
5 Maret 1988. Tepat diusianya yang ke-51, dokter Padmosantjojo atau biasa di sapa dengan dr. Padmo, berhasil menangani operasi kembar Siam, Yuliana – Yuliani. Kepala Bagian Saraf FKUI/RSCM tersebut, selanjutnya menjadi orangtua angkat kedua anak kembar asal Provinsi Riau ini. Anak dari Hartini dan Tularji.
“Pakdhemu datang, nak”, kata Hartini, ibu Yuliana – Yuliani, beberapa hari setelah mereka “dipisahkan”.
Sang ayah, Tularji, tak bisa menahan air mata bahagia. Yuliana dan Yuliani riang memandang “pakdhe” Padmo yang baik hati itu. Yuliana, Yuliani, Hartini, Tularji dan dokter Padmo terlihat begitu gembira. Beberapa saat kemudian, dokter Padmo mulai mengguntingi benang-benang kecil di kepala Yuliana dan Yuliani secara bergantian. Si kembar ini menangis. Tapi hanya sebentar. Dokter Padmo begitu pandai membujuk Yuliana-Yuliani. Setelah itu, mereka tertawa kembali.

Demikian, penggalan tulisan pendek, disebuah kliping majalah Tempo (lusuh), yang dibaca adinda Ilham Fadli dosen UIN Imam Bonjol yang sangat piawai dalam menuliskan sejarah yang sepi dalam pemberitaan.
Sejarah hidup Yuliana – Yuliani pun, mengalir. Yuliani menjadi dokter tamatan FK Universitas Andalas Padang, dan Yuliana menjadi Doktor Nutrisi jebolan IPB Bogor. Dalam asuhan dan pembiayaan dr. Padmo, dokter yang baik hati ini.
Tangan dokter Padmo, begitu indah.
Balada sebuah masterpiece.
Foto #1 : (c) Tempo, Maret 1988.
Anda penikmat diksi? Anda bisa menyelami kumpulan puisi disini.
Eksplorasi konten lain dari Semut Ibrahim Mediatama
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.