Disampaikan Oleh: Haremen

Ketua umum partai berdiri di panggung megah,
bendera berkibar, lampu sorot berkilauan, cameramen, jurnalis meliput kata-kata manis yang mengalir deras: “Partai ini milik rakyat, kami hanya berjuang demi kesejahteraan, ideologi kami tegak lurus untuk keadilan.”
Namun, di balik kata-kata penuh janji, terselubung wajah kenyataan pahit. Partai telah menjadi milik pribadi, kursi ketua umum diwariskan, kongres hanya drama setia kawan, dan rakyat hanya jadi penonton setia yang ditepuk-tepuki saat kampanye tiba.
Nama-nama yang diorbitkan pun sama: anak yang mewarisi wajah dan marga, cucu yang masih balita sudah disiapkan jalan, ponakan, adik, kakak, serta orang-orang titipan yang setia pada meja makan keluarga. Mereka duduk di kursi legislatif, mereka berdiri di podium eksekutif, mereka menanda tangani keputusan partai seolah-olah atas nama rakyat, tapi kroni dinasti yang muncul di galangan gerbang.
Lalu, adakah pernah? Seorang petani dari sawah yang kakinya berlumpur, yang tahu arti susah saat pupuk langka, diorbitkan jadi politisi tulus jujur?
Adakah pernah? Anak seorang nelayan miskin,
yang mengerti getirnya laut, yang pernah kehilangan perahu dihantam badai, diajari menjadi pemimpin yang tegas namun rendah hati?
Adakah pernah? Pedagang sayur di pasar subuh,
yang mengatur hidup dari recehan, diberi kesempatan duduk di kursi pengurus, agar tahu betapa mahalnya harga cabe di pagi hari?
Adakah pernah? Buruh pabrik dengan seragam lusuh, yang pulang larut malam dengan tubuh letih, diberi ruang untuk bicara di kongres partai, bukan hanya jadi pengisi massa kampanye, yang diundang dengan janji uang transport dan sebungkus nasi kotak?
Partai yang katanya rumah rakyat, kini hanya jadi tembok dinasti. Pintu terkunci rapat untuk mereka yang tulus, jendela hanya terbuka bagi darah dan nama besar. Ideologi hanyalah hiasan di buku AD/ART, sementara politik berjalan seperti bisnis keluarga.
Dan rakyat bertanya dalam hati : Apakah politik memang hanya untuk mereka yang berkuasa? Apakah suara rakyat hanya jadi bahan jualan lima tahun sekali? Bilakah ada partai yang benar-benar menepati janji, membuka jalan untuk anak-anak kecil rakyat, agar kelak tumbuh menjadi pemimpin jujur, yang berakar dari tanah, yang tumbuh dari peluh rakyat, dan berbuah untuk kesejahteraan sejati?
-Atma_
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.