
Tragedi Kasunanan Surakarta : Ketika Kerajaan Dijual, Dibelah, dan Dikhianati
Disampaikan Oleh : Mohammad Basyir Zubair (Embas)
Bayangkan ini, sebuah istana yang dibangun dari reruntuhan dan air mata, dikhianati dari dalam oleh orang-orang yang paling dipercaya, lalu dibelah oleh tangan-tangan asing yang jauh di Eropa bahkan tidak tahu bagaimana mengeja nama para raja yang mereka atur nasibnya. Itulah Kasunanan Surakarta Hadiningrat, bukan sekadar kerajaan, melainkan panggung tragedi terbesar dalam sejarah Jawa.
Kita diajarkan di sekolah bahwa Perjanjian Giyanti 1755 membagi Mataram menjadi dua. Seolah ini peristiwa yang wajar, bak pembagian warisan yang damai di antara saudara. Padahal di balik selembar perjanjian itu tersimpan penghinaan, pengkhianatan, ambisi yang haus darah, dan yang paling menyakitkan, keputusan seorang raja yang menyerahkan kedaulatannya kepada kongsi dagang paling rakus di dunia. Inilah kisah yang sesungguhnya.
I. DARI ABU PLERET : LAHIRNYA KARTASURA
Ketika pasukan pemberontak meluluhlantakkan Keraton Pleret pada masa akhir Amangkurat I, yang tersisa hanyalah dinding-dinding berlumur noda dan nama yang terlanjur harum oleh darah. Amangkurat II raja yang naik tahta di atas bantuan VOC, mengerti bahwa ibukota yang hancur tidak bisa memancarkan wibawa. Maka ia memilih lahan baru : Wonokarto. Di sanalah, pada tahun 1679, dibangunlah Kasunanan Kartasura Hadiningrat. Tetapi sejarah tidak pernah membiarkan istana baru tumbuh dengan damai.
TITIK BALIK
Kartasura dibangun 1679 oleh Amangkurat II sebagai pengganti Pleret yang hancur akibat pemberontakan Trunojoyo. Perlu dicatat : VOC sudah hadir sejak awal sebagai ‘sekutu’, artinya utang dan ketergantungan sudah menjadi fondasi kerajaan baru ini sebelum batu pertama diletakkan.
Bertahun-tahun berganti raja, berganti intrik. Hingga masa Pakubuwono II, kerajaan menghadapi musuh yang datang bukan dari luar, melainkan dari tengah pasar dan gang-gang sempit kota, orang-orang Tionghoa yang selama ini diperas oleh VOC akhirnya bangkit. Mereka bersekutu dengan orang Jawa yang tak kalah marahnya, lalu bersama-sama menyerbu Kartasura di bawah pemimpin yang dikenal sebagai Sunan Kuning.
Pakubuwono II melarikan diri. Kartasura jatuh. Sunan Kuning atau Raden Mas Garendi, cucu Amangkurat III sempat bertakhta meski sebentar, sebelum akhirnya ditangkap dan dibuang VOC ke Ceylon. Yang tersisa dari Keraton Kartasura hanya bangunan yang dikhianati dan dijarah. Dalam bahasa sejarah, peristiwa ini disebut Geger Pecinan 1742.
“Pakubuwono II meninggalkan istana yang hancur bukan karena musuh dari luar, melainkan karena kerajaan sendiri tidak lagi mampu menjaga rakyatnya dari keserakahan VOC. Geger Pecinan adalah tagihan yang belum dibayar.”
Kartasura sudah mati. Pakubuwono II membangun keraton baru, 12 kilometer ke arah timur, di tepi Sungai Sala. Pada tahun 1745 ibukota resmi dipindahkan ke tempat itu. Lahirlah Surakarta, nama yang kelak akan menanggung beban lebih berat dari yang siapapun bayangkan.
II. 1749 : TAHUN PALING GELAP SURAKARTA
Pakubuwono II jatuh sakit pada tahun 1749. Bukan sakit biasa, tubuhnya remuk, dan bersamanya remuk pula kemampuannya untuk mempertahankan takhta dari tekanan yang sudah lama bergerak dari berbagai arah.VOC tahu cara membaca kelemahan. Baron von Hohendorff, Gubernur Pesisir Jawa bagian timur laut, tiba di Surakarta. Apa yang terjadi berikutnya adalah salah satu momen paling memalukan dalam sejarah kerajaan Jawa : Pakubuwono II menandatangani surat penyerahan kedaulatan Kasunanan Surakarta kepada VOC.
FAKTA
Pada akhir tahun 1749, Pakubuwono II menyerahkan kedaulatan kerajaannya kepada VOC yang diwakili Baron von Hohendorff. Sejak saat itu, VOC merasa berhak menentukan siapa yang bisa dan tidak bisa menjadi raja Mataram, baik Surakarta maupun kelak Yogyakarta. Lihat : M.C. Ricklefs, Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792 (2002).
Tanggal 15 Desember 1749, putra mahkota Raden Mas Suryadi dilantik oleh VOC, bukan oleh para tetua keraton, bukan oleh upacara jumenengan yang sakral, melainkan oleh kongsi dagang Eropa yang lebih peduli pada keuntungan perdagangan rempah daripada kehormatan dinasti. Lima hari kemudian, Pakubuwono II wafat.
Dengan gelar Sri Susuhunan Pakubuwono III, sang raja muda mewarisi sebuah kerajaan yang secara hukum sudah bukan miliknya sendiri.
III. MANGKUBUMI : PENGHINAAN YANG MELAHIRKAN KESULTANAN
Sebelum semua itu terjadi, ada satu nama yang perlu kita pahami betul, yaitu Pangeran Mangkubumi. Ia adalah saudara tiri Pakubuwono II. Bukan orang lemah, bukan orang pinggiran. Dalam Perang Suksesi Jawa III yang melanda Jawa sejak awal 1740-an, Mangkubumi bahkan berhasil menumpas pemberontakan Raden Mas Said di Sukowati, lalu dijanjikan hadiah tanah 3.000 cacah. Tapi janji itu diingkari. Patih Pringgalaya menghasut raja. Tanah yang sudah dijanjikan dicabut kembali.
Lalu datanglah Baron van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC. Ia mendesak Pakubuwono II menyewakan seluruh pesisir Jawa kepada VOC. Mangkubumi menentang. Dan von Imhoff, dengan kesombongan seorang tamu yang merasa lebih berkuasa dari tuan rumah, menghinanya secara terbuka, di depan para pembesar keraton.
“Pada Mei 1746, Mangkubumi meninggalkan Surakarta. Bukan karena penobatan Pakubuwono III. Bukan karena keputusan 1749. Ia pergi sembilan tahun sebelum Perjanjian Giyanti, membawa luka, membawa tekad, dan membawa 13.000 prajurit.”
KOREKSI DATA PENTING
Banyak narasi populer menulis seolah Mangkubumi pergi meninggalkan istana sebagai reaksi atas penobatan PB III pada Desember 1749. Ini tidak tepat. Berdasarkan sumber-sumber sejarah : Mangkubumi SUDAH meninggalkan Surakarta sejak Mei 1746, tiga tahun sebelum penobatan PB III. Yang ia tinggalkan pada 1746 adalah istana Kartasura (sebelum pindah ke Surakarta 1745). Ia kemudian memindahkan markasnya ke kawasan Yogyakarta selama perang berlangsung. Keraton fisik Yogyakarta baru dibangun April 1755 setelah Perjanjian Giyanti, dan Mangkubumi resmi pindah ke Yogyakarta pada 7 Oktober 1756. Lihat: M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (1991); Kompas.com, 9 Juli 2021.
Selama sembilan tahun (1746–1755), Mangkubumi bertempur. Ia menghancurkan sebagian Surakarta pada akhir 1746. Ia melancarkan serangan ke pantai utara, mengancam Juwana dan Pati. Ia bersekutu dengan Raden Mas Said yang dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa. Babad Giyanti mencatat pertempuran demi pertempuran yang membuat Jawa tidak hanya hancur oleh perang, tetapi juga wabah cacar.
Di tengah kekacauan itu, Mangkubumi memindahkan markasnya ke wilayah Yogyakarta, tanah leluhurnya, tempat Ki Ageng Pamanahan dan Panembahan Senopati dulu membabat Alas Mentaok. Ia bahkan menobatkan diri sebagai raja Mataram tandingan, memakai gelar yang kemudian diakui pula oleh Belanda yang lelah berperang.
IV. PERJANJIAN GIYANTI 1755 : KETIKA JAWA DIBELAH DI ATAS MEJA EROPA
VOC sudah kelelahan. Perang yang berlarut-larut menguras kas kompeni yang memang sudah mulai bocor di mana-mana. Pada awal 1755, VOC berhasil meyakinkan Mangkubumi untuk berdamai, dengan imbalan yang tidak kecil: setengah wilayah Mataram.
Tanggal 13 Februari 1755, di desa Giyanti, ditandatanganilah perjanjian yang mengubah peta Jawa selamanya. Mataram Islam, kerajaan yang dibangun oleh Ki Ageng Pamanahan, dibesarkan oleh Panembahan Senopati, dan mencapai puncak kejayaannya di bawah Sultan Agung, resmi dibelah menjadi dua.
FAKTA
Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 membagi Mataram Islam menjadi : (1) Kasunanan Surakarta Hadiningrat di bawah Pakubuwono III, menguasai wilayah timur Sungai Opak; dan (2) Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di bawah Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwana I, menguasai wilayah barat. Sebulan setelah perjanjian ini, April 1755, Hamengkubuwana I membuka Hutan Pabringan sebagai lokasi keraton baru. Resmi pindah : 7 Oktober 1756. Sumber: Ricklefs (2002); Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.
Yang menarik dan yang jarang dibahas, adalah bahwa VOC melaporkan lebih banyak pembesar yang menghadiri jumenengan Mangkubumi sebagai raja di pihak pemberontak, dibandingkan yang hadir di pelantikan Pakubuwono III di Surakarta. Ini bukan detail kecil. Ini sinyal bahwa legitimasi di mata rakyat Jawa sudah berpihak kepada yang melawan, bukan kepada yang tunduk.
“Ketika Jawa dibelah, yang kalah bukan hanya Mataram, yang kalah adalah gagasan bahwa kerajaan Jawa bisa berdiri sendiri tanpa restu pihak asing.”
Raden Mas Said, Pangeran Sambernyawa menolak perjanjian ini. Ia melanjutkan perang seorang diri, melawan Surakarta sekaligus Yogyakarta. Ia adalah paman sekaligus mertua Mangkubumi yang kini berbalik menjadi musuhnya. Ironi yang pedih.
Belanda kembali turun tangan. Pada 17 Maret 1757, Perjanjian Salatiga ditandatangani. Raden Mas Said mendapat sebagian tanah dari wilayah Surakarta dan Yogyakarta, dengan gelar Adipati Mangkunegara I dan wilayah yang disebut Kadipaten Mangkunegaran. Jawa kini punya tiga pusat kekuasaan dan semuanya, dalam satu atau lain cara, berada di bawah bayang-bayang VOC.
V. PAKUBUWONO IV : RAJA YANG MELAWAN, RAJA YANG MENYERAH
Di antara deretan raja Surakarta, Pakubuwono IV menempati posisi yang paling tragis dan paling manusiawi. Ia naik tahta membawa api, membenci VOC yang ia anggap penjajah dan pemeras, menjunjung tinggi tradisi kejawen, dan tidak segan menyingkirkan pejabat istana yang tidak sehaluan.
Tapi api yang tidak dikelola dengan baik akan membakar rumahnya sendiri. Para pejabat yang disingkirkan berlari meminta perlindungan VOC. Dan VOC selalu cepat membaca celah, menggerakan mesin perangnya. Pakubuwono IV dikepung, oleh VOC, oleh Hamengkubuwana I dari Yogyakarta, dan oleh Mangkunegara I.
Tanggal 26 November 1790, Pakubuwono IV menyerah. Ia terpaksa menyerahkan para penasehat kepercayaannya untuk diasingkan. Ditandatanganilah perjanjian yang menyatakan tidak boleh ada aksi saling serang antara ketiga pihak : Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunegaran.
Tapi Pakubuwono IV adalah jenis manusia yang tidak bisa menerima kekalahan begitu saja. Ia masih bermimpi menyatukan kembali wilayah Jawa yang terbelah, visi yang mulia, tapi dieksekusi dengan cara yang ceroboh.
Pada tahun 1814, ia bersekutu dengan sepasukan tentara Sepoy yang membelot dari Inggris untuk menyerang Keraton Yogyakarta yang saat itu berada di bawah Sultan Hamengkubuwana III. Serangan gagal. Tujuh belas tentara Sepoy dihukum mati. Sisanya dipulangkan ke India. Para penghasut diasingkan. Pakubuwono IV sendiri menurut sumber sejarah keraton Surakarta, lolos dari tuntutan langsung Inggris.
DEBAT ILMIAH
Kisah serangan 1814 ini memerlukan kajian lebih jauh terhadap sumber-sumber primer Inggris dari era Raffles, terutama mengingat konteks politik di mana Inggris tengah mengkonsolidasikan kekuasaannya di Jawa (1811-1816). Narasi ‘lolos dari serangan Inggris’ patut diuji dengan dokumen-dokumen arsip kolonial.
Pada masa yang sama, fragmentasi politik warisan Mataram kembali bertambah. Dalam periode kekuasaan Inggris di Jawa (1811–1816), pemerintah kolonial di bawah Thomas Stamford Raffles membentuk satu entitas baru di wilayah Yogyakarta. Pada tahun 1813, didirikan Kadipaten Pakualaman yang diberikan kepada Pangeran Notokusumo dengan gelar Pakualam I.
Dengan terbentuknya Pakualaman, wilayah bekas Mataram tidak lagi hanya terbagi antara Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunegaran, tetapi menjadi empat pusat kekuasaan yang masing-masing berada dalam orbit kekuatan kolonial.
VI. LUKA PELURU DI DAHI PAKUBUWONO VI
Ada momen dalam sejarah di mana kematian seorang raja berbicara lebih keras dari seluruh hidupnya. Pakubuwono VI yang memerintah dengan bergelar Sri Susuhunan, pewaris dinasti yang panjang, dikenal sebagai pendukung diam-diam Perang Diponegoro (1825–1830). Ia tidak terang-terangan berdiri di sisi Diponegoro, tapi simpatinya tidak tersembunyi dari mata Belanda yang selalu waspada.
Ia wafat kabarnya karena kecelakaan kapal. Tapi di jasadnya ditemukan sesuatu yang tidak mungkin ada dalam kecelakaan kapal, lubang bekas tembakan di dahinya.
“Pakubuwono VI tidak mati karena kecelakaan. Ia ditembak. Dan Belanda tidak pernah dituntut atas kematiannya.”
Setelah kematiannya, Belanda yang menunjuk penggantinya: bukan putra langsung, melainkan paman dari PB VI sebagai Pakubuwono VII. Prinsip suksesi dinasti dikesampingkan demi kepentingan koloni. Baru jauh kemudian, Raden Mas Duksino, putra Pakubuwono VI sendiri naik sebagai Pakubuwono IX, membawa semangat yang oleh kronik keraton disebut sebagai era keadilan dan kebijaksanaan.
VII. DARI PAKUBUWONO X HINGGA AKHIR DINASTI
Pakubuwono X adalah raja yang memilih jalan berbeda, bukan perlawanan bersenjata, bukan intrik politik melainkan pelestarian budaya sebagai bentuk martabat. Di masa pemerintahannya, tradisi dan upacara keraton dijaga dengan kebesaran yang tak tertandingi. Ia paham bahwa ketika kedaulatan politik sudah hilang, yang bisa dipertahankan adalah jiwa peradaban.
Setelah Pakubuwono XI wafat sesaat sebelum Indonesia merdeka, putranya Raden Mas Suryaguritna naik sebagai Pakubuwono XII. Ia adalah raja terakhir Kasunanan Surakarta dalam pengertian yang sesungguhnya : raja yang menyaksikan sendiri Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan kemudian menyatukan diri dengan Republik Indonesia.
Dengan bergabungnya Surakarta ke dalam NKRI, berakhirlah secara formal kemandirian politik Kasunanan yang telah berlangsung sejak 1745. Tapi apakah Kasunanan benar-benar berakhir? Atau ia berubah wujud menjadi institusi budaya, menjadi identitas, menjadi kenangan kolektif yang terus hidup di setiap Sekaten, setiap kirab, setiap baris gamelan yang mengalun di Sitihinggil?
PENUTUP: WARISAN YANG TIDAK BISA DIBELAH
Sejarah Kasunanan Surakarta adalah cermin yang kejam. Ia memperlihatkan bagaimana sebuah dinasti yang mengklaim garis keturunan dari dewa-raja dapat direduksi menjadi alat cap tangan VOC dalam waktu beberapa generasi. Ia memperlihatkan bagaimana penghinaan seorang gubernur jenderal yang sombong bisa melahirkan sebuah kesultanan baru. Ia memperlihatkan bahwa peluru di dahi raja adalah bukti bahwa penguasa kolonial tidak pernah menganggap nyawa raja-raja Jawa lebih berharga dari kepentingan bisnisnya.
Tapi sejarah ini juga memperlihatkan ketahanan. Ketahanan Pakubuwono IV yang gagal tapi tidak berhenti bermimpi. Ketahanan Pakubuwono VI yang memilih berpihak kepada rakyat meski harus membayarnya dengan nyawa. Ketahanan Pakubuwono X yang memilih keindahan budaya sebagai benteng terakhir martabat.
Kita tidak sedang membaca tentang kerajaan yang sudah mati. Kita sedang membaca tentang diri kita sendiri, tentang bagaimana kekuasaan bekerja, tentang harga dari tunduk, dan tentang apa yang tersisa ketika sebuah peradaban dipaksa memilih antara bertahan dan berubah.
“Surakarta tidak runtuh karena serangan dari luar. Ia dilemahkan dari dalam, oleh hutang, oleh pengkhianatan, oleh perjanjian-perjanjian yang ditandatangani di atas kelemahan. Itu pelajaran yang jauh lebih relevan dari sekadar hafalan tanggal di buku sejarah.”
DAFTAR PUSTAKA
Ricklefs, M.C. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Terjemahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.Ricklefs, M.C. 2002. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749–1792: Sejarah Pembagian Jawa. Terjemahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.De Graaf, H.J. dan Th. G. Th. Pigeaud. 1974. De Eerste Moslimse Vorstendommen op Java. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius.Babad Tanah Jawi (Edisi Meinsma). Versi Prosa Berbahasa Jawa. Sumber: Perpustakaan Nasional RI.Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Perjanjian Giyanti. Diakses melalui kebudayaan.jogjakota.go.id.Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Raja & Silsilah Keraton Nusantara. keraton.perpusnas.go.id.Kompas.com. 9 Juli 2021. Sultan Hamengkubuwono I (Pangeran Mangkubumi): Biografi dan Perjuangan.Yogyakarta, 24 April 2026
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.