Oktober 9, 2026

— Sutoyo Abadi : 08.01.2026

Filter informasi berlebihan yang harus masuk ke Presiden, membahayakan Presiden kehilangan informasi realita dengan dunia luar. Pembantu Presiden menciptakan stabilitas semu kalah cepat dengan tiktok dan fasilitas lainnya di dunia maya.

Berkali-kali keadaan selalu meledak dari bawah tanpa di sadari Presiden akibat komunikasi dengan Presiden macet.

Presiden menempatkan orang yang salah pada tempat yang salah dan terlalu percaya dengan sistem yang dikendalikan orang-orang dekat (para pembantunya) yang minim pengalaman apalagi mengelola sistem komunikasi yang harus sampai pada Presiden.

Presiden perlu by pass dari chanel formal karena staf dibawah sangat tidak profesional. Ingin terlihat kompeten tetap anti Bubble, yaitu percakapan digital dengan Presiden dalam situasi terisolasi (bubble politik, ekonomi dll ) terpisah dari kenyataan. Istilah ini sering merujuk pada kondisi ‘menggelembung’ yang tidak stabil dan bisa pecah sewaktu-waktu. 

Padahal Presiden harus siap menerima info terburuk sekalipun, yang terjadi justru melebarnya jarak informasi yang sebenarnya terjadi.

Keadaan bisa dilacak dengan teori: Bottleneck, telah terjadi titik hambatan atau keterbatasan dalam sebuah sistem atau proses yang memperlambat aliran keseluruhan. Artinya informasi ke Presiden macet total.

Bahkan menurut Gatekeeper dari Lewin ada bahaya informasi yang di saring, dikontrol dan di filter secara berlebihan asal bapak senang (ABS) sebelum sebelum sampai pada Presiden

Informasi masuk ke Presiden dengan sistem  satu pintu itu bukan sistem tetapi Battleneck, sistem satu pintu pedang bermata dua, Presiden terlalu percaya pada inner circle yang justru membahayakan dirinya.

“Sosial listening team” yang bertanggung jawab untuk memantau, melacak, dan menganalisis percakapan serta umpan balik publik di berbagai platform media sosial macet total. Dampaknya setiap kejadian Presiden selalu terlambat mengetahui dan mengantisipasinya.

Ada information asymetry dan informasi red team yang bertugas justru diabaikan, informasi selalu telat naik ke Presiden, maka husus untuk  Menteri Setkab, Setneg Dan Staf Presidenan, mutlak harus segera dan secepatnya distirahatkan karena sangat terlihat tidak memiliki kompetensi pada jabatannya bahkan sangat membahayakan Presiden.

Mereka telah kehilangan sence of urgency, ketika semua laporan yang harus cepat sampai presiden bukan hanya difilter tetapi dihentikan pada kementrian dan Staf Kepresidenan.

Kalau Presiden hanya bisa mendengar informasi setelah di filter apalgi informasi berhenti pada pejabat tersebut, dipastikan Presiden akan terisolasi dari realitas atau keadaan denyut negara yang sedang terjadi.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca