Oktober 9, 2026

Ketika manusia lupa pada posisinya, lupa bahwa ia bergantung pada udara yang sama, tanah yang sama, dan air yang sama sebagai penopang seluruh kehidupan, maka kerusakan menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan. Merasa berkuasa atas alam hanyalah cara halus menuju kehancuran diri sendiri.

Pentingnya belajar sejarah, agar kita melihat pola itu dan bagaimana menyikapinya hingga kita terselamatkan dari perubahan zaman. Inilah pentingnya mengingat jati diri kita, sejarah kita, mengenal nenek moyang sebagai leluhur yang bijak memahami bahkan bersanding dengan semesta.

Kehidupan dunia seperti siklus, akan terulang, perkembangan tekhnologi, perkembangan kebudayaan yang tidak terbantahkan, hanya mampu dilalui dengan kebijaksanaan.

Harus dicamkan bahwasanya Nuswantara ini negeri serta bangsa besar dan agung, era klasik Kerajaan Nuswantara sudah membuktikan.

Bagaimana kerajaan – kerajaan di Nuswantara mengatur sistem pengolahan sumber daya alam bagi rakyatnya untuk kemakmuran serta sebagai sumber devisa kerajaan. Bahkan filosofi “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara” adalah filosofi Jawa kuno yang berarti “Memperindah keindahan dunia, memberantas keburukan dan keserakahan,” mengajarkan manusia untuk hidup berupaya menciptakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan bagi sesama serta alam semesta.

Namun secara umum ingatan terjauh kita hanya di masa kolonial. Dimana hampir 3 abad sejarah bangsa ini mengalami pengamputasian.Hingga yang tersisa hanya “Kita ini bangsa apa sih…?”

Sudah saatnya menarik sejarah bangsa lebih jauh kebelakang. Era kolonial adalah era seharusnya yang diamputasi, sejarah itu bukan tentang masa lalu, sejarah itu merupakan data dan fakta menuju Indonesia di masa depan.

Saat generasi muda Indonesia mengenal sejarah bangsa di masa kejayaanya, akan mengubah cara mereka bergerak di masa depan.

Mereka tidak akan tercabut dari jati dirinya, adat istiadat serta budaya. Keberagaman dan toleransi sudah menjadi nyawa, penegakan hukum dan pemberantasan korupsi lah budaya yang diturunkan leluhur Nuswantara.

Alam tidak pernah menempatkan dirinya sebagai lawan, manusialah yang menciptakan jarak. Bencana yang kita lihat hari ini banjir, longsor, kebakaran hutan, hingga perubahan iklim bukanlah bentuk “pembalasan,” melainkan cara alam menyeimbangkan kembali dirinya setelah manusia melampaui batas.

Kalau kita ingin terselamatkan dari perubahan zaman teramat penting kembali mengingat jati diri, adat budaya dan terpenting sejarah terbentunnya bangsa Indonesia.

Disampaikan oleh : Atma

Slipi, the land of the brave, 19 Desember 2025

#BangkitlahNuswantara

#RuhWilwatikta


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca