
Disampaikan Oleh : Suherman
Narasi bahwa “jika memakai standar 2 dolar per hari maka 50% WNI miskin” sering dipakai untuk menggambarkan beratnya kondisi ekonomi rakyat. Namun angka seperti itu perlu dibaca hati-hati, karena ukuran kemiskinan internasional memiliki beberapa metodologi berbeda dan tidak bisa langsung disamakan begitu saja dengan kurs nominal harian.
Bank Dunia saat ini menggunakan garis kemiskinan internasional yang diperbarui berbasis purchasing power parity (PPP), bukan sekadar kurs dolar biasa. Untuk negara berpendapatan menengah ke bawah seperti Indonesia, ambang yang sering dipakai dalam analisis adalah US$3,65 per hari atau US$6,85 per hari (PPP), tergantung kategori pengukuran kesejahteraan. Dengan ukuran ini, proporsi penduduk yang rentan atau berada dekat garis kemiskinan memang jauh lebih besar daripada angka kemiskinan ekstrem resmi pemerintah. Namun itu tidak otomatis berarti 50% penduduk Indonesia pasti miskin secara resmi.
Meski demikian, substansi kritiknya valid : angka kemiskinan resmi sering tidak sepenuhnya menggambarkan tekanan hidup nyata masyarakat. Sebab banyak keluarga memang :
– tidak tercatat miskin secara statistik,
– tetapi hidup sangat dekat dengan garis rentan,
– mudah jatuh miskin jika terkena PHK, sakit, atau kenaikan harga pokok.
Di sisi lain, utang pemerintah juga meningkat dalam nominal dari tahun ke tahun seiring kebutuhan pembiayaan negara meski yang lebih penting dianalisis adalah rasio, struktur, dan kemampuan bayar, bukan nominal semata. Rakyat tidak hidup dari debat metodologi.
Mereka hidup dari harga beras, biaya sekolah, tarif listrik, dan kesempatan kerja karena bagi keluarga yang penghasilannya pas-pasan, perbedaan antara “miskin statistik” dan “tidak miskin statistik” sering tak terasa di meja makan.
Maka persoalan utamanya bukan sekadar berapa angka kemiskinan di laporan tetapi apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar meningkatkan daya beli rakyat.
Pada akhirnya, sebuah negara tidak cukup dinilaidari seberapa indah tabel ekonominya, melainkan dari seberapa banyak warganya yang bisa hidup layak tanpa terus cemas tentang kebutuhan dasar esok hari.
15.01/6 Mei 2026
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.