Aku, Bara yang Menolak Padam

Jangan cari Aku di mimbar-mimbar tinggi tempat pidato manis diobral murah.
Jangan cari Aku di balik meja mewah tempat nasibmu digadaikan lewat tandatangan basah.
Aku tidak di sana.
Aku ada di sini. Di sela-sela jari kakimu yang pecah-pecah karena berjalan terlalu jauh mencari keadilan.
Aku ada di dalam periuk nasimu yang sering kosong, di atap gubukmu yang sering bocor, dan di keringat dinginmu saat berhadapan dengan seragam yang seharusnya melindungimu, tapi malah menindasmu.
Mereka, para tuan yang duduk di takhta emas itu, mengira kita lemah. Mereka mengira hukum adalah palu yang hanya bisa memukul ke bawah.
Mereka lupa bahwa pasir yang butirannya kecil, jika bersatu, mampu mengubur istana megah sekalipun.
Dengarlah baik-baik, saudaraku..
Aku tidak datang untuk mengajar melainkan mengajak..
Aku tidak membawa buku tebal berisi teori rumit tentang reformasi, aku hadir membawa tekad tebal berisi semangat membangkitkan revolusi.
Aku tidak akan berdiri di depan kelas dan mendiktekan apa arti merdeka, karena aku, kau dan juga kamu sekalian yang setiap hari dicekik harga pangan dan dibungkam ketakutan justru lebih paham arti kebebasan daripada siapapun.
Aku tidak mengurui melainkan memotivasi, Aku tak ingin hanya menuturkan lisan tanpa mengulurkan tanganku untuk saling genggam dengan tanganmu.
Aku ingin agar kau tahu bahwa gemetar di lututmu itu sama dengan gemetar di sendiku, Aku ingin engkau tahu bahwa engkau tidak sendirian.
Aku tidak datang untuk berdiri di puncak bukit, menunjukkan arah musuh dengan telunjuk bersih tanpa noda sambil memberi peta jalan. Tapi Aku akan melangkah dan berjuang bersamamu dan tidak membiarkanmu tersesat sendirian di medan juang.
Jika ada tembok otoritarian yang harus dirubuhkan, bahuku yang pertama akan menerjangnya bersamamu..
Jika ada kawat berduri tirani yang harus ditembus, maka kulitku akan ikut tergerus di sampingmu..
Luka kita adalah satu dan darah kita akan mengalir di tanah yang sama.
Aku tidak datang untuk berdiam, karena saat mereka menyuruh kita tunduk, maka Aku adalah leher yang menolak patah.
Saat mereka menyuruh kita bungkam, Aku adalah teriakan yang menyelinap dari tiap gang-gang sempit siang dan malam.
Aku bergerak, bertindak, dan berontak…
Aku adalah keberanianmu yang selama ini kau simpan rapat-rapat di ulu hati..
Aku adalah nyali yang menyala saat kau sadar bahwa diam adalah pengkhianatan terhadap anak cucumu.
Kita bukan lagi debu yang bisa ditiup angin. Kita adalah kerikil tajam di dalam sepatu kekuasaan..
Kita adalah ombak kecil yang tak henti menghantam karang angkuh itu sampai ia retak..
Bangunlah wahai kawan❗
Kepalkan tanganmu..
Bukan karena Aku menyuruhmu, tapi karena Aku bagian dari semangat di dalam dadamu sendiri, telah memutuskan untuk melawan..‼️
Maju..
Terjang..
dan hancurkan ketakutan itu..
“Ketakutan terbesar seorang Diktator bukanlah pasukan bersenjata, melainkan rakyat kecil yang sadar bahwa mereka tidak lagi sendirian.”
#SajakPerlawanan; Jakarta, 06 Januari 2026,
Kak Naz, Aktivis Literasi Rakyat
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.