
Penyimpangan Konstitusi dan Runtuhnya Rezim Soekarno
Diawali dengan runtuhnya rezim Soekarno yang menandakan pencapaian sebagian dari cita-cita revolusi, ini tentang amanat akan terciptanya negara kesatuan yang utuh dari Sabang sampai Merauke. Fase sejarah keberhasilan Indonesia dalam menarik sepenuhnya wilayah yang sempat diduduki oleh Belanda, melalui operasi Mandala maka terbebaslah Irian Barat dari cengkeraman tangan kolonialisme Belanda.
Konfrontasi Dengan Malaysia
Setelah terintegrasinya seluruh wilayah Indonesia, sudah sepatutnya bagi sebuah bangsa untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Namun ambisi besar Soekarno justru menyeret Indonesia menuju agenda lain, yakni konfrontasi dengan Malaysia.
Sebuah komando perang yang sebenarnya telah melenceng dari garis perjuangan yang diamanatkan undang-undang, tak ayal kebijakan ini menuai pertentangan internal. Beberapa pihak menilai bahwa konfrontasi dengan Malaysia adalah langkah yang tidak jelas urgensinya, karena seluruh wilayah Indonesia yang dideklarasikan sejak awal meliputi seluruh wilayah bekas Hindia Belanda telah sepenuhnya berada dalam kendali pemerintahan Soekarno. Sedangkan Malaysia bukanlah bagian dari Hindia Belanda.
Dalam sebuah pembicaraan, Jenderal A.H. Nasution mengutarakan gagasan agar Indonesia memfokuskan pada agenda pembangunan nasional. Sebuah saran yang diamini oleh mayoritas elemen politik Indonesia, terkecuali Presiden Soekarno dan PKI.
Selain konfrontasi akan menyedot anggaran yang sangat besar, Nasution menilai bahwa sudah waktunya Indonesia melangkah menuju program yang berorientasi pada pengentasan kemiskinan rakyatnya.
Berbeda dengan Nasution, Soekarno justru neo-kolonialisme di Malaysia adalah ancaman keamanan yang nyata bagi kedaulatan negaranya. Menyiratkan bahwa Soekarno tak ingin negara ini keluar dari status darurat perang. Muncul kecurigaan di sebagian kalangan bahwa proyek konfrontasi dengan Malaysia adalah taktik Soekarno untuk tetap mempertahankan kekuasaannya.
Kendati seperti itu, ABRI dibawah komando Nasution tetap melaksanakan perintah Dwikora, meskipun hanya setengah hati.
Provokasi PKI
Gelagat ini dimanfaatkan oleh PKI untuk menjalankan agendanya, yakni mengkomuniskan Indonesia. PKI terus menghembuskan isu-isu yang bernuansa provokatif, berusaha meningkatkan tensi politik agar kedekatan Soekarno dan ABRI menjadi tidak lagi harmonis.
PKI sadar bahwa jika Indonesia menghentikan politik konfrontasinya, maka pembangunan akan terlaksana dan rakyat semakin sejahtera. Sementara Komunisme tidak akan bisa tumbuh di tengah kondisi masyarakat yang sejahtera. Artinya mimpi PKI akan terhenti, dan Aidit tidak ingin itu terjadi. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, Aidit lalu memerintahkan pasukan se-ideologinya untuk melakukan kudeta berdarah dengan target melumpuhkan Angkatan Darat sehingga tidak ada lagi kekuatan yang bisa menghalangi cita-cita PKI.
Kudeta militer yang dikenal sebagai G30S/PKI itu awalnya berhasil mencapai beberapa target, namun beberapa kegagalan operasi membuat upaya tersebut mengalami kegagalan dalam waktu yang cukup singkat. Lolosnya Nasution dan perlawanan dari Mayjen Soeharto yang diluar prediksi, berhasil mengacaukan rencana Aidit.
Meskipun terkejut dengan tindakan PKI, Soekarno lebih memilih bersikap pasif dan mengupayakan agar pengkhianatan PKI itu dipandang sebagai riak kecil dalam gelombang revolusi Indonesia, sikap itu membuat berbagai pihak kecewa dan menyebabkan melemahnya dukungan politik terhadap Soekarno.
Sikap Soekarno yang memilih mempertahankan PKI, membuat rakyat marah dan berujung pada kejatuhan kabinetnya. Melalui Sidang Umum MPRS, mandat kepemimpinan Soekarno dicopot dan digantikan oleh Jenderal Soeharto selaku pengemban Supersemar.
Perubahan rezim tentu saja menghasilkan perubahan kebijakan, sesuai dengan harapan masyarakat Indonesia maka Presiden Soeharto mendeklarasikan berhentinya politik konfrontasi sekaligus memfokuskan pada agenda pembangunan.
Selanjutnya nantikan “KRONIK ’98: PERJUANGAN ATAU PENGKHIANATAN..⁉️ (Bag 2)”
Serial artikel ini diangkat dari paparan sejarah oleh Pencinta Sejarah Tanah Air (PEJANTAN)
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
2 thoughts on “KRONIK ’98: PERJUANGAN ATAU PENGKHIANATAN..⁉️ (Bag 1)”