Oktober 9, 2026
Mar’i bin Amude Alkatiri dan Anies Rasyid Baswedan

Meritokrasi menurut Michael Young dalam Rise of the Meritocracy:

Meritokrasi adalah istilah dari proses promosi dan rekrutmen karier berdasarkan kemampuannya bukan koneksinya, kemampuan di sini meliputi dari kinerja dan prestasi seseorang dalam berkarier.
Sehingga koneksi atau identitas yang dimiliki seseorang, tidak menjadi ukurannya.
Identitas yang dimaksud ialah mulai dari latar belakang etnis, koneksi, atau status sosial. Salah satu negara yang sejak lama menerapkan meritokrasi ialah Jepang, tepatnya sejak Restorasi Meiji.

Fenomena Transformasi Politik Militeristik Menuju Meritokrasi

Ada yang berpendapat sinis mengatakan bahwa “Sikap dukungan Politik dan Penerimaan Masyarakat Papua” terhadap Anies Baswedan hanya gimmick kampanye saja.

Mereka yang menuduh demikian kali ini justru membawa isue politik identitas dengan mengatakan, “Papua 70% Kristen dan Katolik tak mungkin mendukung Anies yang muslim, mestinya pasti mendukung  Prabowo, karena Prabowo ibunya beragama Kristen”.

Tuduhan ini sungguh menggelikan sekaligus memalukan karena pikiran mereka begitu picik dan buta literasi.

Mereka pasti tidak kenal dengan Mar’i bin Mude Alkatiri, Perdana Menteri Timor Timur yang dilantik pada Tahun 2002 dan 2017.

Mar’i bin Mude Alkatiri adalah seorang Arab Hadhrami dan berasal dari suku Al-Kathiri, cabang yang memerintah kesultanan Kathiri di Hadhramaut, yang sekarang menjadi bagian dari Yaman.

Dibandingkan dengan Papua yang 70% Kristiani, penduduk Timor Leste justru 99% lebih adalah penganut agama Kristiani.

Lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa rakyat Timor Leste sampai dua kali menerima Mar’i bin Alkatiri sebagai Perdana Menteri Muslim di negara yang 99% penduduknya beragama Kristen..?

Alasan yang paling utama adalah karena rakyat Timor Leste telah begitu trauma dengan politisi dan pendekatan politik yang berkarakter militeristik. Alasan ini serupa dan begitu identik dengan psikologis masyarakat di Papua.

Jadi tidak mengherankan jika masyarakat Papua merindukan pemimpin Indonesia yang mampu memahami psikologis penduduk Papua yang trauma terhadap pendekatan militeristik dan melihat Anies Baswedan sebagai figur identik dengan apa yang dilihat oleh rakyat Timor Leste pada sosok Mar’i bin Mude Alkatiri.

Jadi sungguh sangatlah Primitif menebarkan isue politik identitas agama di Papua jika modusnya hanya ingin menjauhkan masyarakat Papua dari Anies Baswedan, ini fakta yang tak bisa ditampik.

Pembangunan di Papua mungkin masih jauh tertinggal dibandingkan dengan kota besar lainnya di Indonesia, tapi pemikiran warganya jauh lebih maju dan beradab dari pada isi kepala mereka yang mengaku pintar dan beradab, tapi ternyata bar-bar dan primitif, rela menjual murah integritas serta akal sehatnya demi menghidupkan kembali politik otoritarian dan politik represif yang berbau militeristik.

Harusnya kita malu dengan saudara-saudara kita yang ada di Papua. Karena meski mereka jauh dari pusat Ibu Kota Negara yang unggul dalam beragam infrastruktur, tapi mereka mampu memahami dan menghargai regenerasi kepemimpinan secara demokratis berdasarkan meritokrasi. Sedang kita yang berada di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera ini justru masih banyak yang terjebak dalam regenerasi gaya kepemimpinan otokratis yang dibangun berlandaskan neo feodalistik.

Penulis : Nazlira Alhabsy

Editor : Bam’s


Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca