Oktober 9, 2026

Oleh Prihandoyo Kuswanto, Ketua Pusat Study Kajian Rumah Panca Sila

PENDAHULUAN

Sejak reformasi yang kemudian mengkudeta konstitusi dibungkus mengamandemen UUD 1945, tanpa disadari kita telah mengganti negara yang dirahmati Allah menjadi negara yang Liberal Sekuler.

Indonesia hari ini bukan negara yang diproklamasikan 17 Agustus 1945, sebab kaidah berbangsa dan bernegara yang terurai di dalam pembukaan UUD 1945 diabaikan, tidak lagi menjadi pedoman, arah, tuntunan, cita-cita dalam berbangsa dan bernegara.

Apa masih ada rasa kecintaan kita pada bangsa dan negara ini? Apa masih ada rasa bangga menjadi bangsa ini dan apa masih ada kedaulatan bangsa ini sebagai bangsa yang merdeka? Semua pertanyaan di atas bergelantung pada situasi diusia ke 80 tahun kemerdekaan Indonesia.

Kita semakin tidak paham terhadap apa itu Indonesia dan apa itu Pancasila sebab 22 tahun telah dicekoki dan dicuci otak dengan Individualisme, Liberalisme dan Kapitalisme. Kita kagok dengan negara berdasarkan Pancasila, dianggapnya yang serba Liberal dan Kapitalis ini sebuah kemajuan, sementara sistem negara berdasarkan Pancasila adalah kemunduran.

Padahal pendiri negeri ini mendirikan negeri bukan asal jiplak dari negara asing, bahkan berani membuat sendiri sistem negaranya. Dasar yang dipakai digali dari budaya sendiri, bukan menjiplak dari bangsa lain.

Rupanya para pemimpin tidak memahami bahwa sistem yang dijalankan hari ini justru menjiplak dari asing dengan sangat mendewakan demokrasi liberal.Demokrasi liberal dengan sistem presidensial dianggap sebagai agama baru dan dianggap kemajuan, sementara sistem sendiri yang mengedepankan kekeluargaan dan gotong royong dianggap mundur, puritan.

Semua elite politik telah berkhianat terhadap Pancasila, sebab mereka bicaranya ideologi Pancasila tetapi yang dijalankan Individualisme, Liberalisme, Kapitalisme. Rakyat ditipu, dikatakan negara berdasarkan Pancasila tetapi mereka menjalankan Liberalisme Kapitalisme.

PESAN -PESAN BUNG KARNO

Bung Karno mengatakan, “Bangsa atau rakyat adalah satu jiwa. Jangan kita kira seperti kursi-kursi yang dijajarkan. Nah, oleh karena bangsa atau rakyat adalah satu jiwa, maka kita pada waktu memikirkan dasar statis atau dasar dinamis bagi bangsa, tidak boleh mencari hal-hal di luar jiwa rakyat itu Beograd….” (Pancasila sebagai dasar negara, hlm. 37).

“Tidak ada dua bangsa yang cara berjuangnya sama. Tiap-tiap bangsa mempunyai cara berjuang Beograd, mempunyai karakteristik Beograd. Oleh karena pada hakikatnya bangsa sebagai individu mempunyai kepribadian Beograd.” (Pancasila sebagai dasar negara, hlm. 7).

“Kita bangsa yang cinta perdamaian, tetapi lebih cinta kemerdekaan!” (Pidato HUT Proklamasi, 1946).

“Bangsa adalah segerombolan manusia yang keras. Ia punya keinginan bersatu dan mempunyai persamaan watak yang berdiam di atas satu geopolitik yang nyata satu persatuan.” (Pancasila sebagai dasar negara hlm. 58).

Saya benci Imperialisme. Saya membenci Kolonialisme. Dan saya takut konsekuensi perjuangan terakhir mereka untuk hidup. Kami bertekad, bahwa bangsa kami, dan dunia secara keseluruhan, tidak akan menjadi tempat bermain dari satu sudut kecil dunia.” (Soekarno: Indonesia Menggugat).

“Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi “perkakasnya Tuhan” dan membuat kita menjadi “hidup di dalam roh.” (Suluh Indonesia Muda, 1928).

Pernyataan-pernyataan Soekarno ini harusnya menjadi pelajaran bagi mereka yang mengaku Soekarnois tetapi hari ini melihat ajaran Soekarno dibuang dan diganti dengan menjiplak Liberalisme dan Kapitalisme.

Baca Juga bahwa negara ini telah melenceng dari Pancasila dan perlu ada nya kesadaran mengembalikan MPR sebagai lembaga tertinggi dan menghidupkan kembali GBHN perlu menjadi gerakan rakyat mengembalikan kedaulatan rakyat, mengembalikan Pancasila dan UUD 1945.

Mahasiswa dan para aktifis mulai sadar terhadap keadaan Bangsa ini yang telah menjadi negara super kapitalis dan super liberal. Kita semua yang mencintai Indonesia hari hari ini mulai sadar kalau selama ini mengkhianati Pancasila dan ajaran Soekarno.

Demo besar besaran yang menjalar kedaerah daerah dengan membakar fasilitas umum yang anarkhis merupakan gambaran dari gagal nya demokrasi liberal yang di eluk-elukan para intelek kampus dan para guru besar.

Apakah kejadian beberapa hari ini yang memporak porandakan negeri ini mereka pengusung demokrasi liberal mau bertanggungjawab ?

PUPUS NYA NASIONALISME KEBANGSAAN

Pupusnya nasionalisme kebangsaan kita akan membawah malapetaka besar bagi bangsa yang serba multi etnis, suku, adat istiadat, agama, yang hanya bisa disatukan dengan Pancasila.

“Inti dari Nasionalisme kita adalah persatuan yang dilandasi kemanusiaan yang adil dan beradab jelas bukan Nasionalisme yang dijiplak dari luar bangsa kita.Nasionalisme kita dari Republik Indonesia dengan tegas menolak Chauvinisme itu. Maka itu di samping sila kebangsaan dengan lekas-lekas kita taruhkan sila perikemanusiaan.” (Pancasila sebagai dasar negara, hlm. 64).

“Nasionalisme yang sejati, nasionalismenya itu bukan semata-mata tiruan dari Nasionalisme Barat, akan tetapi timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan.” (Di bawah bendera revolusi, hlm. 5).

Realitasnya kita telah copy paste dari asing yang serba Liberal Kapitalis, akibatnya bangsa ini sudah kehilangan kedaulatannya, bukan hanya soal beras dan kebutuhan hidup yang diimpor, kuli bangunan, dosen sampai rektor sudah di impor dari China.

BERADA DI TITIK NADIR DIUSIA 80 TAHUN

Begitu di titik nadirnya bangsa ini di usianya yang ke 80 tahun tidak merdeka lagi. Kita tersandera dengan utang yang menggunung, gali lubang tutup lubang, bahkan untuk membayar utang harus utang lagi dan rakyat di peras dengan pajak. Dan hal seperti ini dianggap negara yang modern dengan demokrasi Liberal.

Apa masih ada rasa kecintaan kita pada bangsa dan negara ini? Apa masih ada rasa bangga menjadi bangsa ini dan apa masih ada kedaulatan bangsa ini sebagai bangsa yang merdeka? Semua pertanyaan di atas bergelantung pada situasi di mana demokrasi dengan unjuk rasa yang menjadi amuk masa.

Para Elite politik merasa pongah karena sudah menenangkan pemilu dan duduk menjadi anggota DPR dengan ketenaran karena artus dan banyak uang yang biasa hidup glamor maka menghina rakyat seperti hal yang biasa.

DPR dianggap nya panggung yang bisa seenak nya dengan joget- joget di tengah rakyat kesulitan dalam hidup nya dengan seenak nya fasilitas kemewahan di berikan pada anggota DPR menanbah muak nya rakyat terhadap DPR.

Oleh sebab itu ada perlawanan rasa nya tanpa perlawanan tidak akan terjadi perubahan. Tuntutlah perubahan seperti kembali kepada Pancasila dan UUD 1945 Sebagai jatidiri bangsa tentu tidak bisa diabaikan sebab jika ini diabaikan akan terjadi tusnami politik yang lebih besar bisa terjadu Revolusi.

Jika tidak ingin anak cucu kita menjadi kuli di negeri nya sendiri dan jika tidak ingin dijajah lagi bergeraklah dan rebutlah kedaulatan rakyat dan kembali pada Pancasila dan UUD 1945.

KAPAL PERSATUAN TELAH OLENG

Rupanya kapal persatuan itu telah oleng dan bocor akibat badannya persatuan telah digerogoti oleh Individualisme dan Liberalisme. Amandemen UUD 1945 telah mengingkari salah satu prinsip yaitu persatuan Indonesia.

Hari ini kita mundur jauh ke belakang bahkan sebelum Indonesia merdeka sebab kita tidak meletakkan negara sebagai alat perjuangan. Kita kembali pada partai politik yang justru menjadi alat pecah belah dan alat merebut kekuasaan demi dinasti politik, demi kekuasaan para pendiri dinasti politik.

Rakyat hanya menjadi obyek politik di mana suara rakyat ditukar dengan sembako dan uang receh dan “amanat penderitaan rakyat ” tidak lagi menjadi alat pijak perjuangan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kita berada pada demokrasi para borjuis yang serba mahal dan serba post truth, menghalalkan segala cara demi kekuasaan. Sistem politik tidak lagi memperkuat persatuan bangsa justru dengan demokrasi liberal ala partai politik terjadi pecah belah terhadap bangsa dan hilangnya tata nilai Pancasila.

KESIMPULAN

Rasa kebangsaan dan rasa Nasionalisme kita tergerus oleh pragmatisme sesaat yang hanya menguntungan individu dan golongan saja. Pragmatisme menjalar ke seluruh tubuh bangsa dan negara. Menjalankan negara hanya dilihat dari untung dan rugi.

Akibatnya semua kita gantungkan pada impor. Dari infrastruktur sampai kebutuhan makan kita impor. Di negara maritim yang mempunyai bentangan laut yang sangat luas, kita impor ikan, padahal sejatinya nenek moyang kita adalah pelaut.

Di usia yang ke-80 tahun Indonesia, sudah saatnya kita menemukan kembali keindonesiaan kita, temukan kembali jati diri bangsa.Kita kembalikan Pancasila dan UUD 1945 asli untuk merajut keindonesiaan kita, rakyat harus bergerak menuntut dikembalikan Pancasila dan UUD 1945 asli, jika kita masih menginginkan Indonesia lebih baik ke depan.

Terus bergeraklah demi masa depan bangsa masa depan anak cucu kita agar anak cucu kita tudak menjadi budak di negeri nya sendiri. Semoga Allah memberikan barokah dalam perjuangan Mahasiswa ditanganmu lah 280 Juta rakyat mengantungkan nasib nya.

-Atma_


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca