Oktober 9, 2026
Foto istimewa

Disampaikan Oleh : Suherman

Ramadhan datang bukan sekadar sebagai penanda waktu. Ia hadir seperti tamu agung yang mengetuk pintu hati, mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar, tetapi juga tentang menahan

Di bulan ini, kita belajar arti cukup.
Cukup makan saat sahur.
Cukup menahan saat lapar.
Cukup menahan diri saat emosi menggelegak.

Ramadhan mengajarkan bahwa manusia tidak lemah karena menahan diri, justru di situlah letak kekuatannya.

Siang terasa panjang, tetapi justru di situlah kesabaran ditempa. Lapar bukan sekadar rasa di perut, tetapi latihan jiwa. Haus bukan sekadar kebutuhan fisik, tetapi pengingat bahwa ada banyak nikmat yang sering kita anggap biasa.

Ramadhan Kariim, Ramadhan yang mulia dan memuliakan.

Ia memuliakan yang memberi, bukan yang menimbun.

Ia memuliakan yang sabar, bukan yang marah.

Ia memuliakan yang ikhlas, bukan yang riya.

Di tengah dunia yang bising dan tergesa, Ramadhan mengajak kita melambat. Menghitung ulang langkah. Membersihkan niat. Memperbaiki hubungan , dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan diri sendiri.

Malamnya hening, tapi penuh harap. Doa-doa naik dengan lirih, membawa luka, harapan, dan penyesalan. Dan di sana, dalam sujud yang panjang, manusia menemukan dirinya kembali.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menahan ego.
Bukan hanya tentang berbuka, tetapi tentang membuka hati.
Bukan hanya tentang tarawih, tetapi tentang kembali.

Semoga Ramadhan ini tidak hanya lewat di kalender,
tetapi menetap di karakter.
Ramadhan Kariim.
Semoga kita bukan hanya menjalani,
tetapi benar-benar menghidupi.
Marhaban Ya Ramadhan.

07.37/17 Februari 2026

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca