Memandang yang Tak Terpandang: Keyakinan Ahlus Sunnah atas Maha Kasih-Nya
Oleh : M. Syarif Hidayatullah, S. Ag., M.M.Inov – Sekertaris PDM Kota Batu

Tulisan ini adalah bagian penutup dari tiga tulisan bersambung tentang hakikat melihat Allah.
Dari dua episode sebelumnya, Ahlus Sunnah wal Jama’ah—yang mengikuti pemahaman Nabi dan para sahabat—mencapai sebuah kesimpulan akidah yang indah dan menenteramkan. Kesimpulan itu adalah: Melihat Allah dengan mata kepala di dunia adalah mustahil, tetapi memandang-Nya di akhirat kelak adalah kenikmatan terbesar yang disediakan bagi orang-orang beriman. Prinsip ini adalah jalan tengah yang sempurna; ia menolak klaim sesat yang mengatakan Tuhan bisa dilihat di dunia, sekaligus menolak pendapat Mu’tazilah yang mengingkari kemungkinan melihat-Nya di akhirat.
Kemustahilan melihat Allah di dunia telah dibuktikan melalui pelajaran pada gunung untuk Nabi Musa. Sementara, kenikmatan melihat-Nya di akhirat dijanjikan dalam sabda Nabi yang begitu menggambarkan: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan (purnama) ini. Kalian tidak akan berdesak-desakan dalam melihat-Nya.” (HR. Al-Bukhari & Muslim).
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa perumpamaan dengan bulan purnama ini bukanlah perumpamaan Zat-Nya, melainkan pada kejelasan dan kepastian dalam memandang-Nya. Sebagaimana kita melihat bulan dengan jelas tanpa keraguan, demikianlah ahli surga akan melihat Allah.
Dan inilah puncak dari segala kenikmatan surga. Rasulullah bersabda bahwa ketika Allah menyingkap tabir (hijab), “Tidak ada satu pun yang diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada Rabb mereka.” (HR. Muslim). Kenikmatan ini, yang disebut sebagai “na’im al-absar” (kenikmatan mata memandang), bahkan melampaui semua kenikmatan fisik surga. Ini adalah momen pertemuan antara sang hamba dengan Rabb-nya, sebuah penyempurnaan dari perjalanan cinta dan kerinduan yang dimulai sejak di dunia.
Dari perspektif psikologi kebahagiaan, ini adalah puncak “self-transcendence” atau keterjulangan diri. Psikologi positif menyatakan bahwa kebahagiaan tertinggi manusia adalah ketika ia melampaui kepentingan dirinya sendiri dan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar. Apa yang lebih besar dari terhubung dan memandang langsung Sang Pencipta? Inilah kepuasan absolut yang menghapus segala rasa dahaga jiwa, keindahan mutlak yang memuaskan segala kerinduan mata hati.
Keyakinan Ahlus Sunnah ini memberikan kita dua pelajaran sekaligus.
Pertama, ia mengajarkan kerendahan hati: kita harus beriman dengan tulus tanpa menuntut bukti fisik, karena kapasitas kita sebagai makhluk terbatas.
Kedua, ia memberikan harapan dan motivasi tertinggi: perjuangan kita dalam beribadah dan menjalani kehidupan dengan baik akan berbuah pada kenikmatan yang tak terbayangkan, yaitu memandang Wajah Allah yang Maha Indah. Iman kita hari ini, yang dijalani dalam keadaan tidak melihat, adalah investasi untuk pandangan penuh cinta itu nanti di surga.
Maka, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah karunia tertinggi ini dengan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu“. (HR. An-Nasa’i)
Maka, berbahagialah mereka yang percaya tanpa melihat, karena mereka suatu saat nanti akan melihat apa yang mereka percayai. Itulah puncak dari segala kepuasan.
Wallahu a’lam…
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.