Oktober 9, 2026
Ilustrasi foto (red)

Semut Ibrahim | Jakarta – Membaca laman FOI (Face of Indonesia) yang diposting beberapa hari yang lalu, sungguh membuat hati miris. Berbagai kenyataan gelap yang terjadi di Indonesia ini, ternyata tak hanya soal politik yang semakin sakit, tapi juga kondisi sosial yang ternyata semakin membahayakan bagi kelangsungan anak cucu kita.

FOI menulis hasil survey Pew Research Center di Indonesia, yang menunjukkan penurunan signifikan dalam keterlibatan masyarakat terhadap agama, yang dia capture sebagai The Battle Against Faith.(Perang melawan iman : Mengganti mortalitas dengan kapitalism).

Penurunan keterlibatan terhadap agama ini ditandai dengan semakin banyaknya individu yang berpaling dari nilai-nilai tradisional menuju perubahan sosial yang materialistik-hedonis sebagai orientasi hidup, menggantikan moralitas berbasis iman. Tanpa landasan moral yang jelas banyak orang terjebak dalam pencarian kesenangan dan kekayaan, yang mengarah pada krisis spiritual dan lebih rentan terhadap manipulasi. Erosi nilai-nilai agama membuka jalan bagi masyarakat yang lebih terfragmentasi dan kehilangan arah.

Face of Indonesia (FOI) juga meng-capture fakta-fakta yang diantaranya sbb :

The Urban Trap

The urban trap : kehidupan individualis, materialisme, dan mengejar setatus sosial.

Kehidupan sosial masyarakat yang tadinya menjangkiti kota-kota besar sebagai urban trap pun sekarang merambah hampir di segala lini masyarakat dan bahkan pedesaan, akibat menjamurnya sosmed dan rapuhnya penjagaan kultural. Masyarakat mulai ikut terperangkap dalam pola individualistik, berorientasi materialisme, dan mengejar status sosial. Fokus utama orang-orang cenderung pada pencapaian pribadi, kekayaan dan pengakuan sosial, sehingga mengabaikan hubungan sosial yang mendalam. Isolasi sosial meningkat, karena kesibukan bekerja dan konsumsi, mengurangi rasa kebersamaan dan ikatan komunitas. Hal ini juga terkonfirmasi dari kebutuhan validasi individual yang terus meningkat di medsos, sehingga banyak yang sadar atau tidak sadar terjangkit syndrome NPD (Narcissistic Personality Disorder).

Mc Donalizatinon of Education

Konsep Mc Donalizatinon of Education diperkenalkan oleh George Ritzer dalam the MC Donalizatinon of Society, yang menggambarkan bagaimana prinsip-prinsip yang digunakan dalam industri makanan cepat saji ini (: seperti efisiensi, kalkulabilitas, predikbilitas, dan kontrol), telah menginfiltrasi sistem pendidikan. Dalam konteks ini, pendidikan menjadi mekanis, berorientasi pada hasil cepat, dan mengorbankan pembelajaran mendalam demi hasil yang dapat diukur dengan mudah, seperti nilai ujian atau gelar.

Only Fans

Di Indonesia, Only Fans menjadi platform dimana perempuan memamerkan tubuh untuk mencari perhatian, like, and follow, sambil berharap mendapatkan keuntungan finansial. Meskipun tampak sebagai cara untuk meraih kebebasan (feminisme), hal ini lebih kepada eksploitasi yang mengobjektifikasi perempuan.

Tren ini memperburuk pandangan masyarakat yang menilai perempuan hanya dari penampilan fisik, sehingga mengabaikan kecerdasan dan kemampuan mereka. Ini mencerminkan eksploitasi digital yang merendahkan martabat dan harga diri perempuan.

Porn Pandemic

Laman Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan tingginya akses konten pornografi, terutama dikalangan anak muda. Fenomena ini merusak pandangan tentang hubungan, cinta, dan keintiman, serta melemahkan pondasi keluarga yang sehat. Kecanduan terhadapnya membuat individu kehilangan kemampuan menjalin hubungan autentik. Menciptakan generasi yang mati rasa, terisolasi, dan jauh dari keintiman sejati. Jika dibiarkan dampaknya akan menciptakan krisis moral dan sosial yang serius.

Warning for us !

Pada 476 M, Kekaisaran Romawi runtuh bukan hanya karena invasi, tetapi juga akibat korupsi, ketamakan, dan nafsu birahi serta hilangnya moralitas. Hal yang serupa juga telah diinformasikan oleh banyak ayat di dalam Al Qur’an sebagai Khabar shodiq. Namun fenomena serupa terlihat hari ini : korupsi yang masiv, hoaks, penyalahgunaan wewenang, kolusi, ketidakadilan hukum, dan hasrat tanpa kendali mengancam kondisi bangsa.

Pertanyaannya : Apakah kita mau belajar dari sejarah atau mau mengulanginya?

Dan bagi kita yang di persyarikatan Muhammadiyah (tanpa bermaksud mengecilkan peran dakwah siapapun), secara introspektif tentu ada pertanyaan : Dakwah berkemajuan kita telah sampai mana menghadapi gempuran-gempuran social damage yang terus berlangsung di tengah masyarakat kita itu?

Wallahua’lam..

Oleh : Arifien M, Pemerhati sosial kemasyarakatan

*) sumber : IG_FOI, dengan beberapa gubahan.


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca