Oktober 9, 2026

Lanjutan KRONIK ’98: PERJUANGAN ATAU PENGKHIANATAN⁉️ (Bag 1)

Dampak Positif Kebijakan Soeharto

Perubahan arah kebijakan yang diterapkan oleh Presiden Soeharto berdampak positif pada perekonomian, tak tanggung-tanggung pertumbuhan ekonomi mencapai 7% tiap tahunnya. Hal ini juga ditopang dengan politik luar negeri yang beralih dari Blok Timur ke Blok Barat, membawa kepercayaan publik internasional terutama negara-negara aliansi NATO akan iklim investasi di Indonesia.

IGGI

Hal tersebut tergambar pada terbentuknya Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), sebagai ormas internasional tentunya IGGI tidak pernah bertikai dengan ormas lainnya dalam rangka perebutan lahan parkir. IGGI mengkonsolidasikan potensi ekonomi dari negara-negara maju untuk membantu Indonesia mencapai pembangunan ekonomi.

Hal tersebut tergambar pada terbentuknya Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), sebagai ormas internasional tentunya IGGI tidak pernah bertikai dengan ormas lainnya dalam rangka perebutan lahan parkir. IGGI mengkonsolidasikan potensi ekonomi dari negara-negara maju untuk membantu Indonesia mencapai pembangunan ekonomi.Angka bantuan yang diberikan oleh IGGI mencapai 4 Miliar US$, jumlah tersebut dicairkan secara bertahap sesuai dengan MOU yang telah disepakati dengan pemerintah Indonesia. Bantuan ekonomi yang mengalir deras, membuat roda perekonomian Indonesia melaju pesat. Berbagai program pembangunan infrastruktur semakin mempercepat kebangkitan ekonomi nasional. Kepercayaan pelaku pasar internasional terhadap program ekonomi yang dijalankan oleh Presiden Soeharto menghasilkan investasi asing yang sangat besar, baik dalam bentuk hutang luar negeri maupun hibah pembangunan infrastruktur.

Angka bantuan yang diberikan oleh IGGI mencapai 4 Miliar US$, jumlah tersebut dicairkan secara bertahap sesuai dengan MOU yang telah disepakati dengan pemerintah Indonesia. Bantuan ekonomi yang mengalir deras, membuat roda perekonomian Indonesia melaju pesat. Berbagai program pembangunan infrastruktur semakin mempercepat kebangkitan ekonomi nasional. Kepercayaan pelaku pasar internasional terhadap program ekonomi yang dijalankan oleh Presiden Soeharto menghasilkan investasi asing yang sangat besar, baik dalam bentuk hutang luar negeri maupun hibah pembangunan infrastruktur.Masifnya dukungan dari masyarakat internasional menjadikan pemerintahan Presiden Soeharto sebagai salah satu rezim di dunia yang dipercaya bisa bekerjasama dalam mengelola investasi.

Masifnya dukungan dari masyarakat internasional menjadikan pemerintahan Presiden Soeharto sebagai salah satu rezim di dunia yang dipercaya bisa bekerjasama dalam mengelola investasi.

Swasembada Pangan, Indonesia Menohok Eksportir Pangan

Pemerintahan Presiden Soeharto terus mengukir prestasi, pada tahun 1985 dunia dikejutkan dengan pencapaian Indonesia dalam hal swasembada pangan. Bahkan WHO mengakui hal tersebut dan memberikan apresiasi, artinya Indonesia tidak lagi menyandarkan kebutuhan pangannya pada impor. Ketahanan pangan ini tentu saja berimplikasi pada penghematan devisa negara, sehingga APBN bisa difokuskan pada sektor pendidikan dan teknologi. Sebuah pencapaian yang belum bisa dilakukan di era pemerintahan berikutnya.

Selain itu guna memaksimalkan pemerataan pembangunan, Pak Harto juga meluncurkan program transmigrasi. Alhasil tanah negara yang terbengkalai bisa dimanfaatkan menjadi lahan produktif, hal ini juga menjadi faktor yang mempercepat terealisasinya swasembada pangan.

Di sisi lain, tercapainya swasembada pangan di Indonesia tak serta merta membuat pasar bahan makanan dunia tersenyum. Para negara eksportir pangan harus gigit jari, mengingat mereka kehilangan market terbesarnya di Asia Tenggara. Bahkan surplus pangan di Indonesia membuat mereka kini menghadapi pesaing baru dalam hal perdagangan komoditi pertanian. Hal ini sekaligus menutup kemungkinan bagi negara-negara maju untuk menekan Indonesia melalui sektor pangan.

Wajib Belajar 9 Tahun dan Pembangunan Teknologi

Tak hanya mencukupi urusan perut rakyatnya, pemerintahan Pak Harto juga mulai menggalakkan pembangunan masif di bidang pendidikan dan teknologi. Wajib belajar 9 tahun terus digenjot melalui pembangunan ribuan Sekolah Dasar melalui Inpres No 10 tahun 1973. Program ini berhasil menghapuskan angka buta huruf di Indonesia.

Di bidang teknologi juga dilakukan pembangunan melalui berbagai riset dan pengembangan, terutama sektor pertanian dan perikanan. Sektor pembangunan infrastruktur fisik juga mencatat prestasi melalui program Listrik Masuk Desa, sehingga masyarakat di pelosok dapat menikmati pasokan listrik dengan harga relatif murah.

Di bidang otomotif agak mengalami hambatan, pasalnya produsen kendaraan yang didominasi oleh perusahaan Jepang enggan menyertai bisnisnya dengan program Transfer’ of Technology.

Kalangan pelajar dan mahasiswa menyerukan protes agar pemerintah Indonesia menekan Jepang agar tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar produk otomotif mereka, namun harus juga memberikan kompensasi berupa alih teknologi. Puncaknya terjadi peristiwa Malari yang menyebabkan kerusuhan di sela-sela kunjungan kenegaraan PM Jepang ke Jakarta.

Jangan berhenti untuk tahu hanya sampai disini, lanjutkan menyelami fakta sejarah dalam episode KRONIK ’98: PERJUANGAN ATAU PENGKHIANATAN⁉️ (Bag 3).

JASMERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Salam, Semut Ibrahim Mediatama


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

3 thoughts on “KRONIK ’98: PERJUANGAN ATAU PENGKHIANATAN⁉️ (Bag 2)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca