Oktober 10, 2026

“Mukjizat Laut Terbelah, Hati Tak Tersentuh: Tragedi Manusia yang Menyaksikan Kuasa Ilahi tapi Tetap Merindukan Berhala”

Oleh : Ustadz Syarif Hidayatullah, M.Ag – (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kota Batu)

Ilustrasi oleh Meta AI

وَجَٰوَزْنَا بِبَنِيٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱلْبَحْرَ فَأَتَوْا۟ عَلَىٰ قَوْمٍۢ يَعْكُفُونَ عَلَىٰٓ أَصْنَامٍۢ لَّهُمْ ۚ قَالُوا۟ يَٰمُوسَى ٱجْعَل لَّنَآ إِلَٰهًۭا كَمَا لَهُمْ ءَالِهَةٌۭ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌۭ تَجْهَلُونَ

“Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi lautan, lalu mereka datangi suatu kaum yang tekun menyembah berhala. Mereka berpaling: ‘Wahai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan seperti mereka mempunyai beberapa tuhan!’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 138).

Laut terbelah di depan mata mereka. Dasar laut yang biasanya tak tersentuh matahari, kini kering dilangkahi oleh ribuan manusia yang lolos dari penindasan. Air berdiri seperti gunung raksasa di kiri dan kanan, membentuk koridor penyelamatan yang spektakuler. Di belakang, tentara Firaun—dengan segala kesombongan dan persenjataannya—tenggelam ditelan gelombang yang menyatu kembali. Mereka menyaksikan mukjizat terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Tapi ternyata, menyaksikan mukjizat tidak lantas mengubah hati.

Begitu mencapai daratan, mata mereka justru terpana pada pemandangan lain: sekelompok manusia menyembah patung dengan penuh khidmat. Menurut tafsir Ibn Kathir, itu adalah kaum Kanaan atau suku Lakhm yang memuja berhala berbentuk sapi. Dan di tengah decak kagum akan keselamatan yang baru saja mereka alami, Bani Israil justru berkata kepada Musa: “Buatkan untuk kami tuhan seperti tuhan mereka.”

Musa terhenyak. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin manusia yang baru saja diselamatkan oleh intervensi Ilahi yang begitu nyata, justru meminta benda mati untuk disembah? “Innakum qaumun tajhalun,” katanya. Kalian kaum yang jahil—bodoh secara spiritual. Abul Ala Maududi dalam tafsirnya menganalisis: ini adalah bukti bahwa penyaksian mukjizat tidak otomatis mengubah mentalitas. Ratusan tahun perbudakan telah menciptakan “mental budak” yang sulit menerima kebebasan, termasuk kebebasan bertauhid.

Psikologi manusia memang unik. Kita bisa menyaksikan hal paling luar biasa, tapi tetap kembali pada comfort zone kita. Bani Israil lebih nyaman dengan “tuhan” yang kasat mata, yang bisa dilihat dan disentuh, daripada mempercayai Yang Gaib meski telah membelah laut untuk mereka. Tafsir Az-Zuhaili menyebut ini “kejahilan metafisik”—ketidakmampuan memahami bahwa yang hakiki itu tidak selalu terlihat.

Lalu, 15 abad kemudian, sejarah berulang dalam bentuk yang berbeda. Para sahabat Nabi—manusia terbaik setelah para nabi—ternyata juga hampir terjatuh dalam lubang yang sama. Usai Perang Hunain, mereka melihat kaum musyrikin ritual menyembah pohon yang disebut “Dzat Al-Anwat“. Terpesona oleh kekompakan ritual itu, beberapa sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzat Al-Anwat seperti milik mereka.”

Reaksi Nabi Muhammad sangat keras. Wajahnya berubah. “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya,” sabdanya, “kalian telah mengucapkan seperti yang diucapkan Bani Israil kepada Musa.” Beliau mengutip persis ayat 138 Surah Al-A’raf itu. Para sahabat tersentak. Mereka menyadari: pengalaman spiritual tertinggi sekalipun (perang bersama Nabi) tidak menjamin imunitas dari godaan syirik.

Inilah pelajaran abadi: mukjizat bisa menyelamatkan jasad, tapi tidak selalu menyentuh hati. Iman bukan soal menyaksikan yang luar biasa, tapi tentang kesetiaan pada yang tak terlihat. Tauhid adalah penyerahan total pada Yang Maha Gaib, meski mata kita tidak melihat-Nya.

Maka, renungkanlah: Kita yang hidup di zaman tanpa mukjizat spektakuler—laut tidak terbelah untuk kita—justru diuji imannya lebih berat. Kita tidak melihat laut terbelah, tapi kita diminta percaya pada Yang Membelah Laut. Kita tidak melihat Musa, tapi kita diminta taat pada ajaran Musa. Inilah ujian sebenarnya: bisakah kita tetap setia pada yang tak terlihat, saat dunia menawarkan begitu banyak “berhala” yang menggoda?

Mari jujur pada diri: berapa banyak “berhala modern” yang kita ciptakan? Gaya hidup, ekspektasi sosial, obsesi pada hal duniawi? Kita mungkin tidak menyembah patung, tapi kita sering menjadikan selain Allah sebagai tujuan akhir.

Tauhid murni mengajarkan: iman sejati adalah ketika kita percaya pada yang tak terlihat, setia pada yang tak tersentuh, dan yakin bahwa hanya Dia yang layak kita sembah—meski tidak ada laut yang terbelah untuk membuktikannya. Seperti kata Nabi Musa, segala sesuatu selain-Nya adalah kebodohan. Dan kebodohan hanya akan membawa kehancuran.

Mari lepaskan segala bentuk berhala—yang kasat mata maupun yang bersembunyi dalam hati. Karena mukjizat terbesar bukanlah laut yang terbelah, tetapi hati yang tetap bersih menyembah Allah, meski dunia menawarkan segalanya.

Wallahu a’lam…


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca