Oktober 9, 2026

Oleh : Prihandoyo Kuswanto, Ketua Pusat Studi Rumah Pancasila

PENDAHULUAN

“Membangun Bangsa (Nation Building) dari kemerosotan zaman kolonial untuk dijadikan satu Bangsa yang berjiwa, yang dapat dan mampu menghadapi semua tantangan – satu Bangsa yang merdeka dalam abad ke 20 ini”.

Sayang sejak amandemen UUD 1945 bangsa ini justru tidak mampu menegakan jati diri nya ketika Neo Liberalisme menjadi dasar menggantikan aliran pemikiran Pancasila .apakah sejarah akan berulang lagi dan kita kembali di cengkeram Kolonialisme yang berubah wajah menjadi Free fight liberalism Neokolonialisme .Demokrasi Liberal yang menguras kekayaan kita?

TERSANDUNG BATU FREE FIGHT LIBERALISM

Justru hari ini terulang lagi , kita telah melupakan sejarah , Bangsa ini akan tersandung batu yang sama Free fight liberalism telah dihidupkan kembali ,kedaulatan rakyat dirampas oleh partai politik ,budaya korupsi semakin menggila ,rumit dan bertemali, yang bermuara pada oligarkhy .yang menjadikan kekuasaan untuk mengeruk dan merampok kekayaan ibu Pertiwi.

Tidak ada jalan menyelamatkan NKRI kecuali kembali kepada Pancasila dan UUD 1945 Original .Kalau kita membiarkan imperialisme, kolonialisme, neokolonialisme hidup terus, membiarkan ia mengungkung bangsa lain atau mengungkung bangsa kita sendiri atau merongrong bangsa kita sendiri, contain bangsa kita sendiri, maka kita ingkar, Saudara-saudara, kepada jiwa kemerdekaan kita. Bahkan mengkhianati jiwa kemerdekaan itu yang tertulis dalam Deklarasi Kemerdekaan dengan kata-kata yang begitu gilang-gemilang.

Apa yang tertulis dalam Deklarasi Kemerdekaan…? “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan”.

JANGAN SEKALI KALI MENINGGALKAN SEJARAH Cuplikan pidato : AMANAT PRESIDEN SOEKARNO PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA 17 AGUSTUS 1966 DI JAKARTA

Cobalah lepaskan pandangan kita lebih jauh lagi ke belakang. Marilah kita mawas diri sejak saat kita terlepas dari cengkeraman penjajah Belanda di tahun 1950, yaitu apa yang dinamakan Pengakuan Kedaulatan – recognition of sovereignty. Betapa hebatnya crucial period-crucial period yang harus kita lalui selama masa 1950-1959 itu.

Free fight liberalism sedang merajalela; jegal-jegalan ala demokrasi parlementer adalah hidangan sehari-hari, main krisis kabinet terjadi seperti dagangan kue, dagangan kacang goreng. Antara 1950 dan 1959 kita mengalami 17 kali krisis kabinet, yang berarti rata-rata sekali tiap-tiap delapan bulan.

Pertentangan yang tidak habis-habis antara pemerintah dan oposisi, pertentangan ideologi antara partai dengan partai, pertentangan antara golongan dengan golongan. Dan dengan makin mendekatnya Pemilihan Umum 1955 dan 1956, maka masyarakat dan negara kita berubah menjadi arena pertarungan politik dan arena adu kekuatan. Nafsu individualisme dan nafsu egoisme bersimaharajalela, tubuh bangsa dan rakyat kita laksana merobek-robek dadanya sendiri, bangsa Indonesia menjadi a nation devided againts itself.

Nafsu hantam kromo, nafsu serang-menyerang dengan menonjolkan kebenaran sendiri, nafsu berontak-memberontak melawan pusat, nafsu ,demokrasi yang keblinger, yang membuat bangsa dan rakyat kita remuk-redam dalam semangat, kocar-kacir berantakan dalam jiwa. Sampai-sampai pada waktu itu aku berseru : rupanya orang mengira bahwa sesuatu perpecahan di muka Pemilihan Umum atau di dalam Pemilihan Umum selalu dapat diatasi nanti sesudah Pemilihan Umum. Hantam kromo saja memainkan sentimen. Tapi orang lupa, ada perpecahan yang tidak dapat disembuhkan lagi! Ada perpecahan yang terus memakan, terus menggerantes, terus membaji dalam jiwa sesuatu rakyat, sehingga akhirnya memecahbelahkan keutuhan bangsa sama sekali.

Celaka, celaka bangsa yang demikian itu! Bertahun-tahun, kadang-kadang berwindu-windu ia tidak mampu berdiri kembali. Bertahun-tahun, berwindu-windu ia laksana hendak doodbloeden, kehilangan darah yang ke luar dari luka-luka tubuhnya sendiri. Karena itu, segenap jiwa ragaku berseru kepada bangsaku Indonesia : terlepas dari perbedaan apapun, jagalah persatuan, jagalah kesatuan, jagalah keutuhan…! Kita sekalian adalah makhluk Allah…! Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini seolah-olah adalah buta.Ya benar, kita merencanakan, kita bekerja, kita mengarahkan angan-angan kepada suatu hal di waktu yang akan datang. Tetapi pada akhimya Tuhan pula yang menentukan.

Justru karena itulah maka bagi kita sekalian adalah satu kewajiban untuk senantiasa memohon pimpinan kepada Tuhan. Tidak satu manusia berhak berkata, aku, aku sajalah yang benar, orang lain pasti salah!Orang yang demikian itu akhimya lupa bahwa hanya Tuhan jualah yang memegang kebenaran…!

MEMBANGUN KARAKTER KEBANGSAAN

Saudara-saudara sekalian, Dalam melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945, dalam mewujudkan pengejawantahan isi jiwa kita yang sedalam-dalamnya, maka pokok intisari mandat, pokok intisari mandat, yang saya terima dari MPRS ialah : “Membangun Bangsa (Nation Building) dari kemerosotan zaman kolonial untuk dijadikan satu Bangsa yang berjiwa, yang dapat dan mampu menghadapi semua tantangan – satu Bangsa yang merdeka dalam abad ke 20 ini”. Itulah intisari pokok daripada mandat MPRS kepada saya.

Sesungguhnya, toh bahwa membangun suatu negara, membangun ekonomi, membangun teknik, membangun pertahanan, adalah pertama-tama dan pada tahap utamanya membangun jiwa bangsa…! Bukankah demikian…? Sekali lagi, bukankah demikian…?Tentu saja keahlian adalah perlu…! Tetapi keahlian saja tanpa dilandaskan pada jiwa yang besar, tidak akan dapat mungkin akan tercapai tujuannya.

Inilah perlunya, sekali lagi mutlak perlunya, Nation & Character Building…! Tentu saja usaha ini pun memakan ongkos, memerlukan biaya, tetapi hasilnya sungguh berlipat-lipat ganda lebih besar dibandingkan dengan pengeluarannya.

“Memberikan selfrespect kepada bangsa sendiri, memberikan selfconfidence kepada diri bangsa sendiri, memberikan kesanggupan untuk Berdikari” adalah mutlak perlu bagi tiap-tiap bangsa, di sudut dunia manapun, di bawah kolong langit yang manapun…!

Lihatlah contoh-contohnya. Lihatlah kepada bangsa Amerika, lihatlah kepada bangsa Jepang, lihatlah kepada bangsa Soviet Uni!

Amerika baru menjadi bangsa yang besar sesudah mengalami perang saudara yang hebat dan dua kali peperangan dunia. Jepang baru menjadi bangsa yang besar setelah mengalami perang dengan Rusia, perang dengan Tiongkok, dan dua kali perang dunia. Soviet Uni baru menjadi bangsa yang besar sesudah mengalami burgeroorlog yang dahsyat dari lima penjuru yangp dikobarkan oleh kaum imperialis, dan dua kali perang dunia…!

Dan Indonesia tidak perlu dan insya Allah tidak usah mengundang peperangan, tetapi gemblengan jiwa adalah mutlak perlu untuk membangun bangsa dan negara kita.Indonesia yang kita cita-citakan tidak dapat dan tidak mungkin dapat dibangun atas warisan atau sisa-sisa jiwa kolonialisme. Sisa-sisa jiwa kolonialisme ini harus kita bongkar samasekali.

Oleh sebab itu saripati daripada proyek-proyek Mandataris itu dapat dipertanggung-jawabkan, karena maksud dan tujuannya adalah tidak lain tidak bukan untuk memberikan jiwa kepada bangsa dan rakyat Indonesia yang merdeka!

Proyek-proyek Mandataris adalah tidak lain dan tidak bukan sekadar alat, alat untuk menanamkan dan menumbuhkan kebesaran jiwa daripada bangsa dan rakyat kita.Satu contoh lagi.

Terus terang saja, yang menghebatkan inflasi bukanlah pelaksanaan proyek Mandataris itu, akan tetapi pengeluaran-pengeluaran kita buat ABRl, untuk pembebasan lrian Barat dan untuk pengembalian keamanan. Untuk mengongkosi perjuangan pembebasan Irian Barat dan usaha penyelesaian keamanan, kita telah menggunakan lebih dari 80 persen daripada budget negara di tahun-tahun itu. Tetapi aku bertanya, apakah pembebasan lrian Barat salah? Apakah pemulihan keamanan salah? Tidak! Tidak salah, melainkan malahan perlu, perlu, perlu, sekali lagi, perlu!Pendek kata, hasil politis, hasil ekonomis, hasil moneter, prestige, respect dunia internasional kepada kita, nation building, character building, selfrespect dan selfconfidence, semangat Berdikari, semua, semua ini dapat dipertanggungjawabkan sebagai kebijaksanaan yang saya jalankan sejak tahun 1959 itu untuk opknappen warisan jahat yang saya sebut tadi.

Bahwa perjuangan kita belum selesai, dan bahwa rakyat terutama sekali para buruh dan pegawai belum dapat hidup secara layak, itu memang benar! ltu saya akui, memang benar! Tetapi dasar-dasar kebangsaan dan dasar-dasar kenegaraan dengan jiwa baru sudah tertanam.Sudah terang, Gestok kita kutuk, dan saya, saya mengutuk pula! Dan seperti yang sudah kukatakan berulang kali dengan jelas dan tandas, yang bersalah harus dihukum! Untuk itu kubangunkan Mahmillub…!

Tetapi kenapa kita sesudah terjadinya Gestok itu harus ubah haluan? Kenapa kita sesudah terjadinya Gestok itu harus melemparkan jauh beberapa hal yang sudah nyata baik? Tidak! Pancasila, Panca Azimat, Trisakti, harus kita pertahankan terus, malahan harus kita pertumbuhkan terus!

REVOLUSI.Pancasila – adalah seperti yang seringkali telah kukatakan – satu hogere optrekking daripada Declaration of Independence Amerika dan Manifesto Komunis. Bahkan lebih jauh daripada itu saya telah sering berkata, Revolusi Indonesia adalah satu verbeterde editie, dan insya Allah satu laatste editie daripada revolusi-revolusi di dunia sekarang ini.

Lihatlah revolusi-revolusi lain! Revolusi Amerika sudah tinggal hanya menjadi satu historis moment dan satu historis monumen saja, atau dalam bahasa asingnya, De Amerikaanse Revolutie is maar een historisch moment en een historisch monument geworden! Kenapa? Revolusi Amerika terjadi hampir dua abad yang lalu.

Revolusi Perancis sudah tinggal hanya menjadi satu historis moment dan satu historis monumen saja, atau dalam bahasa asingnya, De Franse Revolutie is maar een historisch moment en een historisch monument geworden! Kenapa? Revolusi Prancis terjadi hampir dua abad yang lalu.

Revolusi Soviet pun sudah lamat-lamat mungkin nanti menuju kepada menjadi satu historis moment dan satu historis monumen saja, atau De Soviet Revolutie, mogelijk, dreigt later ook slechts een historisch moment en een historisch monument te worden! Kenapa? Revolusi Soviet pecah setengah abad yang lalu. Atau kalau kita hitung dari tahun 1905, yang oleh Lenin dikatakan generale repetitie daripada revolusi, sudah 60 tahun yang lalu.

Sudah tentu kita mengambil keuntungan-keuntungan besar dari revolusi-revolusi tersebut. Akan tetapi Revolusi Indonesia tidak bisa dan tidak boleh hanya didasarkan atas pengalaman-pengalaman dan hasil-hasil Revolusi Amerika, Revolusi Perancis, atau Revolusi Soviet itu saja.Cita-cita dan isi serta konsepsi daripada revolusi kita harus merupakan penggalian daripada tuntutan-tuntutan seluruh umat-umat manusia umumnya dan rakyat Indonesia sendiri pada khususnya pada waktu itu, yaitu dalam abad ke-20 ini!

Bukan dua abad yang lalu seperti Revolusi Amerika, bukan dua abad yang lalu seperti Revolusi Perancis, bukan hampir tigaperempat abad seperti Revolusi Soviet. Tetapi Revolusi Indonesia haruslah mencerminkan revolusi umat manusia dan Revolusi Bangsa Indonesia sendiri pada waktu ini, pada abad ke-20… Jiwa Pancasila dan jiwa Nasasos atau Nasa apapun harus menjadi Leit-Star daripada revolusi modern sekarang ini, yaitu revolusinya umat manusia. Oleh sebab itu maka saya selalu peringatkan kepada bangsa dan rakyatku, jangan gontok-gontokan, jangan sembelih-sembelihan! Sebab, hal itu akan memecahkan kesatuan dan persatuan bangsa, memecahkan inti hakiki daripada revolusi kita. Dan kecuali daripada itu, maka ratusan ribu pembunuhan, ratusan ribu penahanan, malahan akan menjadi masalah sosial politik yang panas, yang makin meningkatkan pertentangan-pertentangan saja.

Persatuan dan kesatuan bangsa masih tetap merupakan syarat mutlak bagi kehidupan nasional kita, masih tetap merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan serta pembangunan dalam bidang materiil atau idiil apapun.

Lihatlah ke belakang! Tidakkah pada masa yang lampau, yaitu sebelum kita merdeka maupun sesudah kita merdeka, fakta-fakta menunjukkan dengan jelas bahwa perpecahan hanyalah membawa kita pada keruntuhan semata?

MELIHAT MASA DEPANDENGAN PIKIRAN POSITIF

Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca benggalanya daripada masa yang akan datang.Hasil-hasil positif yang sudah dicapai di masa yang lampau jangan dibuang begitu saja. Membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau tidak mungkin. Sebab, kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan di masa yang lampau, yaitu hasil-hasil macam-macam perjuangan dari generasi nenek moyang kita sampai kepada generasi yang sekarang ini.

Sekali lagi saya ulangi kalimat ini, membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau, hal itu tidak mungkin, sebab kemajuan yang kita miliki sekarang ini adalah akumulasi daripada hasil-hasil perjuangan-perjuangan di masa yang lampau… Dengan berpegang terus kepada sejarah itu, maka dengan kekuatan baru, dengan selalu bertambah semangat baru, dengan selalu bertambah mantap dan kokoh keyakinan, bertambah cerah harapan-harapan baru, mari kita menggembleng terus persatuan dan kesatuan untuk perjuangan kita selanjutnya. Dan pada waktu sekarang ini juga untuk menyelesaikan Dwi Dharma dan Catur Karya-nya pemerintah, yang baru saja telah saya bentuk bersama-sama Jenderal Soeharto sesuai dengan perintah MPRS dalam Ketetapannya No XIII/1966.

Ya, masih bertumpuk-tumpuk tugas-tugas yang terletak di hadapan kita. Menggunung pekerjaan yang harus kita selesaikan. Tidak mungkin tugas-tugas itu diselesaikan oleh pemerintah sendiri tanpa ikutsertanya secara aktif membantu dari seluruh kalangan rakyat, dari semua suku, dari semua golongan, dari semua corak partai, dari semua isme yang ada.

Pelaksanaan program stabilisasi politik dan stabilisasi ekonomi yang telah diperinci menjadi 4 program :

a. Memperbaiki peri-penghidupan rakyat, terutama di bidang sandang-pangan;

b. Melaksanakan Pemilihan Umum selambat-lambatnya pada tanggal 5 Juli 1968;

c. Melaksanakan politik luar negeri yang bebas dan aktif untuk kepentingan nasional;

d. Melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya, – adalah merupakan tantangan bagi pembantingantulang daripada seluruh rakyat kita di bawah pimpinan Kabinet Ampera sekarang ini, dan entah kabinet apa yang kemudian. Sekali lagi, berhasil dan tidaknya pelaksanaan empat program itu bukanlah semata-mata merupakan tantangan terhadap kepada pemerintah saja, tetapi pada hakekatnya adalah merupakan tantangan bagi seluruh rakyat kita yang berjuang dari Sabang sampai Merauke.

Dengan selalu secara konsekuen menumbuhkan dan mengembangkan jiwa Pancasila dan jiwa revolusi besar kita, rakyat Indonesia harus menjadi rakyat yang kuat, rakyat yang besar, untuk dapat melaksanakan darma baktinya kepada Ibu Pertiwi dan seluruh umat insani. Darstellung daripada kita punya deepest-inner-self dalam Dwi Tunggal Proklamasi dan Deklarasi adalah kongruen dengan kesadaran sosialnya insani di seluruh muka bumi. Kongruen dengan social conscience of man, demikian kataku berulang-ulang. Oleh sebab itu, segala usaha, segala gerak-gerik perjuangan kita untuk melaksanakan tuntutan hati dan jeritan jiwa kita itu, pasti selalu berkumandang di antero muka bumi.

Untuk melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945 secara konsekuen, kita akan segera menyempurnakan susunan lembaga-lembaga negara kita menjelang terlaksananya Pemilihan Umum. Dan berdasarkan Ketetapan-ketetapan MPRS hasil Sidang Umum ke-4 yang baru lalu, kita akan melangkah maju dalam menyesuaikan dan menyempurnakan hidup kehukuman kita, serta mengatur pembagian wewenang serta tempat kedudukan lembaga-lembaga negara kita secara konstitusional…

KESIMPULAN

Dari uraian diatas sejak diamandemen nya UUD 1945 kita telah dengan masif sistemik Menganti Pancasila dengan Free fight liberalism,kita mengabaikan persatuan dan kesatuan bangsa ,akibat nya negara bangsa ini tidak lagi mempunyai karakter kebangsaan nya ,hilang jati diri bangsa nya, pertarungan politik semakin menghalalkan segala cara, budaya korupsi sudah sangat menguatirkan, utang negara yang sudah menggunung ,menjadikan negara dan bangsa ini tidak berdaulat lagi, kekayaan ibu Pertiwi menjadi sudah banyak yang dikuasai asing.

Berubah nya Kedaulatan rakyat menjadi kedaulatan partai politik melahirkan oligarkhy yang semakin menggurita dan rakyat tidak lagi berdaulat sementara penghancuran persatuan dan kesatuan terus menjadi politik adu domba antar agama maupun sesama agama, justru pecah belah ini didesain dan dibiyayai oleh penguasa dengan menciptakan buzzer buzzer agitasi dan memproduksi kebencian antar anak bangsa.

Persoalan Bangsa Indonesia hari ini tidak mungkin diselesaikan dengan biasa biasa saja sebab Oligarkhy sudah menggurita dan masif tidak ada jalan lain kecuali Revolusi kembali pada Pancasila dan UUD 1945 Asli. Perlu nya membangun kesadaran terhadap seluruh anak bangsa untuk membangun karakter kebangsaan dannpeduli terhadap nasib NKRI yang menuju kepunahan .

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca