Oktober 9, 2026
Gambar ilustrasi

Para Raja dan Sultan itu tak lagi berseri,
Wajah mereka muram menyembur pucat pasi,
Seperti matahari yang tak lagi berapi-api,
Seperti bulan yang redup lelah menyinari,

Singgasana yang kokoh dan nyaman itu telah berganti,
Harga diri dipertaruhkan untuk sebuah negeri,
Mengumpulkan asa dan keyakinan pada janji,
Tak kunjung hari tak lelah menanti,

Republik berdiri dari puing-puing dinasti,
Menggusur tradisi dengan revolusi,
Musuh bersama itu bernama kolonial dan upeti,
Lalu menggenggam kemerdekaan tak bertepi,

Tanah, laut dan gunung mulai bereaksi,
Melihat proklamasi dicuri birokrasi dan oligarki,
Alam dan jiwa yang hidup tak lagi suci,
Tercemar pikiran keji dan korupsi,

Anak cucu tak tentu arah kesana-sini,
Tak sanggup lagi bermimpi masa depan pasti,
Tenggelam oleh arus halusinasi investasi,
Terbakar oleh gelombang ambisi politisi,

Duhai NKRI yang lahir dari rahim para sufi,
*Masih adakah tempat tersisa untuk nurani,
Wahai kesadaran dan keberanian yang tersembunyi,
Masih adakah pemimpin berhati dan mengenal diri

Oleh : Atma, Slipi the land of the brave,

11 Desember 2025


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca