Oktober 10, 2026
Foto istimewa

Bunga Wijaya Kusuma dianggap memiliki perlambang, Bunga Kemenangan, Bunga Kejayaan, Bunga Keberhasilan. Dalam sebuah kisah diceritakan Prabhu Kresna raja Dwarawati di saat menuju ke Gunung Mahameru atau Suralaya ketika sampai di pinggir laut selatan melepaskan bunga wijaya kusuma dalam kendaga dan dilabuh ke laut selatan sambil berkata semoga akan tumbuh dan menjadi salah satu perantara Raja Raja Tanah Jawa menjadi Raja yang Gung Binatara.

Dalam budaya Indonesia, bunga wijaya kusuma memiliki makna yang dalam. Kembang wijaya kusuma sering dihubungkan dengan simbol kemenangan, keberanian, dan kemajuan. Mitos yang mengelilinginya seringkali menggambarkan bunga wijaya kusuma sebagai lambang kesuksesan dalam menghadapi rintangan dan mencapai tujuan hidup.

Namun, tidak hanya sampai di situ, bunga ini juga dipercaya sebagai benda pusaka milik Raja Dwarawati, Prabu Kresna, yang diyakini sebagai perwujudan Batara Wisnu, sang dewa pemelihara alam.

Dahulu, bunga ini menjadi favorit di lingkungan para bangsawan dan raja. Tak hanya karena kelopaknya yang anggun, tetapi juga langkanya, hanya ditemukan pada kalangan kerajaan dan orang-orang berada.

Dikisahkan bahwa penjaga kerajaan bahkan rela melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan bunga wijaya kusuma. Mereka percaya bahwa kerajaan yang menampilkan bunga ini akan beroleh kemakmuran.

Salah satunya Susuhunan Amangkurat II memerintahkan Priyantaka untuk mencari bunga wijaya kusuma hingga ketemu dan tidak boleh kembali ke Kraton Kartasura jika belum mendapatkannya.

Akhirnya sekitar delapan bulan kemudian Priyantaka kembali dengan membawa bunga wijaya kusuma. Sebagai tanda terima kasih Amangkurat II mengangkat Priyantaka sebagai Patih dengan nama gelar Raden Tumenggung Sindurejo.

Pada masa awal pemerintahan Susuhunan Pakubuwana X, beliau juga memerintahkan untuk memetik bunga wijaya kusuma di Pulau Majeti Karang Bandhung Cilacap.

Tepatnya sekitar delapan bulan setelah penobatan beliau sebagai Raja Kraton Surakarta yaitu Sabtu Pon tanggal 23 Rabiul Akhir tahun Dal candra sangkala gunaning cundaka angesthi wiji (tahun 1823).

Beliau memerintahkan Bupati Anom Kliwon Suranata yaitu Raden Ngabehi Reksaniti VI untuk memetik bunga wijaya kusuma di Karang Bandhung Cilacap. Prosesi diawali pada malam sebelum keberangkatan R. Ngabehi Reksaniti VI dan Abdi Dalem Kauman menghadap Susuhunan Pakubuwana X di Masjid Panepen Kraton Surakarta.

Disana dilaksanakan doa bersama mohon kelancaran dalam memetik bunga wijaya kusuma. Setelah selesai, Susuhunan Pakubuwana X dengan didampingi Patih, juga Pengulu Tafsir Anom dan diiringi para abdi dalem Kauman berjalan menuju Sasana Parasdya. Setelah sampai di Sasana Parasdya, Susuhunan Pakubuwana X lenggah di dampar kencana.

Dilanjutkan satu persatu para abdi dalem Kauman dan R Ng Reksaniti VI menghaturkan sembah dan sungkem pangabekti kepada Susuhunan Pakubuwana X.

Kepada para abdi dalem Kauman, Susuhunan Pakubuwana X berpesan supaya mereka mengurangi makan minum dan senantiasa berdoa supaya dilancarkan dalam tugas memetik bunga wijaya kusuma. Kemudian para abdi dalem undur diri keluar dari Kraton.

Pada keesokan harinya Sabtu pagi pukul delapan para abdi dalem Kauman dan R. Ngabehi Reksaniti VI berjalan menuju halaman Sasana Sewaka dengan berpakaian prajurit lengkap. Disana sudah menunggu Susuhunan Pakubuwana X di depan Bangsal Maligi. Setelah menghadap Susuhunan Pakubuwana X, mereka berpamitan.

Rombongan keluar dari Kraton melewati Kori Sri Manganti Lor, Kamandungan, Supit Urang. Kemudian mereka berkuda menuju arah barat. Ketika sampai di Astana Laweyan mereka berhenti dan turun dari kuda. Mereka melakukan sholat Dzuhur di mesjid Laweyan kemudian dilanjutkan ziarah kemakam para leluhur Susuhunan Pakubuwana X, antara lain, makam Ki Ageng Henis, Nyai Ageng Made Pandan, Nyai Ageng Pathi, Ki Ageng Ngerang III sekalian istri, Nyai Ageng Sobo, Permaisuri Susuhunan Pakubuwana IV, RAy Sosrokusumo, KPH Purbonegara sekalian Garwa, GKR Pakubuwana VIII.

Kemudian para abdi Kauman membagikan uang sedekah atas nama Susuhunan Pakubuwana X kepada rakyat sekitar. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan, sesampai di Makam Aji Pajang mereka berziarah kemakam RT Wirareja orang tua Kanjeng Ratu Beruk permaisuri Susuhunan PB III. Kemudian dilanjutkan sholat Asar di Mesjid Saripan. Disana juga membagikan sedekah. Rombongan beristirahat dan bermalam di Makam Aji Pajang.

Keesokan harinya rombongan melanjutkan perjalanan sesampai di Boyolali beristirahat dan bermalam. Ketika sampai Salatiga beristirahat dan bermalam. Perjalanan ke Cilacap memakan waktu 10 hari. Dan setiap perjalanan tidak lupa membagikan uang sedekah kepada rakyat yang ditemui.

Ketika sampai di Cilacap rombongan berziarah ke makam leluhur Susuhunan Pakubuwana X sembari membagikan sedekah. Kemudian rombongan beristirahat dan mempersiapkan uba rampe keperluan memetik bunga.

Keesokan harinya pukul empat pagi rombongan menuju ke pelabuhan. Disana mereka berganti baju kain putih. Kemudian jam delapan pagi naik kapal menuju pulau Karang Bandhung dengan didampingi Juru Kunci Pulau Karang Bandhung. Ditengah laut, mereka melarung ageman, kain jarik milik Susuhunan Pakubuwana X.

Pukul empat sore sampai di pulau Karang Bandhung. Kemudian mereka naik ke bukit tempat pohon tua wijaya kusuma berada. Setelah melakukan ritual doa akhirnya pukul tiga pagi bunga wijaya kusuma berhasil dipetik dan dimasukkan kedalam kain sutera berlapis kain cinde. Dan digendong oleh Raden Ngabehi Reksaniti VI. Kejadian tersebut bertepatan Malam Selasa 11 Jumadil Awal 1823.

Kemudian rombongan pulang. Dipinggir kota Nagari Surakarta, rombongan disambut Patih dan kemudian Bungkusan bunga wijaya kusuma dimasukkan kedalam kendaga kemudian dimasukkan kedalam joli. Kemudian joli diarak menuju Kraton Surakarta kemudian masuk kedalam Kraton Surakarta, di Sasana Parasdya Susuhunan Pakubuwana X berkenan lenggah menyambut kedatangan rombongan.

Susuhunan Pakubuwana X menerima Kendaga berisi bunga wijaya kusuma, kemudian oleh beliau kendaga tersebut dibawa kedalam Dalem Ageng Prabasuyasa dan disimpan di Kamar Pusaka.

Ditulis oleh : KRT Koesrahadi. S. Jayaningrat

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca