (Embas)
Ketika sebuah angka meluncur ke publik 67.800 tahun, sulit bagi siapa pun untuk tidak terpukau. Media Indonesia menyebutnya “lukisan tertua di dunia.” Griffith University merilis press release yang disambut riuh. BRIN berdiri tegak di podium kebanggaan. Nama Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, tiba-tiba ada di peta global arkeologi.
Tapi pertanyaan yang jarang diajukan justru adalah yang paling penting: angka 67.800 itu dari mana tepatnya, bagaimana ia dihitung, siapa yang menghitungnya, dan apakah ia sungguh-sungguh mewakili usia lukisan itu sendiri, atau sekadar usia mineral yang menumpuk di atasnya?
Mungkin artikel yang saya tulis ini tidak akan Anda temukan di kolom berita. Ini bukan artikel yang merayakan. Ini artikel yang bertanya.
“Uranium-series dating menentukan kapan kalsit terbentuk, bukan kapan tangan manusia menyentuh dinding gua itu. Ini perbedaan yang bukan sekadar teknis.”
I. Metode yang Dipakai: Canggih, Namun Tidak Bebas Masalah
A. Apa Itu Uranium-Series Dating?
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah uranium-series dating (U-series), khususnya dengan teknik laser ablation, sebuah inovasi yang memungkinkan pengambilan sampel tanpa merusak permukaan. Secara prinsip, metode ini mengukur rasio peluruhan radioaktif uranium (U) menjadi thorium (Th) di dalam mineral kalsit, lapisan tipis batu kapur yang mengendap secara alami di atas dan kadang di bawah pigmen lukisan.
Logika dasarnya: jika kalsit terbentuk di atas lukisan, maka usia kalsit adalah usia minimum lukisan. Lukisan harus sudah ada sebelum kalsit itu mengendap. Jika kalsit ada di bawah lukisan, maka usianya adalah batas maksimum, lukisan dibuat setelah kalsit itu ada. Sejauh ini, masuk akal. Tapi persoalannya justru ada di sini.
FAKTA ILMIAH: Apa Yang Sebenarnya Diukur U-Series?
U-series dating TIDAK mengukur pigmen, bukan mengukur tangan manusia, bukan mengukur momen pembuatan seni.
U-series mengukur KALSIT, mineral sekunder yang mengendap dari air yang menetes di dalam gua.
Usia kalsit = batas kronologis (minimum atau maksimum) bagi lukisan. Bukan usia lukisan itu sendiri.
Jarak antara usia kalsit dan usia lukisan bisa berbulan-bulan, berabad-abad, bahkan lebih lama.
B. Laser Ablation: Presisi yang Sering Disalahpahami
Teknik laser ablation memungkinkan pengambilan sampel mikro dari titik kalsit yang sangat kecil, ukuran yang diukur dalam mikrometer. Ini memang sebuah kemajuan besar dibandingkan metode konvensional yang harus mengambil sampel lebih besar dan merusak permukaan.
Namun presisi pengukuran tidak otomatis berarti akurasi representasi. Laser ablation mengukur satu titik sangat kecil dari kalsit yang sangat spesifik. Pertanyaannya: apakah titik kalsit yang dipilih itu benar-benar mewakili seluruh peristiwa pembentukan lapisan yang relevan dengan lukisan?
Ini bukan soal apakah alat ukurnya bagus. Ini soal apakah yang diukur adalah benda yang tepat, dari lokasi yang tepat, pada lapisan yang tepat.
II. Persoalan Keterwakilan: Apakah Kalsit yang Diambil Sudah Mewakili Umur Lukisan?
Di sinilah inti keberatan metodologis yang paling mendasar, dan yang paling jarang dibahas di media.
A. Kalsit Adalah Produk Lingkungan, Bukan Produk Seniman
Kalsit speleothem yaitu mineral yang mengendap di dalam gua, terbentuk karena proses fisika-kimia: air yang mengandung karbonat menetes dari atap gua, melepaskan CO2, dan mengendapkan kalsit. Proses ini dipengaruhi oleh temperatur, kelembaban, pH air, dan permeabilitas batuan. Ia tidak peduli dengan lukisan. Ia tidak peduli dengan kapan tangan manusia purba menekan dinding.
Artinya: di satu bidang dinding yang sama, kalsit bisa mengendap lebih dulu di satu sudut dan jauh lebih lambat di sudut lain. Dua titik kalsit yang berjarak dua sentimeter bisa memiliki usia yang berbeda ribuan tahun, hanya karena aliran air mikro di dalam batuan berbeda.
“Satu titik kalsit dari satu sudut gua tidak serta merta mewakili keseluruhan permukaan di mana lukisan itu berada. Ini bukan kelemahan alat, ini kelemahan asumsi.”
B. Di Mana Persis Kalsit Diambil?
Publikasi di Nature menyebutkan bahwa penanggalan dilakukan terhadap kalsit yang berada di atas dan di bawah pigmen lukisan. Tapi detail krusial yang absen dari laporan media dan yang perlu dikritisi bahkan dari paper aslinya adalah: berapa banyak titik pengambilan sampel yang dilakukan? Di mana posisinya relatif terhadap motif lukisan?
Apakah kalsit tersebut merupakan lapisan kontinu yang langsung bersentuhan dengan pigmen, atau ada celah, retakan, atau lapisan antara?
Kalsit yang terpisah dari pigmen bahkan oleh lapisan tipis debu atau mineral lain bisa memberikan usia yang tidak relevan dengan lukisan itu. Pertanyaan ini bukan nihilisme, ini adalah protokol standar peer review yang seharusnya terjawab secara eksplisit.
DEBAT ILMIAH: Pertanyaan yang Harus Dijawab Paper Aslinya
1. Berapa jumlah titik sampling kalsit yang dilakukan pada motif cap tangan tertua ini?
2. Apakah semua pengukuran memberikan hasil yang konsisten, atau ada outlier yang dieleminasi?
3. Apakah kalsit yang diukur berada di atas pigmen (usia minimum) atau di bawahnya (usia maksimum)?
4. Bagaimana kondisi mikro-stratigrafi dinding pada titik tersebut?
5. Apakah ada kontaminasi uranium dari sumber eksternal (air tanah, perembesan mineral lain)?
C. Masalah Open System vs. Closed System
U-series dating bekerja optimal dalam sistem tertutup (closed system), di mana uranium dan thorium tidak bergerak setelah kalsit terbentuk. Namun gua adalah lingkungan yang dinamis. Air terus mengalir. Mineral bergerak. Uranium bisa larut dan mengendap ulang (detrital contamination). Jika sistem terbuka terjadi, usia yang dihitung bisa lebih tua atau lebih muda dari yang sebenarnya.
Makalah-makalah sebelumnya dari tim Aubert (termasuk yang dikritik oleh beberapa peneliti dalam konteks temuan Sulawesi 2014 dan 2019) telah mengakui risiko ini. Pertanyaannya adalah: bagaimana paper Nature 2026 ini menangani masalah open system secara spesifik untuk sampel kalsit Liang Metanduno?
III. Satu Laboratorium, Satu Otoritas: Cukupkah?
Penelitian ini melibatkan tiga institusi: Griffith University, BRIN, dan Southern Cross University. Dua dari tiga adalah lembaga Australia. Laboratorium penanggalan utama yang digunakan adalah milik tim yang sama, Geoarchaeology and Archaeometry Research Group (GARG) di Southern Cross University, yang dipimpin Prof. Renaud Joannes-Boyau.
A. Independensi Lab sebagai Standar Ilmiah
Dalam sains normal, validasi sebuah temuan yang diklaim sebagai “tertua di dunia” idealnya melibatkan konfirmasi independen dari laboratorium lain. Ini bukan soal meragukan integritas peneliti, ini soal struktur verifikasi ilmiah itu sendiri. Satu laboratorium, satu metode, satu tim bahkan jika semuanya benar tetap merupakan satu mata rantai yang belum dikonfirmasi.
Perlu dicatat: temuan lukisan Sulawesi sebelumnya (Leang Timpuseng, 2014) yang dipublikasikan oleh tim yang sama sempat mendapat pertanyaan kritis dari peneliti lain, termasuk soal potensi kontaminasi detrital thorium dan masalah open-system. Debat itu tidak selesai dengan cepat.
TITIK BALIK: Standar Validasi untuk Klaim “Tertua di Dunia”
Dalam arkeologi prasejarah, klaim yang menyatakan sesuatu sebagai ‘tertua yang pernah ditemukan’ memerlukan standar verifikasi yang lebih tinggi bukan lebih rendah daripada klaim biasa.
Prinsip ini dikenal sebagai ‘extraordinary claims require extraordinary evidence’ (Carl Sagan).
Konfirmasi dari laboratorium independen dengan metode yang berbeda (misalnya: OSL atau AMS radiocarbon pada material organik terkait) adalah standar yang seharusnya dipenuhi sebelum klaim ini dinyatakan definitif.
B. Mengapa Crosscheck Antar-Metode Penting?
Idealnya, usia lukisan gua dikonfirmasi menggunakan lebih dari satu metode. Optically Stimulated Luminescence (OSL) misalnya, dapat mengukur kapan terakhir kali mineral di sekitar pigmen terpapar cahaya. Metode ini berbeda secara fundamental dari U-series dan bisa memberikan crosscheck yang berharga.
Selain itu, jika ada material organik yang bisa diasosiasikan dengan lukisan arang, tulang, sisa organik dalam lapisan sedimen yang terkait, AMS radiocarbon meskipun hanya mampu menjangkau sekitar 50.000 tahun ke belakang, tetap bisa memberikan batas bawah yang berguna.
Ketiadaan crosscheck bukan berarti temuan salah. Tapi ketiadaannya merupakan celah yang seharusnya disebut secara jujur, bukan ditutupi oleh narasi kemenangan.
IV. Masalah Narasi: Antara Sains dan Kepentingan
A. Press Release Bukan Paper
Yang beredar di media Indonesia dan bahkan di banyak media internasional, adalah press release dari Griffith University, bukan isi paper Nature yang asli. Press release adalah dokumen komunikasi, bukan dokumen ilmiah. Ia dirancang untuk menarik perhatian, bukan untuk mencantumkan ketidakpastian.
Ketika media menulis “67.800 tahun” tanpa menyebut error bar, tanpa menyebut bahwa angka itu adalah usia minimum kalsit (bukan usia lukisan secara definitif), tanpa menyebut bahwa ini belum direplikasi oleh laboratorium independen, itulah saat sains berubah menjadi spektakel.
“67.800 tahun adalah angka minimum, bukan angka pasti. Usia lukisannya bisa sama, bisa lebih muda, bahkan mungkin jauh lebih muda jika ada persoalan stratigrafi yang belum terselesaikan.”
B. Kepentingan Institusional dan Pendanaan
Penelitian ini didanai oleh Australian Research Council (ARC), Google Arts & Culture, dan National Geographic Society. Ini bukan tuduhan, ini transparansi yang perlu dicatat. Institusi pendana memiliki kepentingan terhadap narasi yang kuat. Temuan yang lebih dramatik lebih mudah mendapatkan liputan, dan liputan yang lebih luas memudahkan pendanaan berikutnya.
Kita tidak perlu menjadi sinis untuk mengakui bahwa ekosistem ilmu pengetahuan modern bukan ruang netral. Di dalamnya ada persaingan, ada tekanan publikasi, ada dinamika reputasi. Seorang peneliti sekelas Maxime Aubert yang telah membangun karier di atas lukisan Sulawesi memiliki, secara logis, taruhan yang besar dalam setiap temuan baru dari kawasan yang sama.
Sekali lagi: ini bukan tuduhan. Ini adalah pertanyaan struktural yang seharusnya menjadi bagian dari diskusi ilmiah publik.
V. Posisi Indonesia: Bangga Boleh, Kritis Harus
Saya, sebagai arkeolog amatir yang telah mengikuti perkembangan rock art Sulawesi sejak penemuan Leang Timpuseng 2014, merasakan kebanggaan itu. Indonesia punya warisan prasejarah yang luar biasa. Bahwa Sulawesi, bukan Eropa, bukan Afrika, menjadi kandidat tertua seni cadas dunia adalah balik meja besar dalam sejarah arkeologi.
Tapi kebanggaan nasional tidak boleh menjadi anestesi terhadap pertanyaan ilmiah. Justru karena temuan ini milik Indonesia, kita berhak bahkan berkewajiban untuk memastikan bahwa klaim yang diajukan atas nama tanah kita berdiri di atas fondasi metodologis yang kokoh.
BATAS KLAIM: Apa yang Boleh dan Tidak Boleh Kita Simpulkan Saat Ini
BOLEH disimpulkan:
→ Kalsit yang berada di atas cap tangan Liang Metanduno berumur setidaknya 67.800 tahun.
→ Ini berarti lukisan itu sudah ada sebelum kalsit tersebut terbentuk.
→ Temuan ini memperkuat argumen bahwa Sulawesi memiliki tradisi seni cadas yang sangat tua.
BELUM BOLEH disimpulkan (tanpa verifikasi lebih lanjut):
→ Bahwa lukisan itu TEPAT berusia 67.800 tahun.
→ Bahwa ini PASTI lukisan tertua di dunia (bukan hanya tertua yang ditemukan dan dapat dipenanggalan).
→ Bahwa metodologi ini bebas dari persoalan open-system atau kontaminasi detrital.
→ Bahwa satu titik kalsit mewakili seluruh usia permukaan tempat lukisan itu dibuat.
A. Di Mana Peran Arkeolog Indonesia?
Dr. Adhi Agus Oktaviana dari BRIN adalah satu-satunya peneliti Indonesia yang disebut dalam laporan ini. Ia ahli rock art yang sangat mumpuni. Tapi pertanyaan yang perlu diajukan secara institusional: di mana peran BRIN dalam proses penanggalan itu sendiri? Apakah ada laboratorium Indonesia yang dilibatkan dalam analisis U-series ini, atau peran Indonesia lebih pada identifikasi lapangan sementara analisis krusial dilakukan sepenuhnya di Australia?
Jika demikian, maka kita menghadapi pola lama yang sudah berulang sejak era kolonial: objek temuan ada di Indonesia, analisis dilakukan di luar, dan Indonesia menjadi penonton atas klaim tentang warisannya sendiri. Ini bukan soal curiga, ini soal kemandirian ilmiah yang harus terus dibangun.
“Laboratorium penanggalan yang mampu menjalankan U-series di tingkat presisi ini seharusnya menjadi prioritas pembangunan kapasitas ilmiah nasional, bukan sesuatu yang kita serahkan sepenuhnya kepada mitra asing.”
VI. Apa yang Seharusnya Dilakukan Selanjutnya
Kritik ini tidak diajukan untuk membatalkan temuan. Ia diajukan untuk mendorong sains yang lebih baik. Berikut agenda yang, menurut penulis, seharusnya menjadi prioritas:
AGENDA ILMIAH YANG PERLU DIDESAK
1. REPLIKASI INDEPENDEN
Laboratorium lain (dari Eropa, Amerika, atau idealnya Asia Tenggara) harus melakukan U-series dating pada sampel berbeda dari Liang Metanduno untuk konfirmasi.
2. CROSSCHECK METODE : Apakah ada cara untuk menggunakan OSL atau metode lain pada sedimen atau mineral yang terasosiasi dengan stratum lukisan?
3. TRANSPARANSI DATA MENTAH : Publish data lengkap termasuk semua titik sampling, rasio U/Th, error bar, dan hasil pengukuran yang tidak terpakai (inklusi outlier). Open science bukan slogan.
4. ANALISIS MIKRO-STRATIGRAFI : Dokumentasi detail kondisi kalsit relatif terhadap pigmen, termasuk ketebalan lapisan, kontinuitas, dan potensi gap.
5. KEMANDIRIAN BRIN : Dorong pengembangan kapasitas laboratorium geoarkeologi di Indonesia sendiri, sehingga analisis temuan Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada fasilitas asing.
Penutup: Sains yang Sehat Tidak Takut pada Pertanyaan
Angka 67.800 tahun mungkin benar. Mungkin juga, setelah verifikasi lebih lanjut, ia akan sedikit bergeser, lebih muda atau justru lebih tua. Sains adalah proses, bukan produk. Temuan terbaik dalam sejarah arkeologi pun pernah direvisi.
Yang tidak boleh direvisi adalah standar pertanyaan kita. Sebagai bangsa yang warisannya diklaim sebagai yang tertua di dunia, kita tidak cukup hanya berdiri tepuk tangan. Kita harus bertanya: metodenya apa, sampelnya dari mana, siapa yang memverifikasi, dan apa yang masih belum kita ketahui.
Bukan karena kita meragukan nenek moyang kita yang melukis di Liang Metanduno, mereka nyata, dan karya mereka luar biasa. Tapi justru karena kita menghormati mereka, kita wajib memastikan angka yang kita sematkan pada karya mereka adalah angka yang bisa dipertanggungjawabkan.
“Seni cadas Sulawesi tidak membutuhkan angka yang dibesar-besarkan untuk menjadi luar biasa. Ia sudah luar biasa. Justru karena itu, ia layak mendapat sains yang juga luar biasa, ketat, transparan, dan tidak takut diuji.”
Referensi dan Sumber Utama
Sumber Primer:
Aubert, M., Oktaviana, A.A., Joannes-Boyau, R., et al. (2026). “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi.” Nature. [DOI akan tersedia melalui akses institusional]
Griffith University Press Release (22 Maret 2026): “This 67,800-year-old handprint is the oldest art ever found.” Griffith Centre for Social and Cultural Research (GCSCR).
Aubert, M., Brumm, A., et al. (2014). “Pleistocene cave art from Sulawesi, Indonesia.” Nature, 514, 223–227.
Aubert, M., et al. (2019). “Earliest hunting scene in prehistoric art.” Nature, 576, 442–445.
Sumber Metodologis:
Eggins, S.M., et al. (2010). “Analyzing Biogenic Carbonate Diagenesis and Paleoproxy Reliability Using In Situ Trace Element Laser Ablation ICP-MS Analysis of Foraminifera.” Geochimica et Cosmochimica Acta.
Pike, A.W.G., et al. (2012). “U-Series Dating of Paleolithic Art in 11 Caves in Spain.” Science, 336, 1409–1413.
Pettitt, P. & Pike, A. (2007). “Dating European Palaeolithic cave art: progress, prospects, problems.” Journal of Archaeological Method and Theory, 14(3), 279–309.
Plagnes, V., et al. (2003). “Cross dating (Th/U-14C) of calcite covering prehistoric paintings in the Cougnac cave (South France).” Journal of Archaeological Science, 30(12), 1627–1636.
Sumber Kontekstual:
O’Connor, S., et al. (2010). “Pelagic Fishing at 42,000 Years Before the Present and the Maritime Skills of Modern Humans.” Science, 334(6059), 1117–1121.
Clarkson, C., et al. (2017). “Human occupation of northern Australia by 65,000 years ago.” Nature, 547, 306–310.
Marwick, B. (2020). “Open access to publications and data in archaeology.” Journal of World Prehistory.
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.