
Beliau lalu bilang ;
“Ada satu lagi yang belum kamu sebut. Kamu tahu, tapi gak disebut karena kamu merasa itu tidak mungkin.”
Dok, Tolong Saya
Sore itu kami kedatangan pasien, laki-laki umur 30-an, pucat, dan muntah terus-menerus. “Dok, tolongin saya,” ucapnya sambil gemetaran memegang tanganku. Terus, “Oweeeek!” Dia muntah lagi ke plastik yang dia bawa, “Perut saya sakit banget, Dok, sakiiit,” ucapnya sambil meringis.
Aku cek perutnya, keras! “Saya lemas, Dok,” terus dia merem. Aku bangunin. “Pak bisa kentut? Bisa BAB enggak?”
“Enggak, Dok. Apa pun yang saya makan dan minum keluar lagi,” keluhnya.
“90/50,” kata Gilang sambil melepaskan Sphygmomanometer.
Mata celong, nadi meningkat. Ini dehidrasi berat. “Lang, kita pasang infus, kateter urin dan pasang NGT.” ucapku mirip gaya Scarlett yang sebelumnya sering menyuruhku.
“Pak udah berapa lama kayak gini?” Tanyaku ke pasien yang masih meringis menahan sakit.
“Udah rada lama dan makin sakit Dok. Saya petani jadi gak bisa kerja karena demam naik-turun.” ucap pasien sambil meringis lagi.
Kemudian aku keluarkan stetoskop untuk mendengarkan paru-paru dan perutnya. Dengan seluruh gejala dan tanda yang ada, aku diam, hening sekejap sambil memejamkan mata, lalu otakku seperti memancarkan diagram mind mapping segala kemungkinan diagnosis penyakit ke depan mataku. Siap mensortir.
Ileus Obstruktif
Aku selalu menikmati momen seperti ini, Kadang ada belasan diagnosis banding yang terpancar dari otak. Tanganku lalu seperti bergerak di layar transparan. Memilah dan menyingkirkan diagnosis-diagnosis apa yang mungkin, apa yang tidak mungkin. Aku membuka mata, “Ini ileus obstruktif.” Ku telepon konsulen untuk konsul, dapat perintah operasi cito laparotomi eksplorasi (buka perut).
Kemudian aku masuk ruang operasi yang dingin dengan posisi tangan di depan dan ditekuk ke atas seperti sedang berdoa, karena tangan tidak boleh dalam posisi lebih rendah dari pinggang. Aku pakai baju operasi yang mirip seperti baju handuk tapi terbalik. Aku lalu memakai handscoon steril ukuran 8,5 dan berdiri di sebelah kanan pasien. Sebagai asisten operator, konsulen datang, dan berdiri di sebelah kiri pasien.
“Hei, Gia, sudah siap?” tanyanya.
“Sudah, Dok.”
“Oke, mulai, ya.”
Beliau ‘menggaris’ perut pasien dengan pisau scalpel dari batas ujung tulang dada ke perut bagian bawah. “Bagus ini gak banyak lemak perutnya, langsung terlihat ototnya,” kata beliau. Aku megang kasa sambil dep-dep pendarahan.
Tiba-tiba beliau bertanya, “Gi, kamu pernah merasa hampa di dalam?”
Aku kaget lalu menjawab, “Pernah, Dok, baru saja.”
“Hahahaha, aku kasih tahu, ya. Harusnya bukan ‘baru saja’ kamu hampanya. Kamu bayangkan anatomi manusia. Coba kamu mendongak, buka mulutmu. Itu rongga mulut, lanjut ke esofagus, lambung, usus kecil, dan usus besar sampai ke dubur.”
Aku membayangkan sejenak.
“Itu rongga yang dikelilingi tubuh manusia. Jadi, Gi, kita ini, DONAT Panjang! Hahahaha,” beliau tertawa sampai perutnya ikut bergoyang. Aku juga engak kuat nahan tawa sambil menyadari. Iya, juga ya, ternyata kita ini memang dari dulu hampa dan bolong di tengah, gumamku dalam hati.
Beliau melanjutkan, “Gi, diagnosis ileus obstruktif itu artinya ada yang menyumbat rongga usus sehingga makanan dan minuman tidak dapat masuk. Menurut kamu apa penyebab ileus obstruktif pasien ini?” tanya beliau seperti sedang memberikan ujian lisan.
“Macam-macam Dok, kemungkinannya, bisa jadi intususepsi (usus menelan usus), volvulus (usus terpuntir terikat), tumor usus, atau hernia inkarserata.” jawabku
Beliau lalu bilang, “Ada satu lagi yang belum kamu sebut. Kamu tahu, tapi gak disebut karena kamu merasa itu tidak mungkin.”
Deg….!, mak Jleb. Aku kena vonis.
Beliau meraba-raba usus dengan kedua tangannya secara saksama, tiba-tiba, di salah satu bagian usus, beliau mendongak menatapku tajam dan bilang dengan tegas, “Jangan pernah menghapus kemungkinan diagnosis hanya karena kamu belum pernah melihatnya!”
Tangan kiri beliau memegang usus yang sedikit teregang seperti memegang paralon ukuran sedang, sedangkan tangan kanannya menyayat usus itu sepanjang 10 cm. dari lubang akutan itu tampak gumpalan berwarna pastel seperti tumpukan spageti tebal. Di salah satu ujung akutan muncul kepala-kepala kecil.
Spageti itu bergoyang-goyang, hidup, meronta-ronta, saling menggulung satu sama lain.
“Ascaris lumbricoides!” aku menjerit.
“Forceps!” Jerit beliau, aku berikan forceps lalu dengan ketenangan luar biasa, beliau menjapit keluar puluhan cacing besar dengan panjang belasan centimeter berkali-kali. Migrasi paksa koloni cacing dari usus pasien ke mangkuk stainless steril.
My Signature
Aku sedikit bergidik saat melihat mangkok yang penuh cacing hidup yang terus bergerak bebas seperti baru lepas dari penjara. Walau di “penjara” itu mereka sudah hidup dan berkembang biak dengan santainya. Bahkan, seekor cacing betina dapat bertelur hingga sekitar 200.000 telur per harinya. Telur yang telah dibuahi berukuran 50-70 x 40-50 mikron. Telur inilah awal mula mereka masuk ke tubuh manusia.
Aku periksa usus bagian lain, semua sudah bersih.
“Ini baru bersih dari cacing dewasa,” kata beliau.
“Masih banyak telur dan larva yang tidak dapat kita deteksi, kita tetap perlu kasih obat cacing pasca operasi. Inilah salah satu bukti pentingnya menjaga kebersihan diri untuk mencegah penyakit-penyakit seperti ini.”
“Alhamdulillah selesai, aku tinggal, ya, Gia. Ada operasi lain. Kamu yang jahit kulitnya, tapi yang rapi, ya. Jahitan itu signature kamu,” ucap beliau sebelum pergi.
Keesokan harinya, aku mengunjungi bapak itu di ruangan. Aku disambut dengan sangat ceria, matanya berbinar-binar. Dia menyalamiku dengan dua tangan, “Hatur nuhun pisan, sekarang saya bisa makan enak, minum enak, buang air besar lancar, gak sakit lagi perutnya.”
Aku tersenyum bahagia. Melihat dan merasakan kebahagiaan dan keceriaan pasien yang telah sembuh itu tidak bisa dinilai dengan uang.

Cerita non fiksi ini di tulis oleh dr. Gia Pratama, seorang dokter muda dan penulis buku. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi ini menyebut profesi dokter yang dilakoninya sebagai pengabdian bagi kemanusiaan.
Kepada pecinta diksi bisa menyelami kumpulan cerpen original di sini, atau jika pembaca tertarik dengan sajak bisa membaca lautan sajak di sini.
Salam, Semut Ibrahim.
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
1 thought on “Spaghetti Itu, Ascaris Lumbricoides”